tirto.id - Kultum singkat tentang kehidupan sehari hari merupakan salah satu bentuk ceramah singkat yang sering disampaikan dalam berbagai kesempatan keagamaan. Kultum sendiri adalah kependekan dari kuliah tujuh menit, yakni tausiah singkat yang umumnya dibacakan sebelum atau sesudah salat berjamaah, saat bulan Ramadan, pengajian rutin, peringatan hari besar Islam, hingga kegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat.
Kultum singkat tentang kehidupan sehari hari bertujuan menyampaikan pesan keislaman secara padat, sederhana, namun tetap bermakna. Tema yang diangkat tidak selalu berkaitan dengan persoalan akidah atau fikih yang berat.
Justru, kultum singkat tentang kehidupan, kultum tentang kehidupan manusia sehari hari, hingga kultum tentang kehidupan di masyarakat sering kali lebih mudah dipahami dan relevan dengan kondisi jamaah. Lantas, apa saja contoh judul kultum tentang kehidupan sehari hari yang cocok untuk kondisi saat ini?

Kumpulan Contoh Judul Kultum tentang Kehidupan Sehari-hari
Melalui kultum singkat tentang kehidupan sehari hari, penceramah dapat mengajak jamaah untuk merenungi sikap, kebiasaan, serta perilaku yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Apalagi di era digital, masyarakat memiliki kebiasaan online yang terus menerus sehingga mengurangi waktu untuk bersosialisasi di masyarakat. Kultum tentang pentingnya bersosialisasi atau permasalahan sehari-hari bisa diangkat menjadi topik kultum yang terkait erat dengan kehidupan nyata.
Menyusun judul yang tepat akan memudahkan jemaah memahami arah pembahasan sekaligus mempermudah penceramah menyiapkan materi yang akan disampaikan.
Berikut ini merupakan contoh judul kultum tentang kehidupan sehari hari yang bisa dijadikan referensi:
- Menjaga Akhlak Mulia dalam Kehidupan Sehari-hari
- Pentingnya Kejujuran dalam Kehidupan Manusia Sehari-hari
- Indahnya Saling Menghormati di Tengah Kehidupan Bermasyarakat
- Mengelola Waktu sebagai Amanah dalam Kehidupan
- Pentingnya Bersosialisasi dengan Akhlak Islami
- Menjaga Lisan di Era Media Sosial
- Hidup Sederhana sebagai Cerminan Keimanan
- Menumbuhkan Empati dalam Kehidupan Sehari-hari
- Tanggung Jawab sebagai Muslim dalam Kehidupan Masyarakat
- Menjaga Silaturahmi di Tengah Kesibukan
- Bersyukur dalam Setiap Keadaan Kehidupan
- Menebar Kebaikan dari Hal-Hal Sederhana
- Sabar Menghadapi Ujian Kehidupan
- Menghindari Ghibah dalam Kehidupan Sehari-hari
- Ikhlas Beramal dalam Kehidupan Manusia Sehari-hari

Pria Muslim religius pidato di masjid. FOTO/iStockphoto
Kumpulan Contoh Teks Kultum Singkat tentang Kehidupan Sehari-hari
Setelah menentukan judul kultum tentang kehidupan manusia sehari hari, saatnya menyusun isi materi yang akan disampaikan. Sebaiknya ambil studi kasus atau masalah yang kerap dijumpai dalam kehidupan rumah tangga, bertetangga, hingga bermasyarakat.
Berikut ini beberapa contoh teks kultum singkat tentang kehidupan sehari-hari yang bisa dijadikan referensi:
Contoh Kultum 1: Menjaga Akhlak Mulia dalam Kehidupan Sehari-hari
Assalamualaikum Warahmatullahi WabarakatuhPertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala. Berkat limpahan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya, pada kesempatan yang penuh keberkahan ini kita masih diberikan kesehatan serta kesempatan untuk berkumpul dalam majelis yang Insya Allah membawa kebaikan bagi kita semua.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Semoga kita semua kelak mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak pernah lepas dari interaksi dengan sesama manusia. Baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun di tengah masyarakat, setiap langkah dan ucapan kita selalu dinilai, bukan hanya oleh manusia, tetapi juga oleh Allah SWT. Oleh karena itu, menjaga akhlak mulia menjadi kewajiban bagi setiap Muslim.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Wa innaka la‘alā khuluqin ‘azhīm
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah teladan terbaik dalam akhlak. Beliau dikenal sebagai pribadi yang jujur, lembut dalam berbicara, sabar dalam menghadapi ujian, serta selalu mengedepankan kasih sayang, bahkan kepada orang-orang yang menyakitinya.
Namun, realita yang sering kita jumpai saat ini adalah semakin mudahnya manusia melupakan adab. Kesibukan dunia, tekanan ekonomi, dan derasnya arus informasi membuat sebagian orang mudah emosi, berkata kasar, serta merasa benar sendiri. Padahal, akhlak yang buruk bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga merusak ketenangan hati kita sendiri.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil ākhiri falyakul khairan au liyasmut
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak. Banyak permasalahan dalam kehidupan bermula dari ucapan yang tidak dijaga, baik itu menyakiti perasaan orang lain, menimbulkan fitnah, maupun memicu permusuhan.
Hadirin sekalian,
Marilah kita mulai memperbaiki akhlak dari hal-hal yang sederhana. Menyapa dengan senyum, bersikap sopan kepada orang yang lebih tua, menghargai pendapat orang lain, serta menahan diri dari amarah adalah bentuk akhlak mulia yang sering dianggap sepele, namun sangat bernilai di sisi Allah SWT.
Semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa membimbing kita agar mampu meneladani akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian kultum singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi pengingat dan membawa manfaat bagi kita semua.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Contoh Kultum 2: Menjaga Akhlak Mulia sebagai Pondasi Kehidupan
Assalamualaikum Warahmatullahi WabarakatuhAlhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah Subhanahu Wata’ala, Tuhan semesta alam, yang senantiasa melimpahkan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya kepada kita semua. Atas izin-Nya pula, pada kesempatan yang berbahagia ini kita masih diberikan kesehatan, umur yang berkah, serta kesempatan untuk berkumpul dalam majelis ilmu yang Insya Allah membawa kebaikan bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, kepada keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umatnya yang setia mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman. Semoga kita semua kelak termasuk golongan yang mendapatkan syafaat beliau di hari yang tidak ada pertolongan selain dari Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Dalam perjalanan hidup ini, manusia tidak pernah lepas dari ujian. Ujian tersebut bisa datang dalam bentuk kesenangan maupun kesedihan. Namun, satu hal yang sering kali luput dari perhatian kita adalah bagaimana sikap dan akhlak kita ketika menghadapi berbagai keadaan tersebut. Padahal, akhlak merupakan pondasi utama yang menentukan kualitas diri seseorang sebagai hamba Allah dan sebagai anggota masyarakat.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Wa innaka la‘alā khuluqin ‘azhīm
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Ayat ini menjadi bukti bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah teladan terbaik dalam hal akhlak. Beliau tidak hanya mengajarkan kebaikan melalui ucapan, tetapi juga melalui perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak beliau tercermin dari kesabaran dalam menghadapi caci maki, kelembutan dalam bertutur kata, serta keikhlasan dalam menolong sesama tanpa membedakan latar belakang.
Hadirin sekalian,
Di zaman sekarang, kita hidup di tengah dunia yang bergerak begitu cepat. Tuntutan hidup, tekanan ekonomi, serta derasnya arus informasi sering kali membuat manusia lupa untuk menjaga adab dan akhlak. Tidak sedikit orang yang mudah marah, berkata kasar, bahkan saling menjatuhkan demi kepentingan pribadi. Padahal, semua itu tidak akan mendatangkan ketenangan, melainkan hanya menambah beban dalam hati.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Akmalul mu’minīna īmānan ahsanuhum khuluqā
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa baik atau buruknya iman seseorang dapat terlihat dari akhlaknya. Ibadah yang rajin belum tentu mencerminkan iman yang sempurna apabila tidak dibarengi dengan sikap yang baik kepada sesama. Oleh karena itu, menjaga akhlak bukanlah pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap Muslim.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Akhlak mulia dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain, bersikap jujur dalam bekerja, menghormati orang yang lebih tua, serta bersikap rendah hati meskipun memiliki kelebihan. Terkadang, kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas justru memiliki nilai yang besar di sisi Allah SWT.
Selain itu, akhlak yang baik juga akan membawa dampak positif dalam kehidupan sosial. Lingkungan yang dipenuhi oleh orang-orang berakhlak mulia akan terasa lebih damai, aman, dan penuh kebersamaan. Sebaliknya, apabila akhlak diabaikan, maka konflik dan perpecahan akan mudah terjadi.
Hadirin sekalian,
Marilah kita jadikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai teladan utama dalam memperbaiki diri. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari lingkungan terdekat, dan dari hal-hal yang paling sederhana. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita agar mampu menjaga akhlak mulia dalam setiap keadaan, baik saat lapang maupun sempit.
Demikian kultum yang dapat saya sampaikan. Semoga apa yang telah kita dengarkan dapat menjadi pengingat dan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Contoh Kultum 3: Menjadi Pribadi yang Bermanfaat dalam Kehidupan Sehari-hari
Assalamualaikum Warahmatullahi WabarakatuhAlhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala yang masih memberikan kita napas kehidupan, kesehatan, serta kesempatan untuk berkumpul dalam majelis yang penuh keberkahan ini. Tidak ada satu nikmat pun yang kita rasakan hari ini kecuali semuanya berasal dari kasih sayang Allah SWT.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, teladan terbaik dalam setiap sisi kehidupan, mulai dari ibadah kepada Allah hingga cara beliau memperlakukan sesama manusia. Semoga kita semua termasuk umat yang setia mengikuti sunnah beliau hingga akhir hayat.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sering kali kita menjalani hari demi hari tanpa benar-benar berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana kehadiran kita membawa manfaat bagi orang lain? Kita sibuk mengejar urusan dunia, bekerja dari pagi hingga malam, namun lupa bahwa hidup ini bukan hanya tentang diri kita sendiri.
Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan manusia sebagai makhluk sosial. Kita tidak bisa hidup sendiri, dan kita tidak akan mampu bertahan tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, salah satu nilai penting dalam Islam adalah menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Khairun-nāsi anfa‘uhum lin-nās
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada harta, jabatan, atau popularitas, melainkan pada seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada sesama.
Hadirin sekalian,
Menjadi pribadi yang bermanfaat tidak selalu harus dengan hal besar. Tidak semua dari kita mampu bersedekah dengan harta berlimpah atau membantu orang lain dalam jumlah besar. Namun, senyuman yang tulus, ucapan yang menenangkan, serta sikap yang penuh empati sering kali jauh lebih bermakna bagi orang lain.
Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh persaingan ini, banyak orang yang sebenarnya lelah dan membutuhkan perhatian. Sayangnya, kita sering terlalu sibuk dengan urusan sendiri hingga lupa untuk peduli. Padahal, kepedulian adalah salah satu bentuk ibadah yang nilainya sangat tinggi di sisi Allah SWT.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Waf‘alul-khaira la‘allakum tuflihūn
“Dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Hajj: 77)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa keberuntungan sejati bukan hanya tentang kesuksesan dunia, tetapi juga tentang keberhasilan kita dalam menebar kebaikan.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Sering kali kita merasa tidak dihargai meskipun telah berbuat baik. Namun ingatlah, setiap kebaikan yang kita lakukan tidak pernah sia-sia. Jika manusia tidak membalasnya, maka Allah pasti mencatatnya sebagai amal yang akan kita petik balasannya kelak.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Lā taḥqiranna minal ma‘rūfi syai’ā walau an talqā akhāka biwajhin ṭalq
“Jangan sekali-kali meremehkan kebaikan sekecil apa pun, meskipun hanya dengan wajah yang berseri.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa dalam Islam, tidak ada kebaikan yang kecil. Semua bernilai selama dilakukan dengan niat yang ikhlas karena Allah.
Hadirin sekalian,
Marilah kita jadikan hidup ini sebagai ladang amal. Mari kita hadir bukan sebagai beban, tetapi sebagai penenang. Bukan sebagai sumber masalah, tetapi sebagai pembawa solusi. Semoga Allah SWT membimbing langkah kita agar mampu menjadi pribadi yang bermanfaat, di mana pun kita berada dan dalam keadaan apa pun.
Demikian kultum yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi pengingat bagi kita semua.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Contoh Kultum 4: Ketika Hidup Mengajarkan Kita untuk Kembali kepada Allah
Assalamualaikum Warahmatullahi WabarakatuhAlhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah Subhanahu Wata’ala, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Atas izin dan rahmat-Nya, kita masih diberikan kesempatan untuk menikmati nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesehatan, sehingga pada malam yang penuh ketenangan ini kita dapat duduk bersama dalam majelis yang Insya Allah membawa keberkahan.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman. Semoga kita semua kelak dikumpulkan bersama beliau di surga-Nya. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Pernahkah kita berhenti sejenak di tengah kesibukan hidup, lalu bertanya kepada diri sendiri: ke mana sebenarnya arah hidup ini berjalan? Setiap hari kita bangun, bekerja, beraktivitas, lalu kembali beristirahat. Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun berganti, hingga tanpa sadar usia kita semakin berkurang. Namun, pertanyaannya bukan seberapa lama kita hidup, melainkan untuk apa kehidupan ini kita jalani.
Dalam kehidupan, Allah tidak hanya memberikan kebahagiaan, tetapi juga ujian. Ada kalanya hidup terasa lapang, rezeki mengalir, dan hati dipenuhi rasa syukur. Namun, ada pula masa di mana hidup terasa berat, doa-doa seakan belum terjawab, dan kesabaran benar-benar diuji. Semua itu bukan tanpa tujuan. Setiap peristiwa adalah cara Allah berbicara kepada hamba-Nya.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
Wa nablūkum bisy-syarri wal-khairi fitnah
“Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa baik kesenangan maupun kesulitan adalah ujian. Kesenangan menguji rasa syukur kita, sementara kesulitan menguji kesabaran dan keteguhan iman kita. Sayangnya, sering kali manusia hanya mengingat Allah saat sedang berada dalam kesulitan, namun melupakan-Nya ketika hidup terasa mudah.
Hadirin sekalian,
Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, banyak manusia yang terlalu sibuk mengejar dunia. Kita mengejar harta, jabatan, dan pengakuan manusia, hingga lupa bahwa semua itu bersifat sementara. Tidak ada satu pun yang akan kita bawa ketika ajal menjemput, kecuali amal perbuatan kita.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
Kun fid-dunyā ka’annaka gharībun au ‘ābiru sabīl
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini mengajarkan bahwa dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat singgah sementara. Seorang musafir tidak akan terlalu sibuk memperindah tempat singgahnya, karena ia tahu bahwa perjalanan masih panjang. Begitu pula dengan kehidupan ini, yang seharusnya menjadi bekal untuk kehidupan akhirat.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Sering kali Allah menegur kita melalui kejadian-kejadian sederhana. Kehilangan, kegagalan, sakit, atau rasa kecewa adalah cara Allah mengingatkan kita agar kembali kepada-Nya. Teguran itu bukan tanda kebencian, melainkan bentuk kasih sayang Allah agar kita tidak semakin jauh tersesat.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Alā bidzikrillāhi tathma’innul qulūb
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati tidak berasal dari harta, popularitas, atau pujian manusia, melainkan dari kedekatan hati kita kepada Allah. Ketika hati jauh dari Allah, sebanyak apa pun dunia yang kita miliki, kita tetap akan merasa kosong.
Hadirin sekalian,
Marilah kita jadikan setiap peristiwa dalam hidup sebagai bahan muhasabah. Mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allah, perbaiki shalat kita, perbaiki keikhlasan kita, dan perbaiki akhlak kita kepada sesama. Jangan menunggu sampai Allah menegur kita dengan cara yang lebih keras.
Semoga Allah Subhanahu Wata’ala melembutkan hati kita, membimbing langkah kita, dan menguatkan iman kita hingga akhir hayat.
Demikian kultum yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi pengingat bagi kita semua, dan semoga Allah menerima setiap niat baik yang ada di dalam hati kita.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Demikian contoh kultum singkat tentang kehidupan sehari hari yang dapat dijadikan referensi untuk berbagai kegiatan keagamaan. Semoga kumpulan kultum tentang kehidupan sehari hari ini dapat membantu menyampaikan pesan Islam yang sederhana, relevan, dan menyentuh kehidupan masyarakat.
Jangan lewatkan juga artikel-artikel sejenis lainnya yang membahas kultum singkat, ceramah keagamaan, dan materi dakwah praktis untuk kebutuhan sehari-hari. Baca selengkapnya melalui tautan berikut ini:
Kumpulan Artikel Kultum Lainnya
Penulis: Robiatul Kamelia
Editor: Robiatul Kamelia & Lucia Dianawuri
Masuk tirto.id








































