Menuju konten utama

Bulog Siapkan 100 Gudang Baru, Antisipasi Stok Beras Melimpah

Dirut Utama Bulog mengungkapkan dari 100 gudang baru, 50 unit dibangun di lahan existing milik Bulog.

Bulog Siapkan 100 Gudang Baru, Antisipasi Stok Beras Melimpah
Kegiatan Rapat Kerja Nasional Perum Bulog Tahun 2025, Kamis (20/11/2025). foto/tirto.id

tirto.id - Perum Bulog menargetkan pembangunan 100 gudang baru untuk mengantisipasi lonjakan produksi beras pada puncak panen Februari–April 2025. Langkah ini disampaikan Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Bulog, di Jakarta pada Kamis (20/11/2025).

Rizal menjelaskan bahwa stok beras di gudang Bulog saat ini telah mencapai 3,8 juta ton dan diperkirakan tersisa 3,2 juta ton pada akhir Desember. Jumlah tersebut merupakan salah satu stok tertinggi dalam sejarah Bulog dan membutuhkan penyerapan besar saat panen raya.

“Kami menyiapkan antisipasi ke depan, terutama peningkatan produksi pertanian yang akan menyebabkan panen lebih besar. Karena itu Bulog harus mempercepat pembangunan gudang,” ujar Rizal usai Kegiatan Rapat Kerja Nasional Perum Bulog Tahun 2025, Kamis (20/11/2025).

Rizal juga mengungkapkan dari 100 gudang baru, 50 unit dibangun di lahan existing milik Bulog, sementara 50 lainnya berasal dari dukungan pemerintah kabupaten/kota yang menghibahkan lahannya. Lokasi pembangunan telah disinkronkan bersama Kementerian Pertanian dan Kementerian Dalam Negeri agar tidak tumpang tindih.

“Target awal kami 50 gudang dulu, karena lahannya sudah ada. Sisanya mengikuti dukungan daerah. Prinsipnya, gudang dibangun di kabupaten/kota yang belum memiliki fasilitas penyimpanan,” jelasnya.

Bulog juga akan membangun gudang di wilayah 3T seperti Maluku Utara dan pegunungan Papua untuk menjamin ketersediaan pangan pada musim barat ketika kapal sulit beroperasi.

Kapasitas Ditargetkan Capai 1 Juta Ton

Total kapasitas 100 gudang ini diperkirakan mampu menampung hingga 1 juta ton beras, dengan variasi ukuran: gudang kecil berkapasitas 3.500 ton, gudang menengah 7.000 ton, dan gudang besar 14.000 ton. Rizal menegaskan bahwa pemilihan kapasitas gudang tidak dibuat seragam karena setiap daerah memiliki potensi produksi pertanian yang berbeda.

Wilayah dengan produktivitas padi tinggi akan diprioritaskan menggunakan gudang berkapasitas besar agar penyerapan hasil panen dapat dilakukan secara optimal. Sementara daerah dengan produksi lebih rendah atau berfungsi sebagai titik distribusi akan mendapat gudang kecil hingga menengah untuk efisiensi operasional.

Selain perluasan kapasitas fisik, Bulog juga menyiapkan inovasi penyimpanan modern seperti teknologi vakum berbasis plastik atau sistem penyimpanan tanpa bangunan. Teknologi ini memungkinkan beras disimpan dalam kondisi kedap udara sehingga kualitas tetap stabil, mengurangi risiko kerusakan akibat cuaca ekstrem, dan mempercepat penanganan di wilayah yang belum memiliki gudang permanen.

Hingga saat ini Bulog masih menyalurkan beras program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar 5.000 ton per hari. Menurut Rizal, ada peluang kebijakan baru untuk mendorong ekspor beras jika produksi dalam negeri terus menunjukkan surplus signifikan.

“Kalau nanti overload, kita bisa ekspor beras ke negara sahabat yang membutuhkan, seperti Palestina. Bulog akan mencari peluang tersebut,” tegasnya.

Rizal menambahkan opsi ekspor bukan hanya untuk mengoptimalkan sirkulasi cadangan beras nasional, tetapi juga sebagai bentuk kontribusi Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan global.

Dalam Rakernas, Bulog juga memperkuat model “satu komando” dari Presiden ke Menteri Pertanian hingga ke jajaran internal Bulog. Rizal menyebut koordinasi tunggal ini penting untuk mempercepat respons terhadap dinamika cuaca dan produksi pangan.

“Kami sedang berdiskusi dengan BMKG untuk memprediksi kondisi cuaca, apakah akan terjadi El Niño atau La Niña. Prediksi ini penting untuk menghitung potensi panen dan kebutuhan cadangan,” ujarnya.

Rizal menegaskan sistem satu komando membuat seluruh keputusan strategis dapat berjalan lebih cepat dan seragam mulai dari pusat hingga ke daerah. Dengan rantai komando yang sederhana, setiap perintah terkait penyerapan, distribusi, dan pengamanan stok dapat langsung dieksekusi tanpa hambatan birokrasi.

Langkah ini dinilai penting mengingat perubahan cuaca tidak terduga dapat memengaruhi jadwal panen, produktivitas, hingga kebutuhan distribusi beras nasional. Bulog berharap pola koordinasi langsung tersebut dapat menjaga stabilitas pangan sekaligus memastikan kesiapan menghadapi berbagai skenario cuaca ekstrem di tahun mendatang.

Baca juga artikel terkait BULOG atau tulisan lainnya dari Merlina Aryanti

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Nuran Wibisono