tirto.id - Sore itu Jalan Raya Prambanan sangat padat dan riuh. Meski lampu merah belum berganti hijau, beberapa pengemudi terlihat tak sabaran dan terus memencet klakson yang suaranya memekakkan telinga. Sementara, di balik pagar Kompleks Taman Wisata Candi Prambanan (WC), suasana juga tak kalah ramainya. Suara musik bersahutan terdengar menggelegar hingga ke jalan raya.
Keramaian hari itu bersumber dari gelaran Cherrypop, sebuah festival musik tahunan yang dipromotori oleh Swasembada Kreasi. Berbeda dari tahun sebelumnya yang dilangsungkan di Lapangan Kenari, Umbulharjo, Cherrypop 2026 memilih Kompleks Taman Wisata Candi Prambanan sebagai rumah barunya.
Pemilihan Prambanan sebagai lokasi festival bukan tanpa alasan, hal ini karena dari tahun ke tahun penikmat Cherrypop makin meningkat, sehingga dibutuhkan tempat yang jauh lebih luas dan lapang supaya bisa menampung lebih banyak penonton tanpa mengesampingkan kenyamanan. Prambanan dipilih karena dianggap memiliki kriteria tersebut.
Begitu masuk ke area festival, pengunjung langsung disambut gegap gempita Cherry Stage yang berlatarkan Candi Prambanan nan megah. Saat saya tiba, Cherry Stage tengah diramaikan oleh band asal Bandung, Juicy Luicy.
Deretan lagu-lagu hitnya yang mengusung tema cinta dan musik yang easy listening menemani ribuan penonton bergoyang sembari menikmati senja Prambanan. Di deretan samping dan belakang terlihat banyak pengunjung yang menikmati musik Juicy Lucy dengan duduk di rerumputan sembari memeluk orang terkasih.
Tepat di sebelah Cherry Stage, terdapat Yayapa Stage. Bersamaan dengan Juicy Luicy pentas, di Yayapa Stage terdapat Lipstik Lipsing yang sedang mengguncang panggung. Penonton yang nyaris semuanya mengenakan outfit hitam terlihat melompat dengan penuh semangat mengkuti irama musik keras yang menghentak.
Lantas, di ujung barat terdapat Nanaba Stage. Di panggung besar ini, Aftershine menghibur pengunjung dengan deretan lagu-lagu berbahasa Jawa. Memadukan ketukan kendang koplo khas dangdut dan melodi pop yang ramah di telinga anak muda, serta lirik percintaan yang dominan tentang sakit hati membuat Aftershine memiliki basis penggemar yang sangat besar.
Selain tiga panggung tersebut, masih ada satu panggung lagi yang bernama Chili Stage. Berbeda dari panggung lainnya, Chili Stage merupakan panggung kecil yang hanya menampung sekitar 100 orang. Berada di dalam tenda tertutup, suasana yang terbangun antara musisi dan penonton justru terasa lebih dekat dan intim.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tema Cherrypop 2026 juga mengambil dari istilah yang pernah populer di masa lalu, yakni Repelita Musik. Repelita sendiri merupakan singkata dari Rekreasi, Peristiwa, dan Lima Tahun.
Istilah repelita membawa gema masa lalu, ketika pembangunan disusun dalam rencana lima tahunan dan masa depan dipercaya dapat ditata. Cherrypop meminjam bunyinya untuk menyusun rencana lain: mengingat manusia, perjumpaan, dan pengalaman yang tumbuh selama lima tahun festival.
Dalam konferensi pers yang berlangsung di Artotel Suites Bianti, Yogyakarta (07/08/2026), Arsita Pinandita selaku Co-Founder dan Creative Director dari Cherrypop mengatakan bahwa sejak awal digagas, Cherrypop dimaksudkan sebagai titik temu subkultur, komunitas, musisi, perupa, sineas, pedagang rilisan, pembuat kaus, penulis, pengarsip, keluarga, dan masyarakat umum lewat medium musik.
Cherrypop Festival dirancang bukan hanya sebagai pagelaran musik semata, tetapi menjadi melting pot, tempat para pelaku industri kreatif dan pencinta karya terkoneksi sehingga bisa melahirkan ruang-ruang baru untuk bertumbuh maupun berkolaborasi.
Dari Seniman Pendatang Hingga Musisi Mitos, Semua Diberi Ruang
Pertunjukan Stars and Rabbit di panggung Cherrypop 2026, Prambanan.

Sesuai dengan temanya, "Rekreasi, Peristiwa, dan Lima Tahun", festival musik ini dirancang menjadi tempat orang berhenti sejenak dari rutinitas kemudian berekreasi dengan duduk sejenak di rerumputan candi dan mendengarkan musik tanpa merasa sedang mengejar sesuatu.
Para penonton datang untuk menikmati band kesukaannya, lantas tersesat menuju pertunjukan yang tak dikenalnya dan pulang sambil membawa daftar musisi yang baru dikenal untuk dimasukkan dalam playlist.
Hal inilah yang dirasakan oleh Gisca, remaja 20-an yang datang dari Klaten bersama kekasihnya. Mulanya ia datang dengan tujuan utama menikmati pertunjukan Nadin Amizah dan Sal Priadi. Pada akhirnya, di penghujung festival ia jatuh cinta dengan The Adam.
"Aku pernah dengar sepintas kalau cowokku pas muter, tapi belum suka. Bahkan aku nggak tau itu lagu siapa. Tapi pas lihat pertunjukannya langsung ternyata seru abis," kata Gisca. Ia mengaku suka dengan lagu "Timur" karena menurutnya liriknya romantis tapi tidak chessy.
Marketing Communication Manager Cherrypop, Bayu Kristiawan, menjelaskan pemilihan pengisi acara Cherrypop tahun ini dilakukan berdasarkan empat kategori, yakni populer, emerging, mitos, dan special set. Hal inilah yang membuat line up Cherrypop terasa begitu meriah dan bagi beberapa orang dianggap "random".
Beberapa musisi hari pertama yang masuk dalam kategori mitos adalah Start and Rabbit, Senyawa, Polka Wars, dan Lipstik Lipsing. Kategori mitos sendiri merujuk pada musisi yang tidak bubar, tetapi sudah jarang tampil.
Sebagai band penutup di hari pertama, Stars and Rabbit menjadi band yang sangat dinanti oleh penggemarnya. Penampilan mereka disambut dengan sangat meriah. Di bawah temaram langit Prambanan, Stars and Rabbit berhasil menyisir ribuan penonton yang hadir.
"Ini kali pertamanya aku lihat Stars and Rabbit perform live, jadi merasa antusias banget. Sebenarnya sudah dengerin band ini dari SMA, tapi belum sempat lihat mereka manggung. Jadi momen kemarin itu memorable sekali, karena terus flashback ke tahun 2016-an," ujar Wijaya, penonton asal Wonogiri, saat ditemui di waktu terpisah.
Wijaya merasa sangat senang dan mengapresasi Cherrypop yang berhasil menghadirkan musisi-musisi "gaib" yang sudah jarang sekali muncul di publik seperti Stars and Rabbit ini.
Selain kemunculan musisi "mitos", hal lain yang menarik dari gelaran Cherrypop adalah adanya kategori special set, yakni musisi yang menampilkan set list khusus mereka. Di hari pertama, FSTVLST menyalakan Cherry Stage melalui penampilan “Paradoks Diametral” Set. Sementara, di hari kedua ada Reality Club di Nanaba Stage yan membawakan set spesial bertajuk "What Do You Really Know?".
Tak berhenti sampai di situ, Cherrypop juga memberi ruang bagi musisi pendatang baru dengan sistem open submission. Salah satu grup musik yang terpilih tampil melalui submission Cherrypop x Tunecore adalah Afterhours yang berasal dari Jakarta. Komitmen Cherrypop menjadi ruang bagi semua musisi juga ditunjukkan melalui kehadiran musisi asli Jogja yang lagu-lagunya berbahasa Jawa, NDX A.K.A dan Aftershine.
Dari panggung internasional, Cherrypop menghadirkan beberapa musisi asal Jepang yang tampil sangat energik, seperti Daruma Rollin' dan Kaneyorimasaru. Hal ini memberikan nuansa yang segar dan berbeda. Suasana menjadi pecah saat Kaneyorimasaru menyanyikan potongan lagu "Sayidan" milik band asal Jogja, Shaggydog. Mereka disambut koor penonton menyanyikan lirik "Di Sayidan, di jalanan, angkat s'kali lagi gelasmu kawan".
Ajang Suarakan Keresahan
Tak hanya menjadi ruang bagi para musisi untuk menghibur dan menyapa para penggemarnya, para musisi juga menjadikan Cherrypop sebagai ajang untuk menyuarakan keresahan.
Di Chilli Stage, grup musik digital hardcore asal Yogyakarta, Teknoshit, mengeluarkan kritik tajam terhadap kondisi politik dan pemerintahan saat ini. Di hadapan pengunjung Cherrypop 2026, Teknoshit membawakan lagu-lagu mereka yang liriknya penuh dengan kritik sosial dan perlawanan.
Musisi lain yang menyampaikan kritik dengan kuat adalah Majelis Lidah Berduri. Saat di atas panggung, sang vokalis, Ugoran Prasad, menyinggung persoalan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa lalu dan isu-isu lainnya.
Ia juga mengkritisi keterlibatan tentara yang telalu masif dalam berbagai program pemerintah. Hal tersebut ia katakan sesaat sebelum membawakan lagu "Dapur, NKK/BKK" yang salah satu penggalan liriknya berbunyi "kota sudah dikepung tentara".
Tak hanya melalui orasi, kritik Majelis Lidah Berduri juga disampaikan melalui visual yang ditampilkan di layar panggung. Berita-berita keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditampikan sebagai bagian dari visual pertunjukkan.
Lebih dari Sekadar Festival Musik
Pertunjukan Cherrypop 2026 di Candi Prambanan

Selain pertunjukan musik, Cherry Pop yang telah digelar pada 22-23 Agustus 2026 juga menghadirkan berbagai aktivitas pendukung dan program-program menarik yang bisa dinikmati pengunjung. Hal tersebut membuat pengalaman pengunjung tidak hanya berpusat pada penampilan di atas panggung, tetapi juga pada suasana festival secara keseluruhan.
Cherry Distrik masih menjadi ruang yang paling diminati oleh pengunjung. Di area ini, pengunjung bisa mendapatkan aneka rilisan fisik dan eksklusif karya musisi-musisi favorit mereka. Antrean pengunjung yang ingin membeli kaos tampak mengular memenuhi area.
Festival juga dilengkapi dengan Cherry Market tempat membeli aneka jajanan, serta Cherry Kids, sebuah sebuah ruang aktivasi bagi anak-anak berupa workshop dongeng, menggambar, dan mewarnai.
Terlepas dari beberapa kekurangan yang ada, seperti antrean yang panjang maupun asap rokok yang banyak terlihat di area festival, Cherrypop 2026 cukup sukses menjadi salah satu festival musik tahunan yang layak dinanti para penggemar maupun musisi yang tampil.
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































