Menuju konten utama

Cherry District Catat 14.228 Pengunjung Selama 10 Hari

Energi dari ruang pertemuan ini menjadi langkah awal menuju perayaan yang lebih besar ketika Cherrypop 2026 digelar pada 22–23 Agustus mendatang.

Cherry District Catat 14.228 Pengunjung Selama 10 Hari
Cherry District. Foto/ Cherrypop Festival
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Selama sepuluh hari terakhir, area Zona D (Art Gallery) di Gelora Inovasi Kreativitas UGM berubah menjadi ruang berkumpul bagi berbagai elemen skena kreatif. Melalui program Cherry District: Road to Cherrypop 2026, beragam produk kreatif, mulai dari merchandise band, buku, rilisan musik fisik, hingga art merchandise, hadir dalam satu ruang yang dipenuhi aktivitas komunitas dan pertukaran ide.

Kegiatan pengantar menuju Cherrypop Festival tersebut berlangsung pada 27 Februari hingga 8 Maret 2026 dan mencatat total kunjungan sebanyak 14.228 orang.

Cherry District dirancang sebagai ruang pertemuan lintas ekosistem kreatif yang mempertemukan musik, literasi, seni visual, dan berbagai produk independen. Dalam penyelenggaraannya, program ini melibatkan lebih dari 20 tenant merchandise band, 10 toko merchandise independen, 10 penerbit buku, 10 record store, serta sekitar 50 pelaku art merchandise yang turut meramaikan area pameran dan interaksi kreatif.

Kolaborasi lintas sektor juga terbangun melalui keterlibatan sejumlah komunitas dan organisasi, seperti Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Bursa Seni, Cherrymerch, serta Jogja Record Store Club.

Tak hanya menghadirkan area pamer dan distribusi karya, Cherry District juga menyuguhkan berbagai program yang memperkaya pengalaman pengunjung. Beberapa kegiatan yang digelar antara lain Bioskop Musik, Kultum Skena, talkshow, spinning session, hearing session, live screen print, live sketch, hingga workshop.

Program-program tersebut terselenggara melalui kolaborasi dengan sejumlah komunitas kreatif seperti Pehagengsi, Rekam Skena, Tutbek, Koloni Rekords, Debarbar, Skenu, Rupakara.room, dan Hunting Full Senyum.

Pada hari terakhir, Cherry District ditutup dengan sesi pertunjukan musik yang menampilkan sejumlah band asal Yogyakarta, di antaranya The Bunbury, Bleeedrz, Dabwok, serta Loomer. Penampilan para musisi tersebut menambah semarak suasana penutupan sekaligus menegaskan posisi musik sebagai fondasi utama dalam ekosistem acara ini.

Pihak penyelenggara menyebut Cherry District sebagai ruang penting yang mempertemukan berbagai elemen dalam ekosistem kreatif yang selama ini menjadi bagian dari semangat Cherrypop.

“Cherry District kami bayangkan sebagai ruang temu yang lebih dekat antara publik dengan berbagai pelaku di ekosistem kreatif, mulai dari musik, buku, hingga seni visual. Antusiasme yang terlihat selama sepuluh hari ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang interaksi seperti ini masih sangat besar,” ujar Arsita Pinandita, Creative Director Cherrypop.

Ia menambahkan, dinamika pertemuan komunitas yang terjadi selama Cherry District menjadi energi penting dalam menyongsong festival utama tahun ini.

“Melalui Cherry District, kami ingin membuka percakapan, mempertemukan komunitas, sekaligus merayakan praktik-praktik kreatif yang tumbuh di skena independen. Energi dari pertemuan ini menjadi bekal penting menuju Cherrypop tahun ini,” tambahnya.

Sebagai program pengantar menuju festival utama, Cherry District menunjukkan bahwa kehidupan skena kreatif tidak hanya hadir di atas panggung konser, tetapi juga di ruang-ruang distribusi karya—di antara rak buku, deretan piringan hitam, hingga meja-meja merchandise yang lahir dari semangat komunitas yang sama.

Energi dari ruang pertemuan ini menjadi langkah awal menuju perayaan yang lebih besar ketika Cherrypop 2026 digelar pada 22–23 Agustus mendatang.

Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan lainnya dari Siaran Pers

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Siaran Pers
Editor: Nuran Wibisono