Menuju konten utama

Cara Bermain Pacu Jalur, Jumlah Pemain, & Sejarahnya

Pacu jalur menjadi salah satu budaya Indonesia yang patut dilestarikan. Pelajari tentang cara bermain pacu jalur, jumlah pemain, hingga sejarahnya di sini.

Cara Bermain Pacu Jalur, Jumlah Pemain, & Sejarahnya
Penari CIlik di Festival Pacu Jalur. foto/Dok. Kemenpareraft
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Cara bermain pacu jalur kini tak hanya menjadi perhatian warga lokal, tapi juga masyarakat dunia. Gambar pacu jalur Riau pun jadi sorotan banyak orang setelah aksi bocah Tukang Tari viral di media sosial.

Belum lama ini, atraksi penari pacu jalur memang sedang digandrungi dunia. Klub sepak bola besar seperti AC Milan dan Paris Saint-Germain (PSG) turut meramaikan tren ini melalui akun media sosial mereka dengan mengikuti gaya sang Tukang Tari.

Pacu jalur sendiri merupakan perlombaan perahu tradisional khas masyarakat Kuantan Singingi, Riau. Tradisi ini sudah muncul sejak ratusan tahun lalu dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.

Selain perlombaannya, salah satu daya tarik pacu jalur adalah keberadaan Tukang Tari atau yang juga dikenal dengan sebutan Anak Coki. Tukang Tari ini biasanya adalah anak-anak berusia sekitar 10-12 tahun yang memiliki bobot tidak terlalu berat.

Sesuai namanya, Tukang Tari akan melakukan atraksi tari di bagian ujung perahu. Sambil menjaga keseimbangan, bocah-bocah ini akan asyik menari dan bergoyang seiring dengan perahu yang membelah Sungai Kuantan.

Dari Mana Asal Pacu Jalur?

Sebelum mengetahui cara bermain pacu jalur, mari pahami dulu dari mana perlombaan ini berasal. Pacu jalur berasal dari daerah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau, Indonesia.

Secara bahasa, pacu jalur dapat diartikan sebagai perlombaan sampan. Dalam bahasa daerah Kuantan Singingi, jalur adalah sampan atau perahu panjang. Perlombaan ini melibatkan puluhan pendayung (anak pacu) yang bekerja sama dengan kompak agar sampan melaju dengan cepat.

Jalur biasanya dibuat dari kayu gelondongan utuh dan tanpa sambungan. Dikutip dari laman Indonesia Baik, kayu yang digunakan bisa berupa kayu kure, banio, tonam, hingga kayu meranti yang panjangnya bisa mencapai 25-27 meter.

Sampai saat ini, pacu jalur tetap dilestarikan di Kuantan Singingi. Pemerintah setempat pun rutin menggelar Festival Pacu Jalur sebagai salah satu daya tarik wisata di Provinsi Riau.

Penari CIlik di Festival Pacu Jalur

Penari CIlik di Festival Pacu Jalur. foto/Dok. Kemenpareraft

Bagaimana Sejarah Pacu Jalur?

Memahami sejarah dapat menambah wawasan sebelum mempelajari cara bermain pacu jalur. Berdasarkan informasi dari website resmi Kabupaten Kuansing, sejarah pacu jalur berawal pada abad ke-17.

Di masa itu, jalur atau perahu merupakan alat transportasi utama bagi penduduk desa di sepanjang Sungai Kuantan. Perahu-perahu ini digunakan untuk mengangkut orang, hasil pertanian, sekaligus sebagai simbol identitas sosial.

Seiring waktu, jalur akhirnya dihiasi dengan ukiran-ukiran indah dan berbagai aksesori. Jalur-jalur yang terlihat mewah ini pun lebih sering digunakan oleh para penguasa, datuk, atau bangsawan di wilayah tersebut.

Sekitar seratus tahun kemudian, aspek kompetitif dari penggunaan jalur ini mulai berkembang hingga melahirkan perlombaan Pacu Jalur seperti yang dikenal saat ini.

Pada awalnya, perlombaan ini diselenggarakan di desa-desa sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari raya Islam. Namun, seiring berjalannya waktu, pacu jalur bertransformasi menjadi bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang diadakan sekitar bulan Agustus.

Sementara menurut buku Pacu Jalur dan Upacara Perlengkapannya karya Drs. Suwardi MS, sejarah pacu jalur justru berasal dari kalangan petani yang bermukim di sepanjang sungai Batang Kuantan.

Wilayah ini dikenal sebagai kawasan agraris, salah satunya sebagai penghasil tebu. Para petani kerap memanfaatkan waktu istirahat dengan mandi di sungai. Sebelum mandi, para lelaki menaiki perahu-perahu pengangkut tebu hingga muncul ide untuk berlomba.

Lama-kelamaan, kebiasaan berpacu perahu ini berkembang menjadi ajang perlombaan yang lebih terorganisir dan meriah, dikenal dengan nama Pacu Perahu Jalur atau lebih populer disebut Pacu Jalur.

Apa Manfaat dan Tujuan Pacu Jalur?

Tujuan pacu jalur tentunya bukan sebatas hiburan bagi masyarakat setempat. Perlombaan ini memiliki nilai tersendiri sehingga terus dilestarikan di Kuantan Singingi. Berikut beberapa manfaat pacu jalur dan tujuan diselenggarakannya perlombaan tersebut:

1. Memperkuat Persatuan, Kebersamaan, dan Tali Silaturahmi

Dalam satu perahu jalur bisa terdiri dari puluhan pendayung yang harus bekerja sama secara kompak. Tanpa kerja sama dan semangat gotong royong, tim tidak akan bisa menang. Hal ini mengajarkan nilai penting akan kerja sama dan kebersamaan.

Tak hanya di kalangan pendayung, pacu jalur juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat di antara masyarakat. Dari proses pembuatan jalur hingga persiapan dan pelaksanaan lomba, semua elemen masyarakat bahu-membahu berpartisipasi.

Ini menciptakan ikatan sosial yang erat dan memperkuat solidaritas warga setempat. Semangat kebersamaan ini menjadi salah satu nilai yang dijunjung tinggi dalam tradisi pacu jalur.

2. Melestarikan Budaya dan Tradisi Lokal

Sebagai warisan budaya, pacu jalur menjadi medium penting untuk menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Tradisi ini mencakup berbagai aspek seni dan budaya, mulai dari seni teknik pembuatan jalur yang unik, keterampilan mendayung, hingga musik dan tarian khas si Tukang Tari.

Melalui penyelenggaraan festival secara rutin, pacu jalur memastikan bahwa generasi muda tetap mengenal dan menghargai akar budaya mereka sehingga tradisi ini tidak punah dan terus hidup di tengah kemajuan zaman.

3. Meningkatkan Sektor Pariwisata dan Ekonomi Daerah

Pacu Jalur telah menjadi daya tarik pariwisata utama bagi Kabupaten Kuantan Singingi dan Provinsi Riau secara keseluruhan. Festival ini pun berhasil menarik ribuan pengunjung dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan wisatawan mancanegara.

Lonjakan jumlah pengunjung ini secara langsung memberikan dampak positif pada perekonomian lokal. Berbagai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seperti penginapan, restoran, pedagang makanan dan minuman, serta penjual oleh-oleh mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pacu jalur tidak hanya mempromosikan potensi wisata daerah, tapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan lapangan kerja lokal.

PACU PERAHU SUNGAI TEMBESI

Ilustrasi Pendayung. antara foto/wahdi septiawan/kye/16.

Bagaimana Cara Bermain Pacu Jalur dan Berapa Pemainnya?

Cara bermain pacu jalur tidak semudah kelihatannya. Pacu jalur bukan sekadar mendayung perahu, tapi dibutuhkan kekompakan dan kerja sama tim. Selain itu, setiap orang yang ada di atas jalur memiliki perannya masing-masing.

Dalam perlombaan ini, jalur atau perahu yang digunakan memiliki ukuran panjang sekitar 25-40 meter. Jumlah pemain pacu jalur dalam sebuah perahu bisa mencapai 40-60 orang. Perlombaan ini biasanya diikuti oleh ratusan perahu sehingga ada ribuan atlet yang akan berpartisipasi.

Dari puluhan atlet yang ada di atas perahu, tidak semuanya berperan sebagai pendayung. Merujuk pada Peraturan Bupati Kuantan Singingi Nomor 16 Tahun 2023, setiap jalur setidaknya harus memiliki beberapa posisi berikut:

  • Anak Pacuan/Pendayung: Berjumlah paling banyak dan berjejer sepanjang perahu. Tugasnya adalah mendayung dengan sinkron dan cepat.
  • Tukang Tari: Penari yang berada di bagian haluan jalur. Tukang Tari juga berfungsi memberikan keseimbangan pada jalur.
  • Tukang Timbo Ruang: orang yang bertugas menimba air jika masuk ke dalam jalur sekaligus memberi semangat pada anak pacuan.
  • Tukang Onjai: Orang yang berdiri di belakang jalur. Tugasnya menentukan arah pada anak pacuan jalur.
Secara tradisional, atraksi pacu jalur biasanya dimulai dengan tanda bunyi meriam tiga kali. Sistem pacu jalur mirip dengan perlombaan pada umumnya, yakni jalur yang berhasil mencapai garis finish yang sudah ditentukan, maka dialah yang akan menang.

Berapa Meter Panjang Pacu Jalur?

Jalur atau perahu yang digunakan dalam perlombaan bisa mencapai panjang 25-40 meter. Perahu ini pun muat diisi oleh 40-60 atlet. Lalu, berapa panjang tempat pacu jalur?

Semua jalur akan berlaga di atas sungai dengan jarak sekitar 1 km. Lebar sungai tergantung pada kondisi sungai tempat pacu jalur diadakan.

Jika air sungai surut, tentu lebar sungai bisa berubah menjadi lebih sempit, begitu pula sebaliknya. Sungai Batang Kuantan sendiri diketahui memiliki lebar sekitar 150-200 meter.

Kapan Pacu Jalur Diadakan 2025?

Pacu jalur kegiatan dan tradisi yang tak hanya menghibur dan menyenangkan, tapi juga sarat akan makna budaya dan kearifan lokal sekaligus bisa mempererat kebersamaan. Inilah alasan mengapa Festival Pacu Jalur rutin diadakan oleh pemerintah setempat.

Di tahun 2025, pemerintah sempat mengadakan Festival Pacu Jalur Ajang Silaturahmi dalam rangka memeriahkan Hari Raya Idul Fitri. Festival yang digelar pada April 2025 tersebut turut memperebutkan Piala Bergilir Anggota DPRD Kuansing.

Dikutip dari website resmi Kabupaten Kuantan Singingi, Festival Pacu Jalur Tradisional 2025 juga akan digelar pada 20-24 Agustus 2025. Festival ini pun mengangkat tema “Pacu Jalur Mendunia UMKM Semakin Jaya”.

Tak hanya pacu jalur, terdapat rangkaian acara lain yang digelar selama festival berlangsung, mulai dari kegiatan Maelo Jalur, pentas seni, seminar budaya, lomba foto, pameran UMKM, dan masih banyak lagi.

Penari CIlik di Festival Pacu Jalur

Penari CIlik di Festival Pacu Jalur. foto/Dok. Kemenpareraft

Pacu Jalur di Sungai Apa?

Pacu jalur digelar di Sungai Batang Kuantan atau Sungai Indragiri yang masuk dalam wilayah Kuantan Singingi, Riau. Sementara itu, Festival Pacu Jalur 2025 akan digelar di kawasan Tepian Narosa, Teluk Kuantan.

Bagi masyarakat luar daerah yang ingin menyaksikan pacu jalur, tidak perlu khawatir soal akomodasi. Di kawasan ini terdapat cukup banyak hotel atau penginapan yang memang tersedia bagi para wisatawan yang hendak menonton pacu jalur.

Demikian penjelasan tentang cara bermain pacu jalur, sejarah, dan kapan festival perlombaan ini akan digelar. Melalui tradisi ini, kita dapat melihat betapa kayanya budaya lokal yang dimiliki Indonesia, khususnya dari Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Pacu jalur bukan sekadar perlombaan perahu, tapi juga simbol persatuan, semangat juang, dan warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Dengan memahami nilai-nilai di balik tradisi ini, kita diharapkan bisa menghargai dan mendukung pelestarian budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa.

Baca juga artikel terkait BUDAYA atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani