tirto.id - Pemerintah baru-baru ini menggulirkan wacana memblokir gim Roblox lantaran dianggap punya banyak potensi negatif bagi anak-anak. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa Roblox dinilai berpotensi menyebarkan konten kekerasan yang tidak pantas untuk anak.
Komentar senada sempat pula dilontarkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti. Dia menilai Roblox berbahaya sebab memuat konten kekerasan terselubung yang rawan ditiru anak-anak di dunia nyata.
Jika Roblox betul-betul diblokir, Indonesia mengikuti sejumlah negara lain yang lebih dulu melakukannya, seperti Cina, Iran, Turki, Jordan, Guatemala, Oman, dan Korea Utara. Lagi-lagi, pemerintah negara-negara tersebut khawatir pada dampak gim Roblox terhadap keselamatan dan paparan konten bagi anak-anak di ruang maya.
Roblox pertama kali dikembangkan oleh David Baszucki (kemudian jadi CEO-nya) pada 2004 dan diluncurkan ke publik dua tahun kemudian. Per 2024, Roblox ini memiliki lebih dari 85 juta pengguna aktif harian. Sementara itu, perusahaan gim daring yang berkantor pusat di San Mateo, California, Amerika Serikat, itu membukukan nilai pasar sebesar 27 juta dolar AS.
Roblox semula memang diciptakan untuk menjadi ruang eksplorasi ekspresi dan kreativitas bagi anak-anak. Pro dan kontra kemudian mengemuka saat remaja dan orang dewasa ikut memainkannya. Dan, bisa diprediksi, tak semuanya punya “niat mulia”.
Roblox digemari anak-anak dan remaja karena memungkinkan pengguna menciptakan permainan atau memainkan berbagai jenis permainan yang dibuat oleh sesama pengguna. Gim ini dilengkapi fitur sosial dan komunitas yang memungkinkan para pemain saling berinteraksi, membentuk grup, hingga bermain bersama secara real-time.

Namun, di balik keseruan serta ingar-bingar Roblox, banyak laporan miring dan kengerian yang menyasar anak-anak. Contonya seperti eksploitasi seksual daring, penipuan, grooming, perundungan, manipulasi, hingga serangan seksual secara nyata yang dilakukan para predator anak.
Oleh karena aspek-aspek itulah, wacana pemblokiran Roblox digulirkan. Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda Sundari, memandang wacana pemblokiran Roblox merupakan langkah tepat karena anak-anak perlu dilindungi dari potensi eksploitasi digital.
Ekosistem digital di Indonesia pun, kata Lisda, belum betul-betul menjamin keamanan untuk anak. Ia malah berisiko tinggi menghasilkan kekerasan daring, pelecehan, dan manipulasi yang sulit difilter.
“Jangan sampai anak-anak jadi kelinci percobaan di ruang digital yang sepenuhnya belum aman,” kata Lisda kepada wartawan Tirto, Jumat (8/8/2025).
Buramnya Batasan Interaksi Anak dan Dewasa
Pengembang Roblox mengklaim gimnya memiliki filter dan moderasi bagi pengguna anak-anak. Meski demikian, menurut Lisda, hal itu belum cukup menjamin keamanannya untuk pengguna anak karena ruang digital pada dasarnya sulit sekali dikontrol.
Lisda sendiri mengaku menemukan banyak konten seksual dan kekerasan terselubung di beberapa permainan Roblox.
Lisda tak menampik bahwa Roblox memang memiliki sisi edukatif dan kreatif yang bermanfaat bagi anak-anak. Sayangnya, kata dia, rendahnya literasi digital orang tua dan keamanan ruang digital di Indonesia membuat Roblox belum cukup aman bagi anak-anak.
Menurut Lisda, secara jangka pendek, opsi pemblokiran bisa melindungi anak-anak dari paparan konten berbahaya di Roblox. Namun, dalam jangka panjang, pemerintah perlu memastikan dan menghadirkan ruang digital dan gim-gim alternatif yang ramah anak.
“Dalam konteks perlindungan anak, pemblokiran itu solusi, merupakan langkah awal kuat melindungi anak. Tapi, jangka panjang seharusnya pemerintah bisa punya bargain negosiasi dengan platform digital seperti Roblox untuk menghadirkan versi lebih ramah anak,” ungkap Lisda.
Senada dengan Lisda, Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri, turut mendukung langkah pemblokiran Roblox di Indonesia. Iman menilai bahwa platform gim tersebut mengandung unsur kekerasan serta tidak memiliki batasan yang jelas terkait interaks antara pengguna dewasa dan anak-anak.
