tirto.id - Bos Starbucks di Korea Selatan (Korsel) meminta maaf secara terbuka kepada publik pada Selasa (26/5/2026). Hal ini terjadi setelah iklan Starbucks di negara tersebut mendapatkan reaksi keras dari publik lantaran dianggap mengejek korban pembantaian militer 1980.
Dinukil dari AP, permintaan maaf itu dilakukan taipan ritel Grup Shinsegae, Chung Yong-jin. Ia memiliki 67,5 persen saham Starbucks Korea dan membungkuk tiga kali secara terbuka untuk memohon pengampunan publik.
Berdasarkan keterangannya, Yong-jin menyebut bahwa aksinya menunduk itu juga ia tujukan kepada keluarga korban pembantaian massal masyarakat sipil oleh tentara di Gwangju, Korsel pada 1980.
“Saya menanggapi dengan sangat serius kenyataan bahwa banyak orang merasakan sakit dan kemarahan yang mendalam karena kampanye pemasaran Starbucks Korea yang tidak tepat,” kata Yong-jin.
Permohonan maaf pada Selasa tersebut merupakan kedua kali dilakukan Yong-jin dalam kurun waktu sepekan ke belakang. Ia pertama kali meminta maaf secara terbuka pada 19 Mei lalu dengan menyebut kampanye promosi perusahaannya telah menyebabkan “kepedihan yang mendalam bagi para korban”.
Materi Promo Dinilai Mengejek Gerakan Pro-Demokrasi di Gwangju
Rangkaian permintaan maaf bos Starbucks Korsel ini bermula pada peringatan Gerakan Demokratisasi 18 Mei. Sebuah kampanye promo outlet kopi itu terkait hari bersejarah itu telah memicu kemarahan publik, membuat seruan boikot produk kopi tersebut mencuat di Korsel.
Gerakan Demokratisasi 18 Mei merupakan hari peringatan peristiwa pemberontakan pro-demokrasi di Gwangju pada 1980. Saat itu, rezim militer Korsel yang otoriter membantai para demonstran sipil dengan kendaraan lapis baja dan kekuatan bersenjata.
Starbucks kemudian turut menggunakan momen itu sebagai media promosinya. Pada 18 Mei, outlet itu menjalankan promo “Tank Day”, meluncurkan seri botol minum “Tank” dan kombinasi tanggal “5/18”.
Publik marah atas promosi tersebut karena pemilihan diksi “tank” yang dianggap merujuk pada kendaraan militer yang digunakan untuk membunuh para demonstran pro-demokrasi di masa lalu.
Setelah reaksi keras dari masyarakat terjadi, Chung Yong-jin memerintahkan pencopotan eksekutif perusahaan yang menangani kampanye tersebut. Penyelidikan internal terkait hal tersebut juga disebut berlangsung.
Kemarahan publik atas kampanye promosi itu sebelumnya juga memuat para pejabat ikut bersuara. Menteri Dalam Negeri dan Keamanan Korsel Yoon Ho-jung merupakan salah satu pejabat yang mengungkap kekecewaannya.
Menteri Yoon menyatakan produk Starbucks tidak akan digunakan lagi dalam acara pemerintahan dan kecewa dengan “perilaku anti-historis” dari outlet tersebut.
Presiden Korsel Lee Jae Myung juga ikut buka suara melalui media sosialnya pada Minggu (24/5). Ia menyebut kampanye promosi itu menunjukkan “perilaku tidak manusiawi dan tercela” dan menyebut Starbucks sebagai “para pencari keuntungan murahan”.
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































