Menuju konten utama

BRI Jazz Gunung Bromo 2026 Perluas Jangkauan Festival Musik

Jazz Gunung Indonesia ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berfokus di musik, tetapi juga destinasi wisata, seni dan budaya.

BRI Jazz Gunung Bromo 2026 Perluas Jangkauan Festival Musik
Peresmian Bromopedia oleh Sigit Pramono Founder Jazz Gunung Indonesia pada Pembukaan BRI Jazz Gunung Bromo 2026, di Jiwa Jawa Resort Bromo, Jawa Timur pada Jumat (24/7/2026). Farahiyah Dalilah/tirto.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - BRI Jazz Gunung Bromo 2026 sukses mengajak penonton menikmati pertunjukan musik jazz, destinasi wisata, seni, dan budaya dalam satu rangkaian festival. Tahun ini, dengan mengusung tema "Jazztination, Jazz and Destination", ajang tersebut untuk kedua kalinya digelar selama lebih dari sepekan.

"Tahun lalu kami melakukan format ini dan menganggapnya sebagai terobosan yang bisa diulangi tahun ini," kata Bagas, CEO Jazz Gunung Indonesia saat Press Conference BRI Jazz Gunung Bromo di Jiwa Jawa Bromo, pada Jumat (24/7/2026).

Rangkaian BRI Jazz Gunung Bromo 2026 dimulai pada 18 Juli lalu dengan pembukaan acara di Jembatan Kaca Seruni Point, destinasi terbaru di Probolinggo. Acara ini menghadirkan NonaRia, Komunitas Kemisan Jazz Malang, Rest Area Soto Nusantara, hingga Sendratari Jathilan Majapahit.

Esoknya diselenggarakan Jazz Gunung Pagi-Pagi Trekking Club yang mengajak para peserta kegiatan ini berjalan kaki sambil berburu foto. Selain itu, diadakan juga workshop fotografi di IFI Surabaya yang menjadi rangkaian acara tahun ini dan diikuti 70-an peserta. Bromo Jazz Camp yang sudah memasuki edisi ketiga pun kembali dihadirkan pada 19-24 Juli 2026.

Melalui berbagai agenda itu, Jazz Gunung Indonesia ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berfokus pada musik, tetapi juga destinasi wisata, seni, dan budaya.

"Kami ingin menggabungkan konsep destinasi wisata dengan destinasi seni pertunjukan ini sebagai salah satu alternatif untuk teman-teman datang ke satu destinasi wisata. Jadi tidak hanya menikmati pemandangan tetapi juga budaya dan juga seninya," jelas Bagas.

Salah satu penerapan konsep tersebut adalah Bromopedia, pameran seni hasil kolaborasi dengan Pascasarjana ISI Yogyakarta. Pameran ini menampilkan berbagai karya seni mulai dari fotografi, seni rupa, dan patung yang memuat panorama serta kehidupan masyarakat Bromo.

Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Pascasarjana ISI Yogya, Muhammad Fajar Apriyanto, mengatakan Bromopedia jadi ruang bagi seniman visual menerjemahkan Bromo melalui berbagai medium karya. Dia menilai acara ini turut mendukung regenerasi seniman di bidang seni visual.

"Kami ingin terus mendukung regenerasi kesenian, khususnya di bidang seni visual," ujar Apriyanto.

Sementara itu, Founder Jazz Gunung Indonesia, Sigit Pramono, mengatakan Jazz Gunung Indonesia selalu berkomitmen menjaga keseimbangan nilai estetik dan ekonomi, bahkan sejak pertama kali digelar pada 2009 lalu. Menurutnya, Jazz Gunung tidak pernah berupaya memperbesar skala dengan menambah panggung seperti festival musik pada umumnya.

"Kami selama ini tak akan tergoda memperbesar Jazz Gunung dengan beberapa panggung seperti di konser atau festival lain, kami setia pada satu panggung. Yang lain tambahan aja. Kami ingin, tamu atau penonton yang menonton Jazz Gunung ini benar-benar menikmati musik dengan suasana alam yang luar biasa," kata Sigit.

Sigit menilai inisiatif menggelar Jazz Gunung di berbagai lokasi berbeda seperti Gunung Ijen, Gunung Bromo, Gunung Slamet, dan Gunung Burangrang, efektif untuk memperluas jangkauan penonton tanpa menghilangkan identitas festival.

Seiring dengan itu, Jazz Gunung Indonesia berupaya mendukung regenerasi musisi jazz di tanah air. Karena itu, Bromo Jazz Camp diselenggarakan. Menurut Sigit, program yang telah berjalan selama tiga tahun tersebut menjadi bentuk tanggung jawab penyelenggara untuk melahirkan generasi baru setelah hampir seluruh musisi jazz Indonesia pernah tampil di ajang Jazz Gunung.

"Tujuannya untuk regenerasi musisi jazz. Itu menjadi bentuk tanggung jawab kami agar musisi jazz terus bertambah," jelas Sigit.

Komitmen tersebut juga tercermin dalam proses kurasi penampil. Kurator Jazz Gunung Indonesia sekaligus Mentor Bromo Jazz Camp, Sri Hanuraga, mengatakan Jazz Gunung menghadirkan perpaduan antara musisi legendaris, musisi internasional, komunitas, hingga penampil yang memadukan musik nusantara dengan jazz.

Selain itu, pada tahun ini terdapat kategori tiket Before Sunset dengan harga yang lebih terjangkau dan konsep free seating untuk menjangkau penonton baru. Menurut Bagas, kategori ini diharapkan dapat memperluas audiens karena pengunjung tidak hanya menikmati konser, tetapi juga bazar UMKM, booth sponsor, serta berbagai aktivitas pendukung di area festival.

Penyelenggaraan BRI Jazz Gunung Bromo 2026 kembali didukung oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Arya Gani Agusta selaku Pemimpin Cabang BRI Probolinggo, mengatakan dukungan tersebut merupakan bentuk komitmen BRI dalam mendorong kemajuan seni, pariwisata, dan ekonomi kreatif melalui digitalisasi transaksi menggunakan EDC dan QRIS di area festival.

"Harapannya, transaksi digital semakin meluas dan mampu mendorong pariwisata berkelanjutan sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat," ujar Arya saat Press Conference BRI Jazz Gunung Bromo di Jiwa Jawa Bromo, pada Jumat (24/7/2026).

Puncak acara BRI Jazz Gunung Bromo 2026 digelar dua hari, 24-25 Juli 2026, di Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo. Pagelaran festival dimeriahkan oleh penampilan Batavia Collective, Bilal Indrajaya, Bromo Jazz Camp, Ali, Indra Lesmana LLW ft. Eva Celia & Teza Sumendra, Isyana Sarasvati, Ring of Fire Project ft. Simone Prattico & Sri Hanuraga, Kevin Yosua Big 6 ft. Nesia Ardi, Littlefingers, Plutato ft. Cait Lin, Simone Prattico Java Collective ft. Sri Hanuraga & Kevin Yosua, dan Watchdog.

Baca juga artikel terkait JAZZ GUNUNG BROMO atau tulisan lainnya dari Farahiyah Dalilah

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Farahiyah Dalilah
Editor: Addi M Idhom