tirto.id - Komika Pandji Pragiwaksono telah selesai menjalani pemeriksaan di di Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (6/2/2026), terkait dugaan penistaan agama dari acara stand-up comedy bertajuk Mens Rea. Pemeriksaan itu berjalan sekitar delapan jam.
"Tadi dimulai kurang lebih dari jam 10.30 WIB lewat. Ada 63 pertanyaan, baru selesai kira-kira 5 menit atau 10 menit yang lalu," ujar pengacara Pandji, Haris Azhar, usai mendampingi pemeriksaan, Jumat.
Dia menerangkan, dari pemeriksaan yang dijalani Pandji Pragiwaksono, tim penyidik memberikan data-data lima pelapor dan satu pengadu. Pandji juga diminta menjelaskan mengenai penyelenggaraan Mens Rea.
"Lalu diperlihatkan kepada Pandji video-video dari akun-akun, saya kira-kira bilangnya potongan-potongan video dari akun-akun bukan Netflix. Terkait dengan sejumlah potongan atau yang memuat pernyataan-pernyataan Pandji di dalam pertunjukan Mens Rea," ucap dia.
Terkait dengan tudingan penistaan agama, Haris pun menyampaikan kebingungannya dan Pandji. Beberapa hal yang disebutkan pelapor menista agama itu di antaranya mengenai pemilihan pemimpin, pemberian izin tambang ke Muhammadiyah dan PBNU, serta para artis yang menjadi anggota dewan di Jawa Barat.
Pandji sendiri memastikan bahwa dirinya tidak pernah memiliki niat menistakan agama. Dia juga telah memastikan menjawab semua pertanyaan tim penyidik untuk meluruskan tudingan itu.
"Ya saya tadi menjalani prosesnya, saya coba untuk jawab pertanyaan dari polisi sebaik mungkin. Saya ada pada posisi tidak merasa melakukan penistaan agama. Jadi prosesnya tadi jalan dengan cukup lancar, pertanyaannya terjawab, dan ya kita ikutin prosesnya saja," kata Pandji.
Menurut Pandji, kasusnya pun tidak akan mempengaruhi para pekerja seni di bidang stand-up comedy. Sebab, mereka memiliki pandangan yang sama mengenai kasus ini bahwa tidak ada penistaan agama.
Di sisi lain, Pandji selalu membuka ruang berdialog dalam menyelesaikan kasus ini. Hal itu juga berpeluang dilakukan untuk menempuh langkah restorative justice.
"Oh saya selalu membuka ruang untuk dialog dan secara historikal juga ada terlalu banyak bukti yang menunjukkan bahwa dalam sebuah kesalahpahaman atau ada ketidaksesuaian penangkapan makna dari karya seni saya, saya selalu bersedia untuk dialog," tutur Pandji.
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id

