Buramnya batasan interaksi itu berisiko tinggi bagi keselamatan anak-anak. Pasalnya, kata dia, komunikasi langsung antara orang dewasa tak dikenal dan anak-anak merupakan salah satu faktor utama yang memungkinkan terjadinya tindakan kekerasan terhadap anak di ruang digital.
“Anak-anak belum bisa membedakan apakah suatu hubungan itu sekadar pertemanan atau justru bersifat seksual dan dominasi,” ujar Iman kepada wartawan Tirto, Jumat (8/8/2025).

Sebagai alternatif, Iman mendorong anak-anak memainkan gim yang memiliki lisensi resmi dan sesuai kategori usianya. Iman juga mendesak pemerintah, khususnya kementerian bidang pendidikan, membuat sistem penilaian untuk menandai gim-gim yang ramah anak dan edukatif untuk dimainkan.
Dengan aturan dan penilaian yang jelas, industri gim akan terdorong membangun ekosistem ramah anak.
“Kalau pasar mereka memang anak-anak, maka nanti mesti mengikuti aturan kementerian [bidang] pendidikan,” jelas Iman.
Kasus-kasus yang Melibatkan Roblox
Sebagai catatan, tindak kekerasan yang mengincar anak-anak secara daring lewat Roblox memang terjadi di berbagai negara. Di Indonesia, Juli lalu, Polda Kaltim melalui Satuan Tim Siber menangkap AMZ, pria asal Balikpapan, yang diduga menjadi predator anak lintas negara. AMZ dituding mengancam dan memeras secara seksual (sextortion) seorang anak perempuan berusia 15 tahun asal Swedia.
Kabid Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Yuliyanto, menjelaskan bahwa kasus ini terungkap usai terdapat laporan dari luar negeri. Laporan tersebut masuk melalui Divisi Hubungan Internasional Polri dari ibu korban yang berada di Swedia.
Dari penangkapan terhadap AMZ, kepolisian turut mengamankan sejumlah besar barang bukti digital yang digunakan untuk beraksi, di antaranya 5 akun email, 2 akun Instagram, serta akun WhatsApp, Discord, TikTok, dan Roblox.
Dalam laporan yang disusun Bloomberg tahun lalu, kepolisian AS sejak 2018 telah menangkap sedikitnya dua lusin orang atas tuduhan menculik atau melecehkan korban yang ditemui dan di-grooming menggunakan Roblox.
Data yang dikumpulkan Bloomberg menunjukkan beberapa pelaku yang ditangkap sudah masuk dalam daftar pelaku kejahatan seksual atau dituduh melakukan pelecehan terhadap anak di bawah umur. Para pelaku berasal dari latar belakang yang beragam, seperti aparat keamanan, guru, hingga perawat.
Sebagai contoh, ada kasus seorang pria Florida dituduh mencoba menculik seorang remaja yang dikenalnya di Roblox. Ada juga kasus pria yang didakwa menculik seorang gadis berusia 11 tahun dari New Jersey yang dikenalnya lewat Roblox. Lain itu, ada seorang pria California yang diduga melakukan pelecehan terhadap seorang anak yang ditemuinya di Roblox.
Laporan Bloomberg juga menilai Roblox digunakan predator untuk memikat anak-anak. Mereka kemudian meminta korbannya mengirimkan foto atau membangun hubungan dengan mereka. Mereka lalu berpindah komunikasi ke platform daring lainnya atau bahkan bertemu secara langsung.
Sementara itu, The Guardian mewartakan hasil penelitian dari Revealing Reality soal bagaimana anak-anak terekspos konten tak pantas di Roblox. Laporan itu menyebutkan banyak anak-anak tidak menyadari bahwa mereka sedang berinteraksi dengan orang dewasa. Itu bisa terjadi karena identitas pengguna dalam gim sangat mudah dimanipulasi.
Bahkan, dalam beberapa kasus, karakter dewasa mencoba mendekati anak-anak dengan dalih “roleplay”, lalu secara bertahap memperkenalkan elemen seksual terselubung—dari terminologi sampai gerakan avatar yang eksplisit.

Laporan kasus kejahatan yang terjadi melalui Roblox juga dipublikasikan oleh Hindenburg Research tahun lalu. Laporan mendalam tersebut mengungkapkan bahwa Roblox menjadi “neraka para pedofil” dan banyak anak-anak menjadi korban grooming, pornografi, konten kekerasan, dan ucapan kasar.
Hindenburg Research memasukkan kata “adult” ke kolom pencarian Roblox dan menemukan grup dengan nama "Adult Studios" dengan 3.334 anggota yang secara terbuka memperdagangkan pornografi anak dan meminta tindakan seksual dari anak di bawah umur.
Mereka melacak beberapa anggota "Adult Studios" dan dengan mudah menemukan 38 grup Roblox–salah satunya dengan 103.000 anggota–yang secara terbuka memperdagangkan pornografi anak.
“Kami menguji dengan pengalaman langsung bermain Roblox untuk melihat konten apa saja yang berpotensi dipaparkan ke anak-anak. Kami dengan cepat menemukan gambar alat kelamin pria dan ujaran kebencian dalam gim ‘simulator sekolah’ di Roblox. Itu elah mencatat 28,9 juta kunjungan tanpa batasan usia,” tulis laporan Hindenburg Research.
Meski demikian, ada juga beberapa laporan dan studi yang mengungkapkan manfaat Roblox untuk perkembangan edukasi dan kreativitas anak.
Studi bertajuk “Learners in the Metaverse: A Systematic Review on the Use of Roblox in Learning” yang dilakukan Southwest University (2023) mendapati bahwa Roblox dapat menunjang proses pembelajaran. Namun, Roblox harus dikombinasikan dengan kegiatan belajar interaktif atau lingkungan pembelajaran yang kolaboratif.
Roblox juga dinilai punya manfaat mendukung pemrograman dalam pendidikan STEM bagi siswa. Namun, urusan perundungan siber dan kekerasan anak-anak tetap dipersoalkan.
Menurut ID Tech, banyak anak yang mengenal coding pertamanya lewat Roblox. Artikel itu menyebut bahwa membuat gim di Roblox mendorong keterampilan problem solving, logika komputasi, dan bahkan kewirausahaan digital. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya menjual aksesori digital buatannya atau mendapatkan penghasilan dari gim bikinan sendiri.
Perkuat Literasi Digital Anak dan Orang Tua
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, menyatakan setuju apabila pemerintah memblokir beberapa gim daring yang mengandung unsur kekerasan, termasuk Roblox. Pada 2023, kata dia, KPAI pernah bersurat kepada Kominfo (kini Komdigi) untuk memblokir gim daring yang mengandung unsur kekerasan dan judi.
Beberapa gim daring juga dinilai membuat mereka kecanduan karena tidak ada batasan usia dan filtering pengguna. Menurut Diyah, anak secara tidak langsung terinspirasi melakukan hal-hal yang bersifat kasar.
Meskipun bukan satu-satunya pemicu kekerasan pada anak, beberapa gim daring dinilai KPAI menjadi salah satu masukan anak melakukan kekerasan, apalagi jika tidak didampingi oleh orang tua.
“Salah satunya yang mengandung unsur kekerasan Roblox, Freefire, dll. KPAI menemukan beberapa gim online ini menjadi menginspirasi anak-anak untuk melakukan kekerasan. Bahkan, ada salah satu kasus anak mengakhiri hidup yang sebelumnya kecanduan Roblox,” ucap Diyah kepada wartawan Tirto, Jumat (8/8/2025).
Sementara itu, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, berpendapat bahwa wacana pemblokiran Roblox menjadi jalan pintas yang tidak efektif. Solusi jangka panjang, kata dia, justru dengan meningkatkan literasi digital dan pengawasan yang cerdas, bukan dengan melarang gim daring.
Memblokir sebuah platform digital yang sangat luas semacam Roblox, kata Ubaid, tak akan menyelesaikan akar masalah eksploitasi anak di ruang digital. Sebaliknya, pemblokiran akan menimbulkan beberapa dampak negatif.
“Padahal, masalah utamanya kurangnya pengawasan orang tua, edukasi digital rendah, dan celah sistem keamanan platform itu sendiri,” ujar Ubaid kepada wartawan Tirto, Jumat (8/8/2025).
Dengan perkembangan teknologi saat ini, anak-anak tetap dapat memakai virtual private network (VPN) atau cara lain untuk tetap bermain. Memblokir Roblox hanya menyelesaikan masalah di permukaan, seolah-olah platform daring sebagai satu-satunya penyebab.
Alih-alih memilih pemblokiran yang represif dan tidak efektif, pemerintah diminta menempuh langkah-langkah yang lebih bijak, konstruktif, dan berkelanjutan. Pemerintah, bersama sekolah dan komunitas mestinya dapat lebih gencar mengedukasi orang tua dan anak-anak tentang keamanan digital.
Pemerintah juga dapat mengeluarkan regulasi yang mengharuskan pengembang gim untuk lebih ketat dalam memoderasi konten mereka. Misalnya, dengan mengatur standar rating gim yang lebih jelas dan sanksi tegas bagi gim yang tidak memenuhi standar.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































