Candu Selingkuh yang Bikin Ketagihan: Faktor Genetik?

Ilustrasi selingkuh. FOTO/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 9 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Reaksi kecanduan saat selingkuh setara dengan rasa ketagihan dari konsumsi narkoba.
Dalam konstruksi masyarakat monogami, kesetiaan dengan satu hubungan adalah keniscayaan. Perselingkuhan adalah anomali yang tak bisa diterima. Namun, dari dulu hingga sekarang gagasan problematis ini tetap jamak hadir di kehidupan kita.

Cerita-cerita tentang relasi perselingkuhan hampir selalu melibatkan tiga tokoh utama. Pasangan dalam hubungan primer, kemudian tokoh ketiga yang dianggap sebagai “pengganggu” relasi primer. Kisah ini lazimnya diakhiri dengan perpisahan pasangan dalam hubungan primer.

Masyarakat kita sampai sengaja menciptakan istilah seksis untuk merujuk pihak ketiga yang hadir di tengah-tengah relasi romantis antara dua orang. Perebut lelaki orang (pelakor) disematkan untuk perempuan, dan perebut bini orang (pebinor) bagi pria yang dianggap sebagai selingkuhan pasangan orang.

Meski dianggap sebagai ketidakwajaran dalam konstruksi umum, kita kerapkali menemukan relasi romantis-problematis ini. Bahkan kisah semacam itu lazim dijewantahkan ke dalam drama dan syair. Seperti pada serial korea yang tengah digandrungi belakangan, The World of the Married.

Karakter utama perempuan dalam serial tersebut, dokter Ji Sun-woo bercerai dengan sang suami, sutradara Lee Tae-oh. Tae-oh kemudian menikah dengan selingkuhannya, seorang perempuan muda dari keluarga kaya dan berpengaruh di kota Gosan, Yeo Da-kyung.

Dalam perjalanan relasi perselingkuhan mereka--atau banyak relasi serupa lain--peselingkuh akan merasa cinta yang lebih menggebu dan “tepat” didapat dari pasangan anyarnya. Pada tahap ini struktur dalam otak peselingkuh diibaratkan tengah mencandu, layaknya reaksi “nagih” pada narkoba.

“Saat jatuh cinta, otak akan kebanjiran dopamin (hormon kebahagiaan),” jelas Susan Berger, Konselor Perkawinan dari San Fransisco dalam ulasan jurnal pribadinya.

Produksi dopamin yang berlebih berefek pada peningkatan energi dan sensasi nikmat. Makanya saat jatuh cinta orang akan merasa senang dan bergairah bahkan hanya dengan memandangi sang pujaan hati. Reaksi ini dilanjutkan dengan penurunan neurotransmitter lain yang berfungsi mengatur jam tidur, nafsu makan, dan suasana hati, yakni serotonin.

Saat kadar serotonin berkurang, suasana hati terasa awang-gemawang. Pikiran terobsesi pada satu orang yang dicinta, kesengsem, kemudian tubuh mulai merasakan gangguan tidur dan nafsu makan. Tidak melulu kurang tidur atau tak selera, tapi bisa juga sebaliknya. Galau, begitu seringnya kita menamai fase ini.


Susunan Genetika Peselingkuh

Katakanlah riak-riak asmara tadi berlanjut, dan perubahan otak diselesaikan dengan perselingkuhan. Sekarang ganti oksitosin yang membanjiri sistem di hipotalamus, kita mengenal zat kimia ini sebagai hormon cinta. Oksitosin dilepaskan oleh otak selama aktivitas bercinta seperti memeluk atau mencium.

Selama melakukan aktivitas tersebut, otak akan terus memproduksi oksitosin yang akhirnya memunculkan rasa ketagihan dan cinta membuncah. Inilah alasan mengapa pada tahap awal perselingkuhan orang jadi merasa lebih bahagia dan merasa relasi romantis-problematis mereka lebih baik dibanding hubungan resminya.

“Semakin banyak waktu dihabiskan bersama pasangan selingkuh, semakin banyak oksitosin dilepas. Kondisi itu akan meningkatkan hasrat keintiman dengan objek obsesi,” lanjut Berger.

Perubahan-perubahan hormon dalam otak para peselingkuh inilah yang membikin sensasi adiktif ketika berselingkuh. Otak mereka bereaksi persis seperti perilaku pecandu narkoba. Sementara menurut studi lain yang terbit di jurnal PLoS One susunan genetika tertentu berpengaruh terhadap kecenderungan berselingkuh.



Jika ada yang mengatakan bahwa sekali selingkuh tetap jadi tukang selingkuh, mungkin teori itu benar adanya. Sebab para peneliti dari State University of New York, Amerika Serikat menyimpulkan bahwa orang yang memiliki gen reseptor dopamin bernama DRD4 cenderung tidak setia.

Individu dengan susunan genetika “peselingkuh” menunjukkan peningkatan respons terhadap rangsang sinyal insentif dopamin, seperti mengonsumsi alkohol, opiat, tembakau, dan berjudi. Studi ini memeriksa hubungan dan perilaku seksual dari 181 responden.

“Ada 50 persen orang dengan DRD4 berselingkuh, sementara hanya 22 persen responden tanpa gen DRD4 yang tidak setia,” demikian ringkasan penelitian tersebut.



Sakitnya Patah Hati

Awal mula relasi perselingkuhan pasti didahului dengan kebohongan kepada pasangan utama. Kebohongan ini akan terus dipupuk sampai pasangan resmi curiga dan mempertanyakan perubahan perilaku pasangannya.

Saat dusta dibuat, bagian otak yang disebut cingulate cortex tidak diizinkan menjalankan fungsi alami. Seharusnya dalam merespons emosi, cingulate cortex memberi sinyal untuk memecahkan masalah. Namun karena ada informasi yang disembunyikan maka cingulate cortex menjadi stres dan melepaskan hormon kortisol yang membikin stres.

“Di sinilah efek buruk mulai mucul. Peningkatan kortisol berpengaruh negatif terhadap ingatan, tekanan darah, nafsu makan, pencernaan, metabolisme, dan jam tidur,” masih menurut penjelasan Berger.

Kurangnya jam tidur dapat memicu perubahan suasana hati, depresi, mengurangi empati, mudah tersulut dan sulit mengendalikan emosi. Ketika mendeteksi ancaman, seperti gelagat bahwa perselingkuhannya akan terbongkar pasangan, maka respons yang muncul adalah “melawan atau menghindar”.

Karenanya orang yang berselingkuh selalu merespons dengan amarah atau justru menarik diri ketika pasangannya curiga dan mencecar berbagai pertanyaan. Memang, kebohongan pertama selalu menjadi masa-masa paling stres.


Orang yang berselingkuh akan dilanda perasaan bersalah. Ragu untuk memilih melanjutkan kebohongan atau jujur terhadap pasangan. Tapi ketika perselingkuhan berlanjut otak beradaptasi dan akan menganggapnya sebagai masalah sepele.

Bagi mereka yang belum lihai berbohong, transformasi ini akan terlihat “janggal” dan justru menimbulkan kecurigaan dari pasangan. Makanya begitu perselingkuan terungkap, seringkali pasangan utama mengatakan bahwa mereka tak lagi mengenali partnernya. Ringkasnya sikap para peselingkuh cenderung berubah meski mereka tidak menyadarinya.

Mungkin bagi sebagian orang selingkuh terasa menyenangkan karena sensasinya sama dengan candu. Tapi yang enak belum tentu baik untuk diadopsi. Rokok, alkohol, dan narkoba misalnya, jelas-jelas merusak kesehatan.

Lalu bisakah candu buruk perselingkuhan dihentikan?

Jawabannya tentu bisa, tapi susah. Seperti penangkal candu lainnya, untuk berhenti dari ketergantungan pecandu harus berhenti mengakses candu mereka. Begitu juga dengan perselingkuhan, individu yang berselingkuh mesti siap menghadapi rasa sakit--dengan intensitas setara penarikan heroin.

“Tak heran banyak orang takut melepaskan hubungan mereka meski merasa tidak bahagia,” ujar Berger.

Efek penarikan ini bisa jadi sangat menyakitkan karena kemungkinan mereka juga akan menghadapi perpisahan dengan partner utama mereka. Namun, menurut Berger, keputusan berhenti selingkuh akan menciptakan rasa lega yang tak bisa didapat ketika masih mendua.

Baca juga artikel terkait SELINGKUH atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight