Diplomasi Politik Lewat Pakaian

Presiden Barack Obama dan Ibu Negara Michelle Obama saat tiba di Reception Kennedy Center Honors di Gedung Putih di Washington 6 Desember 2015. REUTERS
Oleh: Aulia Adam - 17 Januari 2017
Dibaca Normal 4 menit
Mereka tidak berbicara langsung mengenai kondisi politik terkini. Mereka berbicara lewat pakaian yang dikenakan. Ada Michelle Obama, Melania Trump, juga Presiden Jokowi dan Sukarno.
“Kalau kau tahu semua orang akan memperhatikan apa yang kau kenakan lalu mengkritisinya, lantas yang kaukenakan menjadi sesuatu yang penuh makna,” tulis Vanessa Friedman, dari The New York Times.

Kutipan di atas diambil dari tulisannya yang mengupas tentang politik di balik pilihan-pilihan pakaian Michelle Obama selama menjabat gelar Ibu Negara. Menurut Friedman, dalam tulisan berjudul “Apa yang Michelle Obama Kenakan dan Kenapa Itu Penting”, Michelle adalah Ibu Negara Amerika Serikat pertama sekaligus satu-satunya figur politik yang benar-benar menggunakan pakaiannya sebagai salah satu perkakas diplomasi politiknya.

Pilihan pakaian Michelle sering kali dilabeli sebagai Sartorial Diplomacy alias Diplomasi Penjahit. Hal ini bisa digambarkan dari sejumlah pakaian yang ia kenakan untuk kunjungan ke luar negeri. Misalnya, ia menggunakan rancangan karya Naeem Khan, seorang perancang pakaian keturunan Amerika-India saat berkunjung makan malam ke India; menggunakan pakaian karya Tom Ford, seorang perancang pakaian asal Amerika yang tinggal di London, ketika makan malam dengan Ratu Elizabeth II di Buckingham Palace.

Tak pernah ada kebetulan dalam cara berpakaian Michelle Obama sejak ia menyandang gelar Ibu Negara. Seperti saat ia mengenakan gaun rancangan Gucci, perancang ternama dari Italia untuk menghadiri ajang penghargaan Kennedy Center Honors, di hari yang sama ketika Italia sedang melakukan voting referendum untuk menurunkan Perdana Menterinya, Matteo Renzi, tahun lalu. Tak ada kebetulan di sana.

Friedman mencatat, tak pernah peran pakaian bisa begitu manis dimainkan sebagai selipan pesan politik di pemerintahan presiden manapun, selain dua periode terakhir ketika Obama berkuasa. “Lemari pakaiannya adalah representatif dari (potret) negara yang suaminya ingin pimpin,” tulis Vanessa. Sekaligus, “Memperkuat agenda suaminya.”

Alih-alih menggunakan satu saja perancang pakaian langganan seperti yang dilakukan Ibu Negara pendahulunya, Michelle malah hampir pernah memakai semua karya perancang ternama. Seolah-olah ia ingin mencitrakan kepribadiannya yang bebas, dan tak mau terikat pada satu citra saja.

Selama dua periode suaminya memerintah, Michelle telah memakai karya Carolina Herrera, Narciso Rodriguez, Michael Kors, Maria Cornejo, Thom Browne, Isabel Toledo, Jason Wu, Prabal Gurung, Donna Karan, Marc Jacobs, Oscar de la Renta, Ralph Lauren, Marchesa, Tom Ford, Vera Wang, Tadashi Shoji, Cushnie et Ochs, Tory Burch, Naeem Khan, Brandon Maxwell, Rodarte, Bibhu Mohapatra, Zac Posen, Barbara Tfank, Alexander Wang, Rag & Bone, Joseph Altuzarra, Tracy Reese, Monique Lhuillier, Thakoon, Christian Siriano, Calvin Klein, Sophie Theallet, Reed Krakoff, Diane von Furstenberg, Derek Lam, Gucci, Versace, Givenchy, Alaïa, Junya Watanabe, Christopher Kane, Roksanda, Moschino, Lanvin, Dries Van Noten, Alexander McQueen, Duro Olowu, Lanvin and Kenzo.

Ia tak seperti Jacqueline Kennedy yang setia pada Oleh Cassini, Nancy Reagan yang setia pada Adolfo dan James Galanoswith, atau Hilarry Clinton dan Laura Bush yang setia pada Oscar de la Renta.

Bahkan saat ia bertemu calon penggantinya, Melania Trump untuk pertama kali di Gedung Putih, Friedman mencatat ada pesan tersembunyi di balik gaun ungu bergaris oranye terang yang dipakai Michelle hari itu. Ungu tua itu digambarkan sebagai pesan bersatu untuk rakyat Amerika yang sempat terpecah karena pemilu. Ungu adalah gabungan warna biru yang melambangkan partai Demokrat—partainya Hillary Clinton, dan warna merah melambangkan partai Republikan—partainya Donald J Trump. Sementara oranye terang itu gambaran matahari yang jadi simbol era baru.

Dalam tulisan lain berjudul, “Saat Melania Trump Bertemu Michelle Obama, Pakaian Mereka Memang Sedikit Berbincang”, Friedman menggambarkan kegemaran Michelle Obama bermain dengan warna—untuk menunjukkan sikapnya, tanpa perlu bicara.

Misalnya, ketika Michelle mengenakan mantel biru tua dalam konvensi terakhir Hillary. Ia berpidato di sana dan memberi tahu khalayak bagaimana perasaannya terhadap kekalahan kandidat yang partainya usung—tak hanya melalui kata-kata, pun lewat warna biru tua pada pakaiannya.



Di era ini, tak hanya Michelle Obama yang dikenal rapi menyusun diplomasi politiknya dengan cara berpakaian. Dari bumi sebelah Timur, ada Presiden Joko Widodo yang sejak mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta sudah melampirkan pandangan politiknya dalam simbol-simbol tertentu, terutama pakaian.

Kemeja kotak-kotak yang lengannya digulung sempat jadi jualannya Jokowi dalam kampanye merebut kursi nomor satu Jakarta. Hal serupa kembali dilakukannya saat ia mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia, 2014 lalu.

Kemeja kotak-kotak yang diusungnya punya makna keragaman masyarakat yang akan dipimpinnya. Sementara, lengan yang digulung menggambarkan sikap pemimpin yang siap langsung turun bekerja. Kemeja ini sempat populer dan diproduksi ulang oleh pedagang lokal karena angka permintaan yang tinggi.

Belakangan, Jokowi seperti menemukan bakatnya menjadi trendsetter fashion. Kemeja kotak-kotak bukan barang pertama yang berhasil ia kampanyekan kemudian berbuah manis jadi komoditas. Sarung dan Jaket Bomber belakangan juga jadi identik dengan cara berpakaian sang presiden.

Foto dirinya memakai sarung sambil duduk di taman Istana Bogor pada malam tahun baru lalu atau malam tahun baru sebelumnya saat ia di Raja Ampat, menjadi viral. Selain punya pesan politik kalau presiden Indonesia adalah orang yang bangga pada budayanya sendiri, Jokowi juga punya niat sendiri untuk memopulerkan sarung agar nilai jualnya tinggi.

Sementara jaket bomber hijau tua yang ia kenakan saat konferensi pers di Istana Merdeka, November lalu, menggambarkan sifat kasual yang dimiliki Jokowi. Tahu jaket itu populer, ia kembali mempromosikan pedagang lokal tempat ia membeli jaket-jaketnya lewat Twitter.

Hal ini persis seperti yang dilakukan Michelle Obama. Selain berbicara lewat pakaian yang dikenakannya, Ibu Negara AS satu itu juga sengaja mempromosikan perancang-perancang pakaian dari negaranya sendiri agar dilihat publik dunia.

“Aku tak yakin orang-orang sebenarnya sadar perpanjangan apa yang sedang dilakukannya,” kata Tracy Reese pada The New York Times. Ia adalah perancang gaun sutra merah muda dan emas yang dikenakan Michelle pada konvensi Partai Demokrat 2012. Gaun itu laris dan jadi penjualan paling laku dari jenama milik Tracy Reese. “Semua itu (yang dilakukan Michelle) adalah demi kita (bangsa Amerika Serikat),” tambah Reese.

Michelle, yang dikenal sebagai aktivis pendidikan bahkan membawa fashion sebagai salah satu pekerjaan serius yang ia kampanyekan dalam setiap gagasan program pendidikannya. Ia menilai fashion jadi salah satu mata bisnis yang bisa menghasilkan karier cemerlang jika dikerjakan serius.

Dalam buku The Politic of Dress in Asia and The America’s, pakaian perwakilan negara di panggung internasional dalam perkembangannya memang berubah menjadi simbol, identitas, dan pernyataan politiknya. Baik secara disadari ataupun tidak, para tokoh-tokoh politik seringkali menggunakan pakaiannya sebagai sarana kampanye dan pernyataan politik. Politik pakaian ini berjalan sesuai dengan sejarah budaya yang terjadi di negara bersangkutan.

Buku ini mencontohkan Mahatma Gandhi dan Sukarno sebagai tokoh politik besar dari Asia.

Turban tradisional Gujarati milik Gandhi dianggap menggambarkan kesederhanaan dan kecintaan terhadap budayanya. Gandhi selalu memakai pakaian itu ketika berjumpa pejabat negara lain maupun masyarakat pecintanya. Ada pesan kalau pakaian tradisional pun setara dengan pakaian formal versi dunia Barat.

Sementara kopiah hitam Sukarno menggambarkan kewibawaan dan ketegasan, serta identitasnya sebagai muslim. “Sebuah simbol nasionalisme Indonesia,” tulis Mina Roces dan Louise Edwards pada bab pembuka.

Tak hanya di panggung nasional dan internasional, politik dalam pakaian pun sudah disadari pentingnya oleh politikus kampus. Dalam debat calon gubernur dan wakil gubernur Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, mereka yang menjadi kandidat pada hari itu menandaskan sikap politiknya dalam pakaian mereka.

Cagub nomor urut satu Christian Perdana Pakpahan-Tomy Tamba mengenakan pakaian hitam untuk memperingati dua tahun vakumnya Pemerintahan Mahasiswa (Pema) FISIP. “Ini tanda duka karena Pema FISIP yang sudah dua tahun tak ada,” ujar Christian, seperti dikutip dari suarausu.co.

Kandidat nomor urut dua Mujahid Widian Saragih dan Fritz Octo Saragih memakai baju kemeja kotak-kotak juga ikut memaknai pakaian yang mereka kenakan. “Ini representatif mahasiswa, kan biasanya pakai kemeja,” ujar Mujahid. “Dengan begitu lebih terlihat mana yang membawa kepentingan mahasiswa,” tambahnya.

Sementara kandidat ketiga, Jeffri Wanda dan Wiro Oktavius Ginting mengenakan jaket almamater saat debat. “Ini bentuk rasa kebanggaan kita terhadap almamater,” kata Jeffri.

Pakaian memang biasanya jadi medium paling gampang untuk diberi makna dan dijadikan senjata kampanye. Melalui cara berpakaian pula seseorang biasanya menyelipkan karakter dirinya. Maka, selain kebijakan, tawaran program kerja dan tetek-bengek lain yang seseorang tampilkan dalam panggung politiknya, pakaian agaknya jadi satu di antara yang lain yang penting diperhatikan.

Baca juga artikel terkait POLITIK atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Politik)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight