Menuju konten utama

Bahlil Beri Tips ke Purbaya Buat Tutupi Beban APBN

Bahlil mengusulkan agar tambahan penerimaan negara dari lonjakan harga minyak dimanfaatkan untuk menutup sebagian beban subsidi.

Bahlil Beri Tips ke Purbaya Buat Tutupi Beban APBN
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (tengah) melambaikan tangan usai mengikuti rapat kerja dengan Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026). Rapat tersebut membahas asumsi dasar sektor ESDM tahun 2027, penetapan asumsi dasar sektor ESDM tahun 2027, pengantar Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA K/L) serta Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2027. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan tips kepada Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, untuk menutupi beban Anggaran Pendapatan dan belanja negara (APBN).

Ia semula mengatakan pemerintah sempat dihadapkan pada dilema ketika harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) melonjak hingga USD119 per barel. Kenaikan itu dinilai berpotensi menambah beban subsidi energi hingga Rp200 triliun-Rp250 triliun.

Menurut Bahlil, pemerintah memilih tidak menaikkan harga BBM bersubsidi demi menjaga daya beli masyarakat. Ia lantas mengusulkan agar tambahan penerimaan negara dari lonjakan harga minyak dimanfaatkan untuk menutup sebagian beban subsidi.

"Saya kasih tahu Pak Purbaya, Pak Menteri, Bapak ini kan sekolahnya di luar negeri, orang hebat. Saya katakan begini, kalau ICP-nya [USD] 70, itu pendapatan negara 10,8 miliar dolar AS. Kalau ICP-nya [USD] 100, itu pendapatan negara 17,6 miliar dolar AS. Artinya, ada 7 miliar dolar AS yang saving dari pendapatan itu," ujar Bahlil dalam acara CNBC, Kamis (25/6/2026).

Ia lalu menghitung tambahan penerimaan sekitar 7 miliar dolar AS tersebut setara Rp120 triliun-Rp130 triliun atau mampu menutup sekitar 50 persen tambahan subsidi akibat lonjakan harga minyak.

Bahlil mengaku juga mengusulkan kenaikan tarif royalti untuk komoditas nikel, batu bara, dan sejumlah mineral lainnya. Langkah tersebut dinilai dapat menghasilkan tambahan penerimaan negara sekitar Rp30 triliun-Rp35 triliun.

"Jadi totalnya sudah Rp160 triliun dari sektor ESDM untuk menambal penambahan subsidi dari ketidaknaikan harga BBM itu. Sisanya baru dilakukan efisiensi dari tempat lain," katanya.

Bahlil menyatakan, kebijakan tersebut menjadi alasan pemerintah memilih mempertahankan harga BBM bersubsidi meski harga minyak dunia melonjak. Subsidi energi disebut harus tetap diprioritaskan bagi masyarakat yang berhak menerima.

"Sisanya baru dilakukan efisiensi dari tempat lain. Bapak Ibu semua, itu lah kenapa rumusan, orang kan tanya saya, ini lah rumusan kenapa tidak kita naikkan BBM," ucap dia.

Baca juga artikel terkait APBN atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Bayu Septianto