Menuju konten utama

Prambanan Jazz 2026, Perayaan Sukacita untuk Semua

Mengusung tema Celebrate the Joy, Prambanan Jazz 2026 menyajikan festival musik penuh sukacita untuk semua kalangan dan golongan usia.

Prambanan Jazz 2026, Perayaan Sukacita untuk Semua
Prambanan Jazz 2026. FOTO/Dok. Tim Media Prambanan Jazz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Idgitaf sedang melantunkan lagu "Masih Ada Cahaya" saat saya memasuki area Rukun Stage di hari pertama Prambanan Jazz (PJF) 2026 di Yogyakarta pada Jumat (3/7). Dengan gaun kuning cerah dan mengenakan topi koboi, ia terlihat lincah menguasai panggung.

Di bawah cemerlang cahaya langit sore dan berlatarkan Candi Prambanan yang megah, lantunan lirik "Di balik mendung hatimu ku lihat sesuatu di situ, masih ada cahaya..." yang diikuti koor penonton terasa jauh lebih mengena di hati.

Sementara Idgitaf membius penonton, Perunggu tengah bersiap tampil. Perunggu, yang dikenal sebagai band indie rock atau rock alternatif, menjadi salah satu line up di Prambanan Jazz 2026 yang akan mengusung konsep Playing Jazz.

Anas Syahrul Alimi, pendiri Rajawali Indonesia dan CEO PJF, dalam konferensi pers pada Kamis (2/7/2026), mengatakan, salah satu yang membedakan Prambanan Jazz 2026 dengan tahun-tahun sebelumnya adalah adanya konsep Playing Jazz. Band atau musisi lintas genre ditantang dan diberi ruang untuk mengeksplorasi musik jazz dengan pendekatan mereka sendiri.

Mengingat jazz bukan akar musik mereka, Perunggu lantas menggandeng trio musisi elektronik jazz, Littlefingers, untuk tampil di panggung Prambanan Jazz 2026. Kolaborasi ini rupanya membuat aransemen beberapa hit Perunggu terdengar berbeda.

"Kami gak bisa (jazz), eh bukan gak bisa deng, tapi gak mampu," ungkap Maul Ibrahim sang vokalis di atas panggung dan langsung disambut gempita para penonton.

Selain Perunggu, Salma Salsabil juga menjadi musisi yang membawakan konsep Playing Jazz. Ia tiba-tiba muncul di panggung Lomba Sihir untuk berduet dengan Natasha Udu dalam lagu "Nirlaba". Salma tampil begitu memukau di panggungnya sendiri.

Juara Indonesian Idol 2023 ini membawakan lagu-lagu hitnya seperti "Boleh Juga", "Bunga Hati", "Hatchu", hingga "Berharap Pada Timur" dengan aransemen yang segar dan jazzy. Aksi Salma pun membuat para penonton ikut bergoyang dan berdendang.

Semakin malam, deretan line up yang tampil di panggung Prambanan Jazz hari pertama kian meriah. Hadirin pun histeris ketika band legendaris internasional, Michael Learns To Rock (MLTR), dan Xdinary Heroes asal Korea Selatan tampil.

Selain itu, ada pula penampilan Sal Priadi, Barasuara, hingga The Pantura di sesi Playing Jazz yang turut membuat suasana Prambanan Jazz malam perdana semakin semarak.

Prambanan Jazz hari berikutnya tak kalah seru. Menghadirkan NIKI sebagai headliner internasional, tiket sudah sold out sejak beberapa hari sebelumnya. Sekitar 35 ribu pengunjung memadati seluruh area festival di hari kedua membuat suasana terasa jauh lebih riuh.

Mereka yang datang pun bukan hanya dari Yogyakarta dan sekitarnya. Salah satunya adalah Nindya, asal Surabaya. Perempuan berusia 32 tahun ini antusias ke Prambanan Jazz 2026 demi menyaksikan langsung penampilan NIKI.

Meskipun hanya bisa menonton di barisan belakang lantaran pengunjung yang membludak, Nindya mengaku tetap happy. "Enggak sia-sia dibela-belain datang dari jauh, ini rasanya kayak nonton konser tunggal NIKI," ujarnya.

Prambanan Jazz 2026 seolah menjadi panggungnya NIKI. Penyanyi Indonesia yang kini berbasis di Amerika Serikat ini tampil 1,5 jam dan membawakan lebih dari 20 lagu, termasuk "Buzz", "Summertime", "High School in Jakarta", "You'll Be In My Heart", hingga "Backburner" dipadu dengan "Take A Chance".

Ruang Lintas Generasi untuk Merayakan Sukacita

Prambanan Jazz 2026

Prambanan Jazz 2026. FOTO/Dok. Tim Media Prambanan Jazz

Mengusung tema Celebrate of Joy, Prambanan Jazz 2026 benar-benar menjadi tempat untuk merayakan sukacita oleh semua generasi. Perayaan sukacita dimulai jauh sebelum musisi pertama naik panggung.

Gerbang masuk bernuansa monokrom menyambut pengunjung dengan warna yang riang dan kontras namun tetap menyatu dengan keagungan Candi Prambanan. Hasil karya seniman Eko Nugroho ini menjelma sebagai gerbang imajinasi, penanda bahwa perjalanan sukacita telah dimulai.

Sukacita tahun ini hadir dalam beragam bentuk, berpadu melalui musik, seni rupa, hingga seni pertunjukan. Bagi generasi lawas, mereka bisa merasakan sukacita dengan bernostalgia mendengarkan lagu-lagu MLTR, Fariz RM, Kla Project, maupun Java Jive. Ada pula Jikustik yang tampil lengkap bersama Pongky dan membawakan lagu-lagu populer mereka di masa lalu.

Di sisi lain, kehadiran musisi internasional yang sedang naik daun, seperti Henry Moodie, serta dua band Korea, The Rose dan Xdinary Heroes, menjadi magnet tersendiri bagi generasi kiwari yang datang dari segala penjuru luar Jogja. Bahkan, ada rombongan Villains (penggemar Xdinary Heroes) yang menyewa 7 gerbong kereta api demi menyaksikan idola mereka di Prambanan Jazz 2026.

Pada perayaannya yang ke-12 ini, Prambanan Jazz kembali berhasil menjadi ruang pertemuan lintas generasi untuk merasakan kegembiraan melalui perhelatan musik tanpa sekat. Semua bisa menikmati dengan riang gembira.

Anas Alimi, CEO PJF 2025, mengungkapkan bahwa Prambanan Jazz Festival adalah rumah yang selalu terbuka untuk siapa saja. Prambanan Jazz, lanjut Anas, adalah ruang untuk pulang, tempat yang menghadirkan rasa sukacita bagi siapa saja, dan tempat orang-orang untuk terus kembali.

Prambanan Jazz 2026 yang Semakin Jazzy

Prambanan Jazz 2026

Prambanan Jazz 2026. FOTO/Dok. Tim Media Prambanan Jazz

Bisa dibilang, gelaran Prambanan Jazz Festival 2026 berlangsung dengan gemilang. Dari pemilihan bintang tamu, line up tahun ini mampu mewadahi selera nyaris semua golongan penonton, baik generasi muda maupun yang senior. Semua era diberikan ruang untuk menyaksikan penampilan terbaik para musisi di zamannya masing-masing.

Porsi untuk musik jazz juga jauh lebih besar jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kehadiran Joey Alexander featuring Jaleel Shaw, dengan special guest Dewa Budjana dan Natasha Elvira, menguatkan identitas jazz pagelaran ini.

Selain itu, ada pula Trisum, Margie Segers, hingga Karimata yang menampilkan pertunjukan jazz dengan sangat apik. Bahkan, Tulus pun mengaransemen lagu Sepatu dan Tanggal Merah menjadi sangat jazzy.

Tak hanyapara penampil yang apik, cuaca cerah selama tiga hari berturut-turut menjadi berkah tersendiri. Para penonton bisa menikmati rangkaian pertunjukan dengan atmosfer yang menyenangkan. Tiap senja, pengunjung disuguhi dengan pemandangan matahari terbenam yang cantik. Menjelang malam, bulan pun muncul dan membuat langit Prambanan semakin terang.

Hal menyenangkan lainnya dari PJF 2026 adalah pertunjukan selalu berjalan tepat waktu sesuai dengan rundown. Pengunjung tidak perlu bingung dan bisa berpatokan pada jadwal apabila ingin berganti panggung untuk menonton musisi yang disukai.

Dengan semua catatan positif ini, tak heran jika masyarakat sudah antusias untuk segera menyambut early bid tiket Prambanan Jazz 2027 meski acara baru selesai beberapa hari lalu. Hal ini menjadi tengara bahwa para pengunjung merasa puas dengan gelaran Prambanan Jazz tahun ini.

Menikmati PJF 2026 merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Keluarga muda dengan anak-anak yang berlarian, remaja dengan outfit stylish saling berbagi freebies, penonton senior duduk di rerumputan menunggu musisi idolanya tampil, pasangan yang bergandengan tangan, semuanya menebarkan energi positif dan membuat sudut bibir melengkung naik.

"Mungkin tahun ini belum menjadi versi terbaik bagi sebagian penonton. Namun bagi kami, ini adalah versi terbaik dalam menghadirkan berbagai pembaruan sebagai awal babak baru Prambanan Jazz. Semarak yang tercipta menjadi semangat bagi kami untuk menghadirkan pengalaman yang lebih baik di tahun depan," kata Tovic Raharja, Festival Director PJF.

Baca juga artikel terkait FESTIVAL MUSIK atau tulisan lainnya dari Elisabet Murni P

Penulis: Elisabet Murni P
Editor: Iswara N Raditya