Menuju konten utama
Round Up

Beda Narasi Mahasiswa vs Polisi soal Cairan Merica di Demo Jogja

Kericuhan demo Aliansi Masyarakat Sipil di Yogyakarta memicu tudingan Polda DIY yang menyebut tim medis massa membawa semprotan merica.

Beda Narasi Mahasiswa vs Polisi soal Cairan Merica di Demo Jogja
Aksi demonstrasi digelar Aliansi Masyarakat Sipil di Simpang Empat Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). (FOTO/Cahyo Purnomoedi)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Aksi Aliansi Masyarakat Sipil di Simpang Empat Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026), yang bertahan hingga malam hari, pecah menjadi kericuhan. Di tengah riuh bentrokan, mencuat kabar soal semprotan gas merica yang dituding dilancarkan oleh sosok tak dikenal.

Merespons kejadian itu, Polda DIY melalui akun media sosialnya mengklaim menemukan indikasi massa aksi membawa cairan merica. Unggahan video kepolisian menyoroti rekaman gambar yang dilingkari--seorang tim medis dari barisan demonstran yang tengah menggenggam tabung semprotan.

Akibat dari semprotan merica ini, Polda menyebut tujuh anggota dari jajaran Polresta Yogyakarta harus mendapatkan penanganan medis.

Terkait tudingan soal tabung berisi semprotan merica ini, Maul dari aliansi mahasiswa UPN 'Veteran' Yogyakarta yang juga menjadi peserta aksi mengatakan dirinya turut terekam dalam video yang diunggah Polda DIY.

Maul menyebut saat ricuh itu ada seorang anggota tim medis dari peserta aksi dituding membawa semprotan merica dalam botol atau tabung oranye.

"Pada saat itu polisi mendatangi saya dengan keadaan berteriak bahwasanya dia (anggota tim medis) dituduh membawa sprayer yang berisi cairan merica, begitu," ujar Maul di kawasan Bundaran UGM, Kamis (3/9/2026).

Aksi Demo Aliansi Masyarakat Sipil di Yogyakarta

Anggota tim medis dari peserta aksi memperlihatkan tabung semprotan yang diduga berisi cairan merica. (FOTO/Cahyo Purnomoedi)

Maul mengungkapkan jika tabung semprot itu justru cairan yang bisa dipakai untuk menetralisir dampak dari gas air mata maupun semprotan merica.

Sedangkan salah seorang anggota tim medis dari massa aksi berinisial A menjelaskan isi botol oranye itu memang merupakan cairan antasida yang dilarutkan air. A menuturkan cairan itu adalah protokol standar tim medis lapangan untuk membilas mata dan wajah korban paparan gas air mata. Cairan itu berisi air yang dicampur dengan obat maag.

"Isinya tabung ini air dan larutan Mylanta yang dicampur. Jadi airnya ini diisi ketika di dekat posko medis atau sumber air dan dicampur dengan Mylanta karena itu sejauh ini di beberapa aksi sebelumnya itu cukup terbukti bisa membantu sementara efek perih dari gas air mata atau mungkin dari partikel pepper spray juga," tutur A.

SEMA UGM Tuntut Polda DIY Minta Maaf

Ketua Umum Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, Mesa Syafitra, membantah ada peserta aksi yang membawa semprotan merica seperti yang disangkakan oleh Polda DIY. Mesa menyebut dirinya justru ikut menjadi korban semprotan merica itu.

"Seseorang menggunakan vest (rompi) Jaga Warga menyemprot merica ke wajah saya," kata Mesa, Kamis (3/9/2026).

Usai terkena semprotan merica, Mesa segera mendapatkan penanganan dari tim medis yang sigap menggunakan air dari botol oranye untuk membasuh wajahnya. Video momen Mesa disemprot dan mendapatkan bantuan medis dari tabung oranye ini beredar di media sosial.

"Kawan-kawan medis sigap membantu dengan menyemprotkan cairan Mylanta dari botol oranye. Tim medis yang turun ke jalan bukan membawa senjata untuk menyerang melainkan membawa obat-obatan untuk merawat kemanusiaan yang terluka," urai Mesa.

"Ketika penawar rasa sakit distigmatisasi sebagai ancaman, di situlah kita tahu bahwa akal sehat publik sedang coba dikaburkan," imbuh Mesa.

Mesa menegaskan menuduh tim medis yang membawa cairan obat maag sebagai semprotan merica adalah bentuk ketidakpedulian terhadap keselamatan kemanusiaan, atau upaya menjustifikasi tindakan represif di lapangan. Mesa menegaskan Polda DIY harus bertanggung jawab secara hukum atas narasi publik yang mereka unggah di media sosial

"Saya sangat menyayangkan klaim tersebut. Sangat menggelikan sekaligus memprihatinkan ketika institusi keamanan negara gagal membedakan antara cairan obat maag pelindung lambung dengan senjata kimia pelumpuh," ungkap Mesa.

Mesa menekankan, institusi kepolisian yang disokong perangkat intelijen dan verifikasi data negara mestinya menyajikan fakta lapangan secara akurat dan ilmiah. Unggahan Polda DIY justru dinilai memproduksi misinformasi yang mencederai akal sehat publik.

"Bukan justru memproduksi misinformasi yang menyesatkan akal sehat publik," imbuh Mesa.

Aksi Demo Aliansi Masyarakat Sipil di Yogyakarta

Maul dari aliansi mahasiswa UPN 'Veteran' Yogyakarta memberikan keterangan terkait video yang diunggah Polda DIY di kawasan Bundaran UGM Kamis (3/9/2026). (FOTO/Cahyo Purnomoedi)

Mesa menambahkan SEMA UGM menuntut Polda DIY tidak hanya meralat klaim tersebut, tapi juga meminta maaf secara terbuka kepada publik demi menjaga muruah kredibilitas kepolisian itu sendiri.

Penjelasan Polda DIY Soal Unggahan di Medsos

Sementara itu, Kabid Humas Polda DIY, Kombes Ihsan, mengatakan pihaknya menghormati dan menampung klarifikasi informasi dari rekan-rekan mahasiswa.

"Perlu kami sampaikan terkait isi tabung, karena pada saat aksi belum sempat diamankan oleh petugas akibat situasi di lapangan yang sangat dinamis, maka sejak awal narasi resmi kami menggunakan diksi diduga demi mengedepankan asas praduga tak bersalah," kata Ihsan dalam keterangannya.

Ihsan mengatakan fokus utama pihaknya adalah fakta klinis adanya tujuh anggota polisi yang nyata mengalami sesak napas serta iritasi saat meredam keributan.

"Alhamdulillah, seluruh korban baik dari mahasiswa maupun petugas saat ini sudah ditangani medis dan telah pulih sepenuhnya. Situasi Kamtibmas Yogyakarta juga tetap terjaga, aman dan kondusif," tutup Ihsan.

Baca juga artikel terkait DEMO MAHASISWA atau tulisan lainnya dari Cahyo PE

tirto.id - News Plus
Kontributor: Cahyo PE
Penulis: Cahyo PE
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama