Menuju konten utama

BEI Jadi Bursa dengan Pertumbuhan Emiten Tertinggi ke-2 di ASEAN

Sejalan dengan pertumbuhan aktivitas pasar modal selama 2024, BEI juga telah membukukan kinerja keuangan yang positif.

BEI Jadi Bursa dengan Pertumbuhan Emiten Tertinggi ke-2 di ASEAN
Pegawai berjalan di depan logo Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (31/10/2024). Kapitalisasi pasar modal Indonesia telah mencatatkan rekor tertinggi baru per 19 September 2024 yaitu di angka Rp13.475 triliun sedangkan target pada tahun 2027 mencapai Rp15.000 triliun atau 70 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan ada sebanyak 956 perusahaan yang tercatat sahamnya di pasar modal Indonesia sampai dengan Mei 2025. Secara regional, ini membuat BEI menduduki posisi ke-2 di ASEAN untuk total perusahaan tercatat saham, serta menjadi bursa dengan pertumbuhan kedua tertinggi meningkat sebesar 1,38 persen secara global.

"Secara regional BEI menduduki posisi ke-2 di ASEAN untuk total perusahaan tercatat saham," ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, dalam keterangan persnya dikutip dari keterbukaan informasi, Rabu (25/6/2025)

Momentum pertumbuhan ini diperkirakan masih berlanjut pada 2025 dengan tambahan 14 pencatatan saham baru sampai dengan akhir bulan ini. Dari total saham baru tersebut tiga di antaranya merupakan lighthouse IPO yang merupakan IPO dengan kriteria kapitalisasi pasar minimal Rp3 triliun serta free float 15 persen.

"Atau nilai kapitalisasi pasar free float lebih dari Rp700 miliar," jelas dia.

Hingga akhir 2024, diketahui BEI berhasil mencatatkan 41 saham baru, 144 emisi Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) baru, 15 saham tambahan hasil konversi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan 81 saham tambahan hasil konversi Waran, dengan total penghimpunan dana atas seluruh Efek tersebut mencapai Rp193 triliun.

Kontribusi penghimpunan dana yang berasal dari 41 saham baru tersebut sebesar Rp14,4 triliun. Sedangkan, kontribusi terbesar penghimpunan dana sepanjang tahun 2024 berasal dari emisi EBUS sebesar Rp143,6 triliun.

Sementara dari sisi permintaan, pada akhir 2024 total jumlah investor di pasar modal Indonesia tercatat mencapai 14,8 juta atau mengalami peningkatan sebesar 1,7 juta single investor identification (SID).

Partisipasi investor ritel pun masih terjaga selama 2024 dengan dominasi jumlah investor muda dari generasi milenial dan Z. Hal tersebut mencerminkan keyakinan investor terhadap pasar modal Indonesia masih cukup terjaga meski dihadapkan pada situasi ekonomi global dan domestik yang penuh ketidakpastian.

Untuk mendukung pertumbuhan investor pasar modal secara berkelanjutan, pada tahun lalu BEI telah melaksanakan lebih dari 34 ribu kegiatan edukasi, atau meningkat sebesar 86 persen jika dibandingkan dengan tahun 2023, dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 59 juta orang.

Selain itu, BEI juga senantiasa memperluas jaringan distribusi melalui 967 Galeri Investasi (GI) BEI dan 29 Kantor Perwakilan (KP) BEI. Perluasan jaringan distribusi informasi juga meningkat melalui IDX Mobile yang sampai saat ini telah memiliki 242 ribu pengguna.

Dalam hal peningkatan kapasitas Anggota Bursa (AB) dan Partisipan, serta perusahaan tercatat, hingga akhir tahun 2024 BEI telah melaksanakan 105 kegiatan Capacity Building AB dan Partisipan, 56 kegiatan Capacity Building kepada perusahaan tercatat, serta 83 kegiatan diskusi Go Public Seminar.

Cetak Laba Bersih Rp673 Miliar

Sejalan dengan pertumbuhan aktivitas pasar modal selama 2024, BEI juga telah membukukan kinerja keuangan yang positif dengan keberhasilan menjaga pertumbuhan pendapatan Perseroan sebesar 12,9 persen. Hal tersebut dilakukan dengan tetap menjaga pertumbuhan total Beban Perseroan pada angka 10,7 persen.

BEI berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih tahun berjalan menjadi Rp673 miliar atau naik 16,3 persen dibandingkan tahun 2023 yang sebesar Rp579 miliar.

Laba bersih tersebut didorong oleh pertumbuhan pendapatan BEI didukung secara signifikan oleh realisasi rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada tahun 2024 sebesar Rp12,85 triliun yang dibandingkan dengan tahun 2023 sebesar Rp10,75 triliun.

Selain kenaikan pada pos pendapatan jasa transaksi dan jasa kliring, pertumbuhan juga terjadi pada pendapatan jasa informasi sebesar 11,4 persen, didukung oleh pertumbuhan jumlah pelanggan datafeed pada tahun 2024.

"Di sisi lain, BEI juga masih mampu menjaga kenaikan beban sebesar 10,7 persen atau masih berada di bawah kenaikan pendapatan," jelas dia.

Selanjutnya, BEI juga mampu menjaga pertumbuhan aset Perseroan menjadi Rp11,18 triliun atau naik 6,5 persen dengan pertumbuhan ekuitas mencapai 10,9 persen menjadi Rp8,29 triliun.

BEI juga menjaga komitmen untuk menjaga pertumbuhan pada tahun berikutnya, tercermin dari sejumlah belanja investasi yang mencapai Rp279,57 miliar atau naik 32,5 persen seiring dimulainya proyek Pembaruan Sistem Perdagangan dan Pengawasan. Hal ini turut berdampak pada penurunan kas dan setara kas Perseroan sebesar 24,5 persen sepanjang 2024.

BEI menghasilkan free cash flow to equity yang positif, dan mencerminkan kondisi keuangan yang baik dalam hal pengelolaan likuiditas selama 2024. Kondisi tersebut menggambarkan kemampuan Perseroan menjaga kesinambungan kebutuhan modal Perseroan, utamanya untuk membiayai kebutuhan pengembangan pasar dan menjaga kelangsungan aktivitas pasar modal ke depan.

Baca juga artikel terkait PASAR MODAL atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Insider
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Hendra Friana