Menuju konten utama

Cerita Cindy: Dari Penyayang Kucing hingga Bangun Shelter

Cindy menjelaskan, rasa pedulilah yang memotivasi dirinya membangun shelter kucing tersebut.

Cerita Cindy: Dari Penyayang Kucing hingga Bangun Shelter
Cindy Dari Penyayang Kucing Membangun Rumah Shelter. tirto.id/Firman
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di sebuah rumah di bilangan Cibaduyut, Bandung, beberapa ruangan disulap menjadi tempat singgah kucing. Kamar-kamar tersebut menjadi ruang aman bagi kucing yang datang dari berbagai wilayah, dengan pelbagai alasannya, termasuk pemelihara yang tak sanggup mengurus lagi. Rumah itu tidak hanya jadi penampungan bagi kucing, tetapi jadi tempat dimana hewan favorit banyak orang ini untuk kembali tumbuh.

Ratusan kucing itu tampak bermalas-malasan di penjuru ruang rumah. Ada yang tidur di atas pintu, mejeng manja di tangga, berkerumun menikmati makanan, atau cakar-cakaran satu sama lain. Setidaknya ada 300 ekor kucing dengan berbagai ras, yang ada di shelter kucing Bandung.

Kucing-kucing yang baru datang disimpan di ruang khusus, sembari diberi makan dan vitamin. Agar tidak stress mereka juga dibiarkan berjalan-jalan di sekitar rumah.

Bila beruntung, kucing-kucing ini mungkin akan menemukan rumah baru melalui adopsi. Meski begitu, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi orang yang ingin mengadopsi kucing dari shelter ini. Salah satunya, orang yang mengadopsi harus bertanggung jawab dan sayang.

"Saya pastiin mereka punya rumah dan sayang sama mereka," kata Cindy Sesiliana (19 tahun), pemilik Shelter Adopsi Kucing Bandung pada kontributor Tirto, Rabu (30/4/2025).

Di awal shelter ini dibangun lima tahun lalu, hanya ada beberapa ekor kucing. Kemudian, jumlahnya terus bertambah, hingga Cindy harus terus berpindah-pindah rumah. Cindy menjelaskan, rasa pedulilah yang memotivasi dirinya membangun shelter ini.

"Awalnya dari kasihan, kayak banyak orang, yang ada masalah dikit, kemudian buang (kucing) ke pasar. Banyak kitten tertabrak, banyak yang dipukul lagi hamil, daripada orang dibuang ke pasar, disediain rumah di sini," kata Cindy.

Kucing-kucing ini, kata Cindy, memiliki perasaan dan tidak sepantasnya diperlakukan kasar hingga dibuang. Apalagi sampai diperlakukan kasar seperti dipukul atau ditabrak.

Cindy

Cindy Dari Penyayang Kucing Membangun Rumah Shelter. tirto.id/Firman

"Minimnya kepedulian orang, buat sadar bahwa mereka juga butuh punya perasaan. Nggak sepantasnya mereka dibuang," jelas Cindy sambil mengelus kucing-kucing yang mendekatinya.

Kucing-kucing liar yang datang juga disterilisasi dan mendapat perawatan dari dokter hewan. Tidak hanya kucing liar, ada juga kucing peliharaan yang pemiliknya sudah tak sanggup merawat. Padahal, kalau memang masalahnya sepele, seperti buang air besar sembarangan, Cindy bilang baiknya jangan langsung diserahkan ke shelter.

Namun, Cindy juga terbuka untuk orang-orang yang ingin berdonasi atau mengadopsi kucing-kucingnya, lewat melalui akun Instagramnya, @adopsikucingbdg_.

Di shelter ini, tak hanya kucing, tapi juga ada anjing-anjing yang mengalami nasib serupa. Anjing-anjing itu juga diperlakukan dengan kasih sayang.

Selama ini, untuk operasional shelter, Cindy mesti merogoh kocek pribadi, ditambah donasi.

“Semua masih sendiri, mulai dari dry food sekarung sehari, tongkol kepala ayam 20 kilo sehari, dibagi dua 10 kilo kucing, anjing. Belum vitaminnya, belum jasa dokter," bebernya.

Cindy juga menyediakan lahan di Soreang untuk pemakaman kucing atau anjing yang meninggal. Kasih sayang terhadap hewan Cindy didukung juga oleh keluarga.

Hidayat (63 tahun) mendukung sepenuhnya yang dilakukan oleh sang anak. Menurutnya, dari sejak kecil memang Cindy adalah penyayang binatang.

Pemerintah Bantu Sterilisasi

Tak hanya shelter, pemerintah beberapa daerah juga berusaha menunjukkan kepedulian terhadap hewan dengan program-programnya.

Pemerintah Kota Jakarta Timur (Pemkot Jaktim), misalnya, menargetkan sterilisasi 2.000 ekor kucing di daerah itu untuk menekan populasinya, melalui Suku Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP).

"Target keseluruhan di Jakarta Timur untuk tahun ini sebanyak 2.000 ekor kucing, ini sasarannya. Ini bagian upaya kita untuk memperkecil populasi kucing karena kembang biak kucing di sini sangat cepat," kata Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Timur, Taufik Yulianto, seperti dilansir oleh Antara, pada Senin (28/4/2025).

Target tersebut meningkat dibandingkan 2024 sebanyak 500 ekor kucing karena banyaknya aduan terkait kucing liar dan ini bersinergi dengan Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) dan Dinas KPKP DKI.

Pelaksanaan sterilisasi kucing itu akan dilakukan di setiap kecamatan dengan lokasi ditentukan PDHI dengan klinik swasta setempat.

Selain itu, Sudin KPKP Jakarta Timur juga bekerja sama dengan komunitas pecinta kucing lainnya.

"Jadi, ada komunitas pecinta kucing atau para relawan dari pecinta kucing yang menangkap kucing liar di setiap wilayah untuk membantu pemerintah, menjadi mitra kita. Mereka menangkap, kemudian difasilitasi untuk sterilisasi, lalu dilepas kembali," ujar Taufik.

Senada, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan (Pemkot Jaksel) juga baru-baru ini mengumumkan program steril kucing lokal, agar populasi kucing di wilayah itu terkontrol. Pemkot Jaksel juga menggandeng sejumlah komunitas pecinta kucing.

"Ini memang program yang saya juga tekankan dilakukan di setiap kecamatan se-Jakarta Selatan, tak terkecuali menyasar kucing-kucing liar di pasar atau lingkungan warga," kata Wali Kota Jakarta Selatan, Munjirin, di Jakarta, Kamis (24/4/2025), seperti dilansir Antara.

Dia mengapresiasi sterilisasi kucing gratis yang dilakukan rutin oleh Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan yang berkolaborasi bersama beberapa komunitas pecinta kucing.

Lebih lanjut, dia juga berpesan, kepada pemilik hewan peliharaan untuk meningkatkan kepedulian dengan melakukan sterilisasi hewan.

Baca juga artikel terkait KUCING atau tulisan lainnya dari Akmal Firmansyah

tirto.id - News Plus
Kontributor: Akmal Firmansyah
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Farida Susanty