tirto.id - Rokok elektrik atau vape menjadi pilihan banyak orang untuk mengganti rokok tembakau. Meskipun sama-sama mengandung nikotin, keduanya berbeda. Perbedaan paling utama terletak di mekanisme pembakaran. Sementara pengguna rokok membakar tembakau yang menghasilkan asap, vape mengeluarkan asap dari pemanasan cairan (e-liquid).
Banyak orang berpikir mengisap vape lebih aman, meski rokok elektrik belum tentu tidak membawa dampak pada kesehatan. Lantas, apakah vape berbahaya bagi kesehatan atau malah lebih aman dari rokok konvensional? Untuk mendapat gambaran lebih jelas tentang dampak vape terhadap kesehatan, simak ulasan berikut!
Apakah Vape Berbahaya Bagi Kesehatan?
Kekhawatiran terhadap dampak penggunaan vape terhadap kesehatan sudah muncul sejak beberapa tahun lalu, terutama saat rokok elektrik tersebut mulai booming.
Sebagaimana diwartakan Vox, pertengahan 2019 silam, terjadi lonjakan jumlah pasien sakit pernapasan di 46 negara bagian AS. Sekitar 800-an orang yang semula sehat mendadak harus dirawat intensif akibat gangguan pernapasan, dan mayoritas berusia muda. Kejadian ini menarik perhatian para ahli kesehatan karena mereka tidak mendapati penyebab infeksi yang jelas pada para pasien tersebut.
Tim dokter RS Intermountain Healthcare, Utah, lantas mensinyalir pemakaian vape menjadi pemicu karena itu satu-satunya kesamaan di antara pasien. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), badan pengendalian penyakit di AS, menyatakan hal yang sama.
Sementara itu, studi terbitan New England Journal of Medicine yang mengamati 53 kasus mengungkapkan semua pasien melapor bahwa mereka mengonsumsi rokok elektrik dalam 90 hari terakhir sebelum jatuh sakit. Rata-rata pasien itu berusia 19-an tahun atau sedikit lebih tua. Mayoritas mengonsumsi vape berbasis THC dan produk mengandung nikotin.
Kejadian di AS itu memicu kekhawatiran akan dampak vape terhadap kesehatan. Mengenai dampak vape pada kesehatan, laman Hopkins Medicine memaparkan beberapa informasi berikut:
- Vape sama berbahayanya dengan rokok tradisional. Vape atau rokok elektrik terbuat dari nikotin yang dipanaskan (diekstraksi dari tembakau), ditambahkan dengan perasa dan bahan kimia lainnya untuk membuat uap air dan dihirup. Sementara rokok tembakau biasa mengandung 7.000 bahan kimia, banyak di antaranya beracun.
- Vape tidak aman bagi kesehatan. Nikotin adalah sumber utama dalam rokok tembakau maupun rokok elektrik, dan bersifat sangat adiktif. Nikotin juga mengandung zat yang dapat meningkatkan tekanan darah, memacu adrenalin, serta meningkatkan denyut jantung yang efek terparahnya bisa membuat seseorang mengalami serangan jantung.
- Vape dan rokok tembakau bisa membuat kecanduan. Rokok biasa dan vape yang mengandung nikotin bisa membuat orang kecanduan.
- Vape bukan alat berhenti merokok terbaik. Meskip beberapa orang menyebutkan vape berfungsi sebagai alat bantu berhenti merokok, asumsi itu tidak selalu benar. Sebuah studi bahkan menemukan banyak orang yang berniat memakai vape untuk berhenti merokok, justru terus menggunakan rokok tradisional maupun elektronik.
Dalam sebuah laporan studi bertajuk "Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products" terbitan 2018, John Newton menyebutkan rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan mampu mengurangi paparan risiko hingga 90-95 persen lebih rendah daripada rokok konvensional. Melalui keterangan yang sama, Associate Medical di British Heart Foundation, Prof Jeremy Pearson menyatakan produk tembakau alternatif berisiko lebih rendah pada kardiovaskular dibandingkan rokok biasa. Studi itu didasarkan pada observasi ke 114 orang yang dalam dua tahun merokok sekitar 15 batang sehari.
Penjelasan yang serupa pun pernah disampaikan oleh Guru Besar Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF-ITB) Prof Rahmana Emran Kartasasmita via keterangan tertulisnya, 2023 lalu. Dia menerangkan, produk tembakau alternatif seperti vape punya profil lebih rendah risiko dibandingkan rokok konvensional. Kesimpulan itu termuat dalam hasil kajian literatur bertajuk "Kajian Risiko (Risk Assessment) Produk Tobacco Heated System" yang memperkirakan tingkat risiko dari produk tembakau yang dipanaskan. Menurut Emran, kesimpulan kajian itu selaras dengan studi dari lembaga seperti Public Health England dan UK Committee on Toxicology (COT), bagian dari Food Standards Agency.
Adapun publikasi terbaru CDC pada 2025 menginformasikan, Aerosol dari rokok elektrik umumnya memang mengandung lebih sedikit bahan kimia berbahaya dibandingkan dengan campuran dari 7.000 zat kimia di asap rokok konvensional. Namun, menurut CDC, fakta ini belum memastikan keamanan rokok elektrik. "Para ilmuwan masih mempelajari dampak kesehatan langsung dan jangka panjang dari penggunaan rokok elektrik," tulis CDC.
Masih menurut publikasi CDC, rokok elektrik mungkin mengandung zat-zat berbahaya atau berpotensi bahaya bagi tubuh. Berbagai zat tersebut seperti nikotin yang bisa memicu adiksi, bahan kimia pemicu kanker, logam berat (seperti nikel, timah, timbal), partikel kecil yang dapat masuk paru-paru, senyawa organik volatil, hingga perasa seperti diasetil.
Editor: Agung DH
Penyelaras: Addi M Idhom
Masuk tirto.id





























