tirto.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai berdampak hingga ke sejumlah negara di Asia Tenggara.
Asap dari titik-titik kebakaran di Sumatra dan Kalimantan terbawa angin menuju wilayah negara ASEAN, memicu penurunan kualitas udara dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kabut asap lintas batas (transboundary haze).
Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina menjadi sejumlah negara yang melaporkan atau mengantisipasi dampak kabut asap dari kebakaran di kawasan Indonesia.
Memburuknya indeks kualitas udara dan berkurangnya jarak pandang, membuat pemerintah negara-negara tersebut mengeluarkan imbauan kesehatan kepada masyarakat.
Negara ASEAN yang Kena Kabut Asap
Berikut daftar negara-negara di ASEAN yang terdampak kabut dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia:
1. Malaysia
Kualitas udara di negara bagian Sarawak, Malaysia, kembali memburuk pada 1 September 2026 seiring asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terbawa angin melintasi perbatasan, seperti dilaporkan The Straits Times, Senin(1/9/2026).Kondisi tersebut menjadikan Sarawak sebagai salah satu wilayah Malaysia yang paling terdampak dalam episode kabut asap terbaru. Sedikitnya enam distrik di Sarawak mencatat indeks polusi udara (API) pada kategori berbahaya, termasuk ibu kota negara bagian, Kuching, yang mencatat API mencapai 407.
Berdasarkan pedoman nasional Malaysia, angka API di atas 300 sudah masuk kategori hazardous atau berbahaya, sedangkan angka yang melampaui 500 dapat menjadi dasar pertimbangan untuk menetapkan keadaan darurat lokal.
Memburuknya kualitas udara juga mulai berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Sekolah-sekolah di Kuching bahkan telah ditutup sejak sekitar dua pekan sebelumnya sebagai langkah untuk mengurangi paparan terhadap kabut asap.
Pada saat yang sama, persediaan masker yang dirancang untuk menyaring partikel halus akibat kabut asap mulai menipis di sejumlah apotek. Masker yang masih tersedia umumnya merupakan masker medis biasa yang menurutnya tidak memberikan perlindungan memadai terhadap partikel kabut asap.
Memburuknya kondisi di Sarawak terjadi ketika asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bergerak melintasi perbatasan menuju wilayah Malaysia. Situasi ini menunjukkan dampak kabut asap yang bersifat lintas batas, karena polutan yang dihasilkan kebakaran di satu negara dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara negara tetangga.
Kementerian Kesehatan Malaysia juga melaporkan peningkatan kasus asma dan konjungtivitis secara nasional seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.
2. Singapura
Singapura berpotensi mengalami kondisi berkabut asap dalam dua pekan pertama September 2026, seiring cuaca kering. Kondisi ini diperparah dengan risiko kabut asap meningkat apabila kebakaran di Indonesia kembali menguat dan angin yang bertiup dari arah tenggara atau barat daya terus membawa asap menuju Singapura.Meteorological Service Singapore mencatat bahwa asap tebal telah terlihat di Sumatra bagian selatan dan tengah serta berbagai wilayah Kalimantan sejak sekitar 21 Agustus. Jika kebakaran terus meluas dan arah angin tetap mendukung pergerakan asap, polutan dapat terbawa melintasi wilayah laut menuju Singapura dan menyebabkan kualitas udara memburuk.
Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, National Environment Agency (NEA) Singapura akan terus memantau perkembangan kualitas udara dan situasi kabut asap di kawasan regional.
Pemerintah Singapura juga telah menyiapkan mekanisme pemberitahuan kepada masyarakat apabila kondisi memburuk. NEA akan mengeluarkan haze advisory setiap hari apabila nilai Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam memasuki rentang 101-200, yang dikategorikan sebagai tingkat tidak sehat.
Dalam sebuah unggahan di Instagram, Dewan Agama Islam Singapura bahkan sempat mengumumkan jika khutbah sholat Jumat pada 21 Agustus 2026 akan diperpendek dikarenakan cuaca di Singapura yang semakin panas dan munculnya kabut asap di beberapa bagian di negara tersebut.
“Singapura sedang mengalami cuaca yang semakin panas, sementara beberapa daerah juga mulai mengalami kabut asap. Mulai minggu ini [21 Agustus 2026], sesi khutbah Jumat akan dipersingkat untuk membantu menjaga kenyamanan jemaah selama kondisi cuaca yang menantang ini,” tulis pengumuman tersebut di akun @muis.sg.
3. Brunei Darussalam
Kondisi kualitas udara di Brunei Darussalam memburuk pada Selasa, 1 September 2026, seiring kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah negara tersebut. Distrik Brunei-Muara menjadi wilayah dengan kondisi terburuk setelah Pollutant Standards Index (PSI) mencapai 219 pada pukul 14.00, yang masuk kategori sangat tidak sehat.Tiga distrik lainnya juga mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat, yakni Belait dengan PSI 172, Tutong 159, dan Temburong 142.
Departemen Lingkungan, Taman dan Rekreasi Brunei (JASTRe) mengatakan selama periode kabut asap, mereka akan meningkatkan pemantauan kualitas udara di seluruh wilayah Brunei dan menyampaikan pembaruan PSI lima kali sehari, yakni pada pukul 07.00, 09.00, 11.00, 14.00, dan 16.00.
Masyarakat Brunei kemudian diminta mengurangi paparan yang tidak perlu terhadap kabut asap dan membatasi aktivitas di luar ruangan yang berlangsung lama maupun aktivitas fisik berat, terutama ketika kualitas udara semakin memburuk.
Kementerian Kesehatan, dilansir Borneo Bulletin, Senin(1/9/2026) juga memberikan perhatian khusus kepada anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan. Kelompok tersebut diminta mengambil langkah pencegahan tambahan dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala kesehatan atau merasa tidak enak badan selama periode kabut asap.
Munculnya kabut asap di Brunei berkaitan dengan banyaknya titik panas (hotspots) yang terdeteksi di kawasan Borneo, terutama di wilayah Indonesia.
Dalam pernyataan bersama Departemen Lingkungan, Taman dan Rekreasi, Kementerian Kesehatan, dan Departemen Meteorologi Brunei, citra satelit dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) mendeteksi 514 titik panas pada Kamis, 1.734 titik pada Jumat, dan 1.180 titik pada Sabtu pekan lalu di seluruh Borneo.
Sebagian besar titik panas tersebut terkonsentrasi di bagian barat Borneo, khususnya Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat di Indonesia, yang merupakan wilayah dengan aktivitas karhutla cukup tinggi.
Arah angin turut menjadi faktor penting dalam membawa asap dari kawasan kebakaran menuju Brunei. Otoritas Brunei menjelaskan bahwa angin yang bertiup dari arah barat daya sedang bergerak menuju wilayah negara tersebut.
Angin tersebut membawa asap yang berasal dari titik-titik panas yang dominan berada di wilayah Indonesia, sehingga berkontribusi signifikan terhadap memburuknya kondisi udara di Brunei.
4. Filipina
Kantor Pertahanan Sipil Filipina (OCD) mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan dan meningkatkan kewaspadaan pada Selasa, 1 September 2026, menyusul kabut asap yang dikaitkan dengan kebakaran hutan di Indonesia dan mulai memengaruhi sejumlah wilayah Filipina.OCD mengatakan pemantauan terutama dilakukan di National Capital Region (NCR), Calabarzon (Region 4A), dan Mimaropa (Region 4B) melalui koordinasi dengan Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam Filipina (DENR), khususnya Environmental Management Bureau (DENR-EMB).
“Seperti yang diamati, kabut asap tersebut kemungkinan terkait dengan asap dan kabut lintas batas dari kebakaran yang sedang berlangsung di Indonesia yang mungkin telah terbawa ke Filipina oleh angin yang bertiup,” kata Wakil Administrator OCD Bidang Administrasi, Asisten Sekretaris Bernardo Rafaelito Alejandro IV dalam pesan video dikutip Manila Bulletin, Senin (1/9/2026).
“Oleh karena itu, kami terus memantau kualitas udara, EMB kami, melalui jaringan stasiun pemantauan kualitas udara untuk menilai sejauh mana dan potensi dampak kabut asap tersebut,” tambahnya.
Badan Meteorologi Filipina (PAGASA) sebelumnya menjelaskan bahwa kabut asap di sejumlah bagian Filipina berkaitan dengan partikel dari kebakaran hutan di Kalimantan, Indonesia, yang terbawa oleh angin monsun barat daya. Angin tersebut relatif kuat sehingga dapat membawa partikel dan asap dalam jarak yang lebih jauh
Selain menggunakan masker, masyarakat Filipina diminta lebih banyak berada di dalam ruangan dan menutup pintu serta jendela untuk mengurangi masuknya asap dan partikel halus ke dalam rumah.
OCD juga menyarankan penggunaan kain basah untuk menutup celah yang memungkinkan asap atau partikel dari luar masuk. Imbauan tersebut menjadi penting terutama ketika konsentrasi partikel di udara meningkat, karena partikel berukuran sangat kecil dapat bertahan di atmosfer dan terhirup ke dalam sistem pernapasan.
Kabut asap juga berpotensi mengganggu keselamatan transportasi apabila jarak pandang menurun. Karena itu, warga yang tetap harus bepergian diminta lebih berhati-hati, terutama ketika berkendara pada malam hari atau melalui wilayah yang tertutup kabut.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































