tirto.id - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendarta, menilai pariwisata Bali masih ketergantungan pada sektor perdagangan yang banyak disumbang oleh konsumsi wisatawan. Hal ini tercermin dari korelasi antara penjualan eceran dengan jumlah wisatawan, yang mencapai 88 persen.
Selain itu, akses terhadap pembiayaan dan infrastruktur pendukung pun masih terbatas, sehingga kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tumbuh terbatas. Dari catatan BI, pada kuartal I 2025 penyaluran kredit UMKM hanya tumbuh sebesar 3,55 persen, turun dari kuartal sebelumnya yang masih sebesar 7,21 persen.
“Akses terhadap pembiayaan bagi UMKM juga masih perlu terus didorong. Ini terefleksi dari terbatasnya pertumbuhan UMKM di kuartal I 2025,” ujar Fili, dalam acara Bali Jagadhita 2025, di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Bali, Senin (2/6/2025).
Di saat yang sama, sekitar 70 persen dari aktivitas pariwisata Bali juga masih terpusat di bagian selatan, khususnya di kawasan Serbagita-Denpasar, Badun dan Gianyar. Kondisi ini berdampak pada kualitas kunjungan wisatawan yang perlahan turun, seiring dengan menurunnya ekspektasi terhadap eksklusivitas destinasi akibat kepadatan pengunjung.
“Selain itu, investasi juga masih dominan di sektor tersier dan terpusat pada wilayah tertentu, khususnya Serbagita, yaitu 87 persen investasi. Sementara, potensi di luar Serbagita masih belum tergarap optimal,” imbuhnya.
Karena itu, Fili, sapaan Filianingsih, menilai penting bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah Bali untuk meningkatkan pemerataan investasi dan pengembangan destinasi wisata baru. Dengan begitu, manfaat dari perluasan pembangunan dapat lebih merata dirasakan oleh masyarakat.
Kendati masih menghadapi berbagai tantangan, namun menurutnya pariwisata Bali masih menunjukkan kinerja positif. Pada sepanjang 2024, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali mencapai 6,33 juta orang, lebih tinggi dari periode 2019 yang sebanyak 6,28 juta orang, yang didominasi dari Australia, Hongkong, India, Korea Selatan, dan Inggris.
“Momentum ini adalah sesuatu yang harus kita terus jaga. Selain meningkatkan jumlah kunjungan, kita juga perlu memastikan kualitas pengalaman wisatawan tetap terjaga dengan membangun destinasi yang lebih eksklusif, ramah lingkungan dan berbasis budaya lokal,” tukas Fili.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































