Menuju konten utama

Danau Toba, dari Legenda ke Destinasi Pariwisata

Danau Toba adalah salah satu legenda Indonesia yang terus terpelihara. Keindahannya juga telah mampu menyedot perhatian para wisatawan, termasuk dari mancanegara. Itulah sebabnya pemerintah serius membenahinya agar mampu menyedot lebih banyak wisatawan.

Danau Toba, dari Legenda ke Destinasi Pariwisata
Wisatawan melihat panorama Danau Toba tampak dari kawasan Parapat, Simalungun, Sumatera Utara. [ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi]

tirto.id - “Anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!” ucap Pak Toba.

Sambil menangis menemui ibunya, ia mengadu bahwa telah dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya diceritakan juga. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu.

Si ibu menyuruh anaknya untuk segera pergi mendaki bukit dekat rumahnya. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan perintah ibunya itu. Ketika ibunya melihat anaknya sudah sampai di tempat tertinggi, dia segera menuju sungai. Tiba di tepi sungai, kilat menyambar disertai bunyi guruh yang megelegar.

Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap kemana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir.

Pak Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Sedangkan bukit yang menjadi tujuan anaknya tersebut menjadi Pulau Samosir di tengah genangan air.

Itulah cerita singkat legenda masyarakat setempat tentang terbentuknya Danau Toba dan Pulau Samosir di tengahnya. Sama seperti banyak tempat-tempat destinasi wisata alam lainnya, cerita legenda selalu mengiringi asal-usul tempat tersebut.

Berlokasi di Sumatera Utara, Danau Toba bukan sekadar daerah cekungan yang terisi oleh air saja. Sejatinya, Danau Toba terbentuk dari aktivitas vulkanik gunung purba yang telah meletus antara 69 sampai 77 ribu tahun yang lalu.

Kaldera raksasa dengan panjang yang mencapai 100 kilometer, lebar 30 kilometer, dasar terdalam 500 meter dan volume air 240 kilometer kubik juga menjadikan Danau Toba sebagai danau vulkanik terbesar di dunia.

Tidak terlihatnya lagi bentuk fisik dari gunung karena letusan pada puluhan ribu tahun lalu itu terjadi dengan maha dahsyat. Dalam skala letusan, ditetapkan standart VEI (Volcano Eruption Index) mulai dari 1 sampai 8. Letusan dari gunung Toba ini menempati peringkat puncak, VEI 8 dengan predikat supervolcano. Sebagai perbandingan, letusan Krakatau hanya menempati VEI 6 sedangkan letusan Rinjani dan Tambora menduduki VEI 7.

Erupsi dari letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia. Dari berbagai studi terhadap letusan Toba, diperkirakan sebagian besar dari manusia yang hidup pada periode tersebut meninggal dunia. Diyakini juga turut menciptakan hambatan populasi di Afrika timur dan tengah, serta India.

Teori bencana Toba menyatakan bahwa peristiwa ini menyebabkan musim dingin vulkanik global antara 6 sampai 10 tahun dengan penurunan temperatur global mulai dari 5 hingga 15 derajat celcius. Tercatat, letusan Toba merupakan salah satu letusan terbesar yang diketahui sejak manusia mengenal bumi.

Kini, setelah ribuan tahun berlalu, dan wilayah tersebut menjadi bagian dari Indonesia, Danau Toba menyajikan pesona keindahan alam luar biasa yang sanggup menyembunyikan kedahsyatannya bahwa pernah mengguncang bumi. Di sekitar Danau Toba juga telah tumbuh kultur sosial budaya masyarakat Batak Toba.

Menatap Pariwisata Dunia

Modal sejarah Danau Toba yang hebat ini menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata kelas internasional. Sejalan dengan itu, pemerintah Indonesia tengah menggenjot munculnya “10 Bali Baru”. Danau Toba di Sumatera Utara adalah salah satu prioritasnya.

Seperti diketahui, pemerintah pusat menetapkan 10 destinasi yang diprioritaskan pengembangannya, yakni Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Candi Borobudur, Gunung Bromo & Gunung Semeru, Labuan Bajo, Mandalika, Wakatobi, dan Morotai.

Di antara destinasi lainnya, Toba memang layak menjadi prioritas. Beragam program dan infrastruktur pendukung terus digenjot. Yang terbaru, pemerintah memutuskan untuk memperpanjang landas pacu Bandar Udara (Bandara) Silangit dan Bandara Sibisa dalam rangka pengembangan pariwisata kawasan Danau Toba, Sumatera Utara.

Dilansir dari Antara, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan usai rapat kabinet terbatas akhir pekan lalu menyebutkan, landas pacu Bandara Silangit di Kabupaten Tapanuli Utara akan diperpanjang menjadi 2.650 meter dengan lebar 45 meter dari ukuran saat ini yang masih 750 x 23 meter. "Landas pacu Lapangan Terbang Sibisa di Kabupaten Toba Samosir juga akan diperpanjang menjadi 2.250 meter sehingga bisa melayani jenis 737-500," katanya.

Selain peningkatan kapasitas Bandara, pemerintah juga membangun jalan tol dari Pematang Siantar hingga Simalungun sepanjang 97 km mulai 2017. Pemerintah juga akan melakukan pembersihan lingkungan di kawasan Danau Toba dengan mengevaluasi secara ketat karamba di Danau Toba.

Sejak 2013, Festival Danau Toba menjadi agenda tahunan. Festival Danau Toba 2016 dilaksanaka pada 20-21 Agustus. Acara ini dihadiri oleh Presiden Jokowi. Ia menjadi presiden pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Samosir

Acara yang didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini menggelar sejumlah kegiatan budaya mulai dari karnaval Sigale-gale, tarian Tortor Sawan, Sulang-Sulang Hariaman hingga Mangalahat Horbo. Ada juga kegiatan beberapa kegiatan olahraga besar seperti paralayang, paramotor, renang rakyat, renang keliling Danau Toba untuk pertama kalinya, hingga perahu naga atau lebih dikenal dengan Solu Bolon.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut mencatat, wisatawan mancanegara yang langsung datang ke Sumatera Utara pada tahun 2012 sebesar 241.833 orang. Mereka masuk lewat Bandar Udara Polonia sebesar 205.845 orang, melalui Pelabuhan Belawan sebesar 22.132, dan melalui Pelabuhan laut Tanjung Balai Asahan sebesar 13.856 orang.

Setelah diadakan Festival Danau Toba 2013, tampaknya ini berdampak pada peningkatan wisatawan mancanegara. Tercatat sebanyak 259.299 wisatawan mancanegara mengunjungi Sumatera Utara. Jumlah terbanyak yang datang lewat Bandar Udara Polonia/Kualanamu Internasional sebesar 225.550 orang.

Di tahun 2014, wisatawan mancanegara yang datang ke Sumatera Utara mengalami kenaikan lagi sebesar 4,45 persen dari tahun sebelumnya. Tercatat sebesar 270.837 wisatawan mancanegara datang dengan yang terbesar melalui Bandara Internasional Kualanamu sebesar 234.724 orang.

Sedangkan penurunan terjadi di tahun 2015. Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung selama tahun tersebut mencatatkan hanya 229.288 orang. Sementara, hingga Juni 2016 jumlah wisatawan mancanegara mencapai 97.216 orang.

Program percepatan pembangunan Destinasi Pariwisata Danau Toba yang diluncurkan nantinya menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 1 juta kunjungan pada tahun 2019. Peningkatan ini akan dicapai melalui peningkatan aksesibilitas dan atraksi.

Dengan catatan besar sejarah dunia yang dimiliki, dan segudang kultur sosial budaya yang melekat dan bisa disuguhkan, kawasan yang sudah ditetapkan menjadi Toba Caldera Geopark ini layak menjadi destinasi wisata kelas dunia.

Baca juga artikel terkait DANAU TOBA atau tulisan lainnya dari Tony Firman

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti