Menuju konten utama
Mozaik

Bupati Pujangga Itu Bernama Kusumahningrat

Berbeda dengan bangsawan pribumi lain yang doyan foya-foya, menyengsarakan rakyat jelata, R.A.A. Kusumahningat memanfaatkan privilesenya dan jadi pujangga.

Bupati Pujangga Itu Bernama Kusumahningrat
Header Mozaik RAA Kusumahningrat. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bupati di Priangan pada masa kolonial bisa dikatakan merupakan “raja-raja kecil” di mata rakyatnya. Novel sohor Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker (1860), misalnya, dengan apik menggambarkan kondisi tersebut. Rakyat Lebak secara sukarela bekerja tanpa upah demi memuluskan pesta yang diselenggarakan bupati.

“Kezaliman” bupati, sebagaimana digambarkan dalam Max Havelaar, tidak sepenuhnya merata terjadi sepanjang perkembangan sejarah Priangan.

Di beberapa kasus, alih-alih mengejar keserakahan duniawi, terdapat beberapa sosok bupati yang menjalani laku sepi. Beberapa di antaranya memilih untuk berdialektika dengan ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, bupati-bupati itu lebih dikenal sebagai intelektual dibandingkan birokrat.

Satu dari contoh bupati intelek Priangan itu adalah Raden Aria Adipati Kusumahningrat (1834-1862) dari Kabupaten Cianjur. Di telinga masyarakat Cianjur, sosoknya lebih akrab dengan nama Dalem Pancaniti. Ia dikenal sebagai petapa sekaligus seniman musik yang produktif.

Karya-karya gubahannya—khususnya yang disebut genre Cianjuran— menjadi acuan bagi seniman-seniman periode berikutnya. Oleh sebab itu pula lagu karya Koko Koswara berjudul “Sabilulungan”, yang diiringi oleh suling dan kecapi, bisa terkenal hampir di seluruh kalangan Indonesia.

Selain tembang yang jamak diperdengarkan di rumah makan Sunda tersebut, eksistensi Kusumahningrat juga dikenal oleh para filolog melalui karya-karya sastranya yang melegenda di Tatar Sunda.

Bidan Lahirnya Cianjuran

Kusumahningrat—selanjutnya akan disebut Dalem Pancaniti—dikenal luas sebagai pencipta genre Cianjuran atau Mamaos dalam kesenian tradisional Sunda. Sebagaimana disebut oleh Mustika Iman Zakaria S. dalam “Penelusuran Ciri Khas Musikal Lagu-Lagu Cianjuran Wanda Papantunan” (2021), Cianjuran adalah sebentuk seni perpaduan antara vokal dan instrumental vokal (sekar), disajikan oleh vokalis pria dan wanita serta diiringi instrumental (gending). Paduan musiknya terangkai berkat harmoni kacapi parahu/ kacapi indung, kacapi rincik, suling, serta rebab atau biola.

Perpaduan bentuk kesenian ini menimbulkan kesan senandung yang mendayu-dayu dengan irama lebih pelan, layaknya tembang macapat yang berkembang di Jawa. Hal ini lekat hubungannya dengan penggunaan beberapa metrum yang serupa pada dua jenis kesenian tersebut.

Secara tradisional, para seniman Cianjuran menjadikan Dalem Pancaniti sebagai patron mereka. Sosok bupati tersebut diceritakan pertama kali menemukan genre itu sewaktu beritual tawasul di satu bale kambang (bangunan yang ada di atas kolam) dekat balong gede di Pendopo Kabupaten Cianjur. Bale kambang itu bernama Pancaniti. Oleh karena itulah sang bupati dikenal sebagai Dalem Pancaniti atau bupati (yang sering berdiam) di Pancaniti.

Lantaran terlahir berkat ilham dari ritual tawasul, tidaklah mengherankan apabila pesan-pesan yang terkandung dalam lagu-lagu Cianjuran bernuansa nasehat-nasehat dan ajaran filosofis islami.

Seperti disampaikan oleh M. Yusuf Wiradiredja dan Oman Resmana dalam “Tiga Pilar Budaya Cianjur: Etik, Estetik dan Kinestetik” (2023), saat menggarap Cianjuran untuk kali pertama, Dalem Pancaniti dibantu oleh beberapa musisi dari luar pendopo kabupaten, termasuk Raden Etje Madjid Natawiredja dan Maing Buleng.

Atas bantuan para seniman itu, muncullah lagu-lagu Cianjuran paling awal seperti degung palayon, balagenjat, nataan gunung, dan sebagainya. Karya-karya Mamaos ini lantas menyebar ke seluruh Priangan dan dianggap sebagai standar kesenian para menak (bangsawan).

Secara historis, Zakaria S. menilai Cianjuran sebagai perkembangan dari seni tradisional pantun Sunda, yang sejatinya telah berkembang sejak masa Hindu-Buddha. Seturut tulisan Ayatrohaedi "Carita Pantun: 'Roman Sejarah' Sastra Lisan Sunda (1995), pantun Sunda, atau dikenal juga sebagai carita pantun, merupakan bentuk sastra lisan kuno Sunda. Isinya berkenaan dengan roman sejarah atau nubuat-nubuat tertentu.

Carita Pantun biasanya dituturkan oleh seseorang yang disebut sebagai juru pantun. Bukti tertulis yang menyatakan bahwa pantun telah berkembang sejak masa Hindu-Buddha adalah manuskrip Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian. Sampai sekarang, praktik penuturan pantun masih dilakukan di desa-desa adat Sunda, misalnya Desa Kanekes di Lebak, Banten.

Beberapa pantun yang populer di kalangan orang Sunda adalah Mundinglaya Dikusumah, Ciung Wanara, Lutung Kasarung, dan Dadap Malang Sisi Cimandiri. Nama pancaniti terekam dalam suatu lirik lagu berjudul “Degung Putri Layar”, yang diciptakan oleh salah satu seniman Mamaos di Cianjur semasa Dalem Pancaniti hidup.

Bupati Sunda yang Menggemari Hikayat

Aditia Gunawan, dalam “Dalem Pancaniti: Penulis dari Pendopo Cianjur” (2012), pernah mengungkap sisi lain Dalem Pancaniti sebagai seorang sastrawan. Di antara karya-karya sastra tulis R.A.A. Kusumahningat yang sohor adalah Hikayat Bupati Cianjur dan Hikayat Bupati Sumedang.

Beberapa di antaranya menjadi sumber tepercaya bagi kalangan orientalis kolonial. Hikayat ciptaan R.A.A. Kusumahningrat telah beberapa kali dialihbahasakan ke bahasa Belanda, misalnya C.M.F. Stouckhausen yang melakukan hal tersebut pada 1863. Prosa sejarah tersebut, uniknya, ditulis dalam bahasa Melayu dan aksara Latin, sehingga menunjukkan pengetahuan sang bupati akan bahasa dan aksara di luar tradisi Sunda.

Para filolog menilai, dua karya sang bupati pujangga sebagaimana disebut di atas, sarat akan muatan politik yang kuat. Sebab, isinya bersinggungan dengan garis genealogis R.A.A. Kusumahningrat sebagai bupati Priangan tulen.

Tak hanya itu. R.A.A. Kusumahningrat juga dikenal sebagai orang Sunda pertama yang menginisiasi kamus bahasa Sunda-Melayu. Di kemudian hari, kamus itu menjadi acuan bagi para peneliti Sundanologi berkebangsaan Belanda. Tampaknya fenomena tersebut tidaklah mengejutkan sama sekali. Sebab, Dalem Pancaniti merupakan anak kelima dari Raden Adipati Prawiradiredja I (1813-1833), sebagaimana dijelaskan oleh Reiza D. Dienaputra dalam Sunda: Sejarah, Budaya, dan Politik (2011).

Prawiradiredja I dikenal legendaris karena merupakan satu-satunya bupati Priangan—atau mungkin se-Pulau Jawa—yang menulis surat dalam bahasa Melayu dan aksara Latin. Sebagaimana disampaikan oleh Hazmirullah dalam “Surat Bupati Cianjur untuk Raffles (1816): Naskah Melayu Pertama yang ditulis menggunakan Aksara Latin?” (2020), surat itu dikeluarkan oleh Prawiradiredja I tertanggal 9 April 1816 untuk Lt. Gubernur Jenderal Inggris wilayah Jawa, Thomas Stamford Raffles. Di dalamnya, sang bupati mengekspresikan kesedihannya atas tuntas tugasnya Raffles di Jawa.

Uniknya, sebagai orang Sunda, Prawiradiredja I menulis surat berbahaya Melayu secara tertib, sesuai ketentuan penulisan surat dalam kebudayaan Melayu yang disinggung dalam kitab-kitab Terasul. Jelas artinya, bahwa ia merupakan seseorang yang tahu benar tradisi penulisan dalam bahasa Melayu.

Jadi, tidaklah aneh apabila Dalem Pancaniti menguasai bahasa Melayu secara fasih. Sebab, besar kemungkinan pengetahuan itu ia dapatkan dari sang ayah.

Baca juga artikel terkait SEJARAH SUNDA atau tulisan lainnya dari Muhamad Alnoza

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Muhamad Alnoza
Penulis: Muhamad Alnoza
Editor: Fadli Nasrudin