Bulu Ketiak yang Dibenci dan Diselebrasi

Perempuan menunjukkan bulu ketiak. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Patresia Kirnandita - 13 Mei 2017
Dibaca Normal 3 menit
Segelintir selebritas Hollywood tertangkap kamera membiarkan bulu ketiaknya tumbuh memanjang. Banyak yang mencemooh, tetapi tidak sedikit yang mengapresiasi. Bagaimana dan mengapa bulu ketiak kerap kali dipandang sebagai hal yang menjijikkan?
tirto.id - Apa yang terlintas di kepala ketika melihat laki-laki membiarkan bulu ketiaknya liar memanjang? Bukan persoalan sepertinya. Lantas, bagaimana bila bulu yang dibiarkan gondrong tersebut tampak menyembul dari ketiak seorang perempuan? Sebagian bisa jadi bergidik, tertawa geli, atau bahkan menghina si empunya ketiak.

Mayoritas orang di macam-macam belahan bumi ini sepakat bahwa bulu ketiak tidak pantas dibiarkan memanjang oleh perempuan. Aneka produk penghilang bulu berjajar rapi di toko-toko dan langganan tampil di halaman-halaman majalah atau siaran iklan-iklan televisi dengan maksud mempersuasi para perempuan bahwa ketiak mulus adalah standar kecantikan ideal. Badan bebas bulu bak bayi adalah kebenaran yang dikejar-kejar oleh banyak sekali perempuan.

“Duh, gerah nih. Tapi gue malu buka cardigans, soalnya daleman gue lengan buntung. Gue belom cukur bulu ketiak.” Begitu kata-kata seorang teman suatu kali saat kami sedang berbincang santai di kampus pada tengah hari bolong.

Bulu ketiak sudah lama menjadi momok bagi para perempuan. Hal ini tidak terlepas dari bagaimana sosok perempuan cantik digambarkan di media massa. Lihat saja model-model Victoria Secret ketika melenggok di atas catwalk atau saat penyanyi-penyanyi kelas dunia beraksi dan mengangkat tangan tinggi-tinggi di atas panggung. Hampir tak ada yang memperlihatkan bulu ketiak panjang. Ketika beberapa pesohor mulai dari Madonna, Julia Roberts, hingga Miley Cyrus terlihat memiliki bulu ketiak yang panjang, publik pun langsung membahasnya.

Soal bulu ketiak yang menjadi momok ini bukan sekadar asumsi saja. Di Australia, lebih dari 90 persen perempuan mencukur bulu kaki dan ketiak mereka. Di Inggris, 99 persen perempuan menyatakan pernah setidaknya sekali menghilangkan bulu tidak diinginkan. Aktivitas menghilangkan bulu tidak diinginkan ini menjadi suatu kelumrahan, sehingga jarang sekali dibahas dalam wacana-wacana kasual atau penelitian, demikian dipaparkan Michael Scott Borough dalam disertasi psikologinya di University of South Florida, AS.

Pelumrahan penghilangan bulu yang telah berlangsung bagaikan norma tak tertulis ini menggelitik peneliti lain untuk membuat eksperimen sosial dengan melibatkan mahasiswa-mahasiswinya. Adalah Breanne Fahs, associate professor Kajian Perempuan dan Gender di New College of Interdisciplinary Arts and Sciences, Arizona State University, yang meminta partisipasi sukarela sejumlah mahasiswa selama rentang waktu tertentu untuk menjajal hal yang tak lazim dilakukan dalam keseharian: perempuan menumbuhkan bulu ketiak dan bagian tubuh lainnya, sementara laki-laki memangkas habis bulu-bulu di tubuhnya.

“Tidak ada cara yang lebih baik untuk mempelajari norma sosial selain dengan melanggarnya dan melihat bagaimana masyarakat bereaksi,” komentar Fahs soal studinya.

Hasil studi Fahs mungkin tidak sulit diprediksi. Salah satu mahasiswi partisipan eksperimen ini, Robinson, menyatakan, “Banyak teman saya tidak mau mengerjakan tugas di samping saya, ibu saya bingung bukan main atas keputusan saya dan khawatir membayangkan saya berbalut gaun putih dengan bulu ketiak memanjang saat menikah. Tidak hanya itu, saya juga menangkap sering kali orang-orang asing dan teman-teman kampus memandang bulu di tubuh saya dengan jijik. Ini menyadarkan saya bahwa bila kamu tidak mengikuti aturan-aturan gender, tubuhmu akan menjadi tempat kontestasi dan sasaran opini publik.”

Dari temuan semacam ini, Fahs menyimpulkan bahwa tekanan kelompok berperan besar dalam menciptakan suatu norma tak tertulis. Lebih lanjut dikatakan Fahs, mereka yang memutuskan keluar dari normativitas semacam penghilangan bulu tubuh malah membentuk solidaritas dan menikmati perilaku "memberontak" bersama-sama. Penelitian Fahs ini meneguhkan adanya konformitas dalam kelompok mahasiswa yang ditelitinya.

Bagi sejumlah mahasiswa lain yang juga berpartisipasi dalam eksperimen sosial ini, kesadaran penghargaan akan tubuh dan pertimbangan meneruskan relasi romantis dengan pasangan menjadi poin-poin penting yang mereka petik. Salah satu mahasiswi bahkan mengutarakan, tidak perlu berpikir dua kali untuk memutuskan hubungan saat pasangan terdahulunya mengatakan tidak senang dengan keputusannya membiarkan bulu-bulu di beberapa bagian tubuhnya memanjang.

Pemikiran-pemikiran tentang penghargaan diri dan melepaskan standar kecantikan seperti menghilangkan bulu ketiak ini pula yang mendorong munculnya gerakan #noshave dari para feminis. Bulu ketiak menjadi salah satu simbol perlawanan terhadap budaya dominan yang terlalu lama menekan subjektivitas mereka sebagai perempuan.

Pada suatu poin, memanjangkan bulu ketiak dapat berarti pembebasan bagi para perempuan yang lelah dengan penanaman konsep kecantikan ideal di media massa. Namun pada poin lain, hal ini dianggap lebih dari sekadar simbol perlawanan. Sejak 2014, marak beredar foto-foto perempuan yang memanjangkan bulu ketiak di media sosial dan mewarnainya serupa gula-gula. The Washington Post bahkan menyebutnya sebagai tren baru dan ketika kata tren disematkan pada aktivitas ini, dapat ditangkap telah terjadi komodifikasi dari hal yang semula menjadi momok dalam masyarakat.



Perspektif Lain: Bulu Ketiak dan Seksualitas

Pada umumnya, orang mengaitkan penghilangan bulu ketiak dengan konstruksi kecantikan yang ada di media massa dan diteruskan dari generasi ke generasi, dari teman ke teman dalam praktik kehidupan sehari-hari. Narasi kecantikan ini kadang dibarengi dengan alasan kesehatan bahwa bulu-bulu berlebih di bagian-bagian tubuh tertentu hanya akan menyimpan kotoran dan bakteri yang berpotensi membuat orang sakit. Inilah yang lantas membuat orang jijik dan menghindari bulu ketiak memanjang.

Namun, benarkah hanya alasan-alasan itu saja?

Dalam situs Science of Us, dituliskan asumsi menarik tentang hubungan bulu ketiak dan seksualitas. Tidak banyak yang menyadari bahwa bulu ketiak membaurkan feromon—zat kimia yang dikeluarkan tubuh manusia untuk ‘berkomunikasi’ dengan yang lainnya dan memengaruhi ketertarikan seksual seseorang sampai sebuah studi memaparkan temuan ini. Feromon yang terdapat pada hal-hal yang melekat di tubuh seseorang seperti pakaian membuat orang lain merasa nyaman bahkan bisa sampai menimbulkan gairah seksual. Untuk laki-laki, bau tubuh perempuan yang mengandung estrogen memicu aktivitas bagian otak yang mengontrol ereksi, sementara untuk perempuan, lazimnya aroma tubuh laki-laki membuat mereka lebih relaks.

Seks, selain dipandang sebagai suatu kenikmatan, juga bisa dipandang sebagai hal yang menjijikkan dalam evolusi budaya sebagian masyarakat. Dalam konteks evolusi, seks dengan "orang yang salah" dapat memutus garis keturunan lewat penyakit dan infertilitas. Itu sebabnya seks dapat dipandang menjijikkan dan berbahaya sehingga pada titik-titik tertentu, orang cenderung menjauhi keterlibatannya dengan aktivitas pemenuhan kebutuhan biologis ini. Rasa jijik ini menurut Daniel Kelly, penulis Yuck! The Nature and Moral Significance of Disgust (2011), merupakan aksi refleks protektif yang ada pada setiap orang.

Dengan adanya asumsi bahwa bulu ketiak dapat memicu gairah seksual dan gairah seksual ini adalah sesuatu yang membahayakan, orang-orang menghindari dan menganggapnya menjijikkan. Pada perkembangannya, bulu ketiak pada perempuan pun dianggap sebagai sesuatu yang mesti dimusnahkan.

Jadi, bagaimana menurut Anda? Perempuan memiliki bulu ketiak panjang, wajar-wajar saja atau tidak?

Baca juga artikel terkait PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight