tirto.id - Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengatakan pihaknya akan melakukan pelatihan ulang setiap 2 hingga 3 bulan bagi seluruh pelaksana lapangan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini dinilainya untuk melakukan penyegaran menyusul temuan sejumlah kasus keracunan MBG di sejumlah daerah.
“Kami melihat butuh penyegaran, butuh penyegaran sehingga setiap 2-3 bulan kami akan lakukan training ulang untuk para penjamah makanan supaya kewaspadaan terus ditingkatkan,” ujar Dadan dalam konferensi pers usai pertemuan dengan Ombudsman RI di Gedung Ombudsman, Jakarta Selatan, pada Rabu (14/5/2025).
Menurut Dadan kejadian keracunan yang terjadi di Cianjur, Bandung, Tasikmalaya, dan juga Bogor terjadi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah lebih dari 3 bulan beroperasi dan melakukan pelayanan.
Sehingga, dia berharap pelatihan ini dapat selalu mengingatkan mereka agar tak lalai dalam menjaga kualitas.
“Standar kualitas tetap dijaga supaya rutinitas itu tidak membiuskan mereka, kelancaran yang selama ini juga tidak membuat mereka ternina-bobokan sehingga mereka selalu meningkatkan kualitas pelayanan dan tetap menjaga kualitasnya,” ujar Dadan.
Sementara itu, Dadan mengatakan pola keracunan ratusan siswa yang diduga disebabkan karena konsumsi MBG di Bogor, Jawa Barat berbeda dibandingkan kasus keracunan yang pernah terjadi di sejumlah wilayah sebelumnya. Dia menyebut kasus yang terjadi di Bogor bersifat slow reaction atau reaksi lambat.
“Nah yang di Bogor ini agak slow reaksi, jadi reaksi lambat. Jadi makannya hari Selasa, reaksinya baru diketahui hari Rabu dan peningkatan yang mengeluhnya justru terjadi di hari Kamis dan Jumat,” ujar Dadan.
Dadan mengatakan bahwa seperti di Cianjur, Sukoharjo, Bandung, dan Tasikmalaya yang pernah mengalami kasus serupa, reaksi keracunan langsung terjadi di hari yang sama usai mengonsumi makanan. Setelah itu, kata dia, langsung dengan segera dilakukan penanganan rawat inap.
“Karena di tempat lain itu, kalau kejadian konsumsi makan di pagi atau siang hari, maka reaksinya akan terjadi di sore hari. Kemudian kalau ada yang perlu ditangani, menginap, rawat inap,” ujarnya.
“Jadi ini sesuatu yang sangat berbeda sehingga pada hari Rabu, Kamis itu satuan pelayanan masih tetap berjalan, meskipun saya tanya, karena saya mendapatkan laporan lebih awal dibandingkan laporan dari sana. Dan saya cross-check, untuk sekolah lain aman, hanya ada beberapa keluhan dari anak TK,” lanjut Dadan.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id





























