Menuju konten utama

Benarkah Vape Bisa Sebabkan Kanker dan Apa Bedanya dengan Rokok?

Apakah vape bisa sebabkan penyakit kanker dan apa bedanya dengan rokok tembakau?

Benarkah Vape Bisa Sebabkan Kanker dan Apa Bedanya dengan Rokok?
Pengguna Vape di salah satu Vape Store Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico

tirto.id - Saat ini banyak orang yang mulai beralih dari rokok tembakau ke rokok elektrik atau yang dikenal dengan vape.

Selain karena tren, penggunaan vape diklaim lebih baik dibandingkan dengan rokok tembakau, pasalnya, vape walau tidak memiliki kandungan nikotin sebanyak rokok konvensional.

Menurut laporan Global Adult Tobacco Survey (GATS), prevalensi pengguna rokok elektrik di Indonesia meningkat signifikan dalam kurun satu dekade terakhir.

Dalam lembar informasi perbandingan Indonesia 2011 dan 2021, seperti dikutip Antara, 31 Mei 2022, GATS melaporkan prevalensi penggunaan rokok elektrik meningkat signifikan dari 0,3 persen pada 2011, menjadi 3,0 persen pada 2021.

Angka tersebut setara 6,2 juta orang dewasa yang terdiri atas 5,8 persen konsumen laki-laki dan 0,3 persen perempuan.

Apakah Benar Vape Lebih Baik dari Rokok Tembakau?

Medical Underwriter Sequis dr Debora Aloina Ita Tarigan mengatakan, penggunaan vape tetap menyebabkan masalah pada kesehatan mulai dari batuk hingga potensi kanker paru.

“Pada vape terdapat kandungan karsinogen dan nikotin yang berpotensi menyebabkan iritasi tenggorokan dan gangguan saluran pernapasan," kata dia melalui siaran pers, Rabu (14/9/2022).

Debora menjelaskan paparan rokok asap vape tidak hanya berbahaya bagi penggunanya tapi juga bagi sekelilingnya terutama anak-anak karena daya tahan tubuh mereka belum sekuat orang dewasa.

Asap vape juga dapat menempel pada permukaan benda dan berpotensi masuk ke dalam organ tubuh.

Menurut Debora, asap atau uap dengan nikotin yang terkandung dalam vape dapat menyebabkan adiksi jangka panjang karena paparan asap rokok konvensional maupun vape, termasuk juga polutan, bahan kimia, atau radiasi dapat menyebabkan radang dan iritasi pada paru.

Peradangan ini dapat berlangsung singkat hingga kronis. Kemudian, apabila terjadi iritasi berkepanjangan maka berpotensi merusak organ pernapasan dan memicu penyakit kritis, seperti kanker paru kronis dan penyakit jantung.

“Gejala kanker paru biasanya tidak dapat dideteksi cepat dan awam, dibutuhkan serangkaian pemeriksaan fisik maupun laboratorium, seperti pemeriksaan dahak, X-Ray, CT scan paru, biopsi paru dan bronkoskopi untuk menegakkan diagnosis kanker paru," ujar Debora.

Debora menyarankan para perokok dan pengguna vape meninjau kembali kebiasaan mereka dengan mengurangi hingga benar-benar berhenti merokok dan menggunakan vape.

Dia juga mendorong masyarakat menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, dan diimbangi dengan istirahat yang cukup.

Masyarakat juga perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mencegah kanker paru, mulai dari pemeriksaan kesehatan standar hingga rontgen dada atau CT scan paru.

Debora menambahkan, saat ini terdapat sejumlah pilihan pengobatan penyakit kanker paru yakni pembedahan atau operasi, target terapi, radioterapi dan kemoterapi.

Pengobatan dengan kemoterapi hanya dapat dilakukan ketika karsinoma sel kecil telah menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga tidak mungkin dilakukan pembedahan.

Terapi ini membutuhkan tindakan medis berbiaya besar, waktu yang panjang, peralatan medis yang lengkap dan canggih mulai dari rawat jalan, rawat inap, dan rawat jalan pascarawat inap.

Vape dan Rokok Tembakau Sama-sama Memiliki Risiko

Melansir Medical News Today, baik merokok maupun vaping memiliki efek samping dan risiko. Saat seseorang vaping, maka ia menghirup aerosol yang mengandung beberapa bahan kimia, termasuk nikotin dan penyedap (rasa).

Menurut American Heart Association (AHA) Trusted Source, banyak orang percaya bahwa vaping lebih aman daripada merokok, tetapi ini belum tentu demikian. Sejumlah bukti menyatakan bahwa vaping juga berbahaya.

Berdasarkan bukti yang ada, merokok tampak lebih berbahaya daripada vaping. Namun, ini tidak berarti bahwa vaping aman.

Asap rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia. Ratusan bahan kimia ini beracun, dan sekitar 70 menyebabkan kanker.

AHA mencatat bahwa meskipun cairan vaping mengandung lebih sedikit kontaminan daripada rokok, mereka tidak sepenuhnya aman.

Risiko Kesehatan Vaping

Orang yang melakukan vape mungkin berisiko mengalami bahaya karena alasan berikut:

- Rokok elektrik dapat mengandung nikotin dalam dosis besar, zat yang diketahui memperlambat perkembangan otak pada janin, anak-anak, dan remaja.

- Cairan yang menghasilkan uap berbahaya bagi orang dewasa dan anak-anak jika mereka menelan, menghirup, atau terkena kulit mereka.

- Vaping juga memberikan bahan kimia berbahaya, termasuk diacetyl, bahan kimia penyebab kanker, logam berat, dan senyawa organik yang mudah menguap (VOC).

- Vaping dapat menormalkan kembali merokok karena menjadi lebih populer.

Menurut Sumber Tepercaya Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), pada awal 2020, ada sekitar 2.800 rawat inap atau total kematian dengan 68 di antaranya kematian yang dikonfirmasi akibat vaping.

Namun, CDC juga mengakui bahwa sejak penghapusan vitamin E asetat dari produk vaping, bersama dengan bahan berbahaya lainnya, jumlah gejala yang dialami orang dari vaping menurun.

Risiko Kesehatan Merokok

Tidak seperti vaping, yang relatif baru, ada penelitian bertahun-tahun untuk sepenuhnya mendukung klaim bahwa merokok merusak kesehatan manusia. Menurut CDC, merokok menyebabkan:

- kerusakan pada setiap organ dalam tubuh

- lebih dari 480.000 kematian per tahun di Amerika Serikat

- 90% dari semua kematian akibat kanker paru-paru

- Sekitar 80% kematian akibat penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)

- peningkatan risiko kematian

- peningkatan risiko mengembangkan kondisi kesehatan, seperti penyakit jantung dan stroke

Sementara itu, mengutip Hopkins Medicine, ada sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa vaping buruk bagi kesehatan jantung dan paru-paru.

Nikotin adalah agen utama dalam rokok biasa dan rokok elektrik, dan sangat adiktif.

Nikotin adalah zat beracun yang dapat meningkatkan tekanan darah dan memacu adrenalin, sehingga meningkatkan detak jantung, hingga kemungkinan terkena serangan jantung.

Ada banyak hal yang tidak diketahui tentang vaping, termasuk bahan kimia apa yang membentuk uap dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan fisik dalam jangka panjang.

Data yang muncul menunjukkan adanya hubungan dengan penyakit paru-paru kronis dan asma, serta hubungan antara penggunaan rokok elektrik dan merokok dengan penyakit kardiovaskular.

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan lainnya dari Yandri Daniel Damaledo

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Iswara N Raditya