tirto.id - Kecelakaan kereta cepat di Spanyol pada Rabu pagi (28/10) menewaskan 68 korban. Pada insiden tersebut, beberapa gerbong-gerbong kereta tampak hancur berserakan. Insiden ini terjadi di jalur datar yang dikelilingi oleh perkebunan zaitun di antara kota Urda dan Los Yebenes.
Pihak berwenang menyatakan terdapat 397 penumpang di dalam kereta Renfe dan 147 penumpang di dalam kereta Iryo. Kereta Renfe diperkirakan beroperasi dengan kecepatan 200 km/jam sebelum akhirnya menabrak kereta Iryo yang berhenti di depannya.
Otoritas terkait kini tengah menyelidiki keputusan dari pusat kendali yang diduga menjadi penyebab kecelakaan. Pemerintah setempat juga menetapkan tiga hari masa berkabung dengan prioritas utama menangani para korban beserta keluarganya.
Penyebab Kecelakaan Kereta Cepat di Spanyol
Kecelakaan dua kereta cepat di provinsi Toledo, Spanyol bagian tengah yang terjadi pada Rabu pagi (28/10) menewaskan 68 orang dan 58 orang lainnya sedang menjalani perawatan medis di rumah sakit. Data tersebut dikonfirmasi oleh Pemerintah regional Castilla La Mancha pada Kamis (29/10).
Laporan The Associated Press pada Kamis (29/10) menyebut kereta yang dioperasikan oleh perusahaan negara, Renva Ave, sedang melaju ke arah selatan dari Madrid menuju Sevilla. Di tengah perjalanan, kereta tersebut menabrak bagian belakang kereta lain milik perusahaan swasta, IRYO, yang saat itu sedang berhenti.
Adapun penyebab kecelakaan diduga karena perintah yang tidak dapat dijelaskan atau inexplicable dari pusat kendali di Madrid. Menteri Transportasi, Oscar Puente menjelaskan Rabu pagi (28/10) pukul 08.30 waktu setempat, sistem keamanan di sepanjang 63 km jalur kereta tidak berfungsi akibat gangguan komputer.
Gangguan ini menyebabkan enam kereta di jalur tersebut terhenti. Pusat kendali kemudian mengambil alih pengaturan lalu lintas kereta. Pada pukul 08.36 pagi, pusat kendali memerintahkan kereta Renfe untuk beroperasi secara normal tanpa pembatasan kecepatan, meskipun di jalur tersebut masih aktif sinyal berwarna merah.
Kereta itu kemudian melaju sejauh sekitar 25 kilometer sebelum akhirnya menabrak kereta Iryo yang sedang berhenti pada sekitar pukul 08.53 pagi. Tabrakan tersebut menyebabkan dua gerbong di bagian belakang kereta IRYO dan bagian depan kereta RENFE keluar dari rel.

Menurut Oscar Puente, dalam situasi tersebut, kereta Renfe Ave harusnya beroperasi dengan mengikuti prosedur marcha a la vista, yaitu berjalan dengan pengamatan visual.
Prosedur ini bagian dari langkah keselamatan kereta api yang diterapkan saat sistem kendali otomatis mengalami kegagalan. Pada mode marcha a la vista, kereta wajib melaju dengan kecepatan rendah agar visibilitas masinis lebih optimal untuk memutuskan segera berhenti jika menemukan rintangan atau kereta lain di jalur tersebut.
Namun, kereta Renfe Ave diperkirakan melaju dengan kecepatan 200 kilometer per jam. Akibatnya, dua gerbong pertama dari kereta yang tertabrak itu terperosok menuruni lereng setinggi empat meter.
Atas kecelakaan tersebut, otoritas terkait tengah menyelidiki bagaimana keputusan dari pusat kendali tersebut bisa diambil di tengah sinyal yang masih merah. Adapun prioritas utama pemerintah setempat saat ini yaitu menangani para korban beserta keluarganya, mencari korban selamat, serta memastikan mereka yang terdampak mendapatkan dukungan materi maupun psikologis.
"Salah satu momen terberat yang mungkin dihadapi siapa pun," ungkap Menteri Transportasi, Oscar Puente, saat menggambarkan insiden kecelakaan tersebut, dikutip dari Euronews, Rabu (28/10).
Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez juga turut menyampaikan solidaritas pada seluruh korban dan keluarganya. Pemerintah setempat juga akan menetapkan tiga hari berkabung nasional dan menyerukan peningkatan langkah-langkah keselamatan guna memulihkan kepercayaan terhadap sistem kereta api berkecepatan tinggi.
"Hari ini, seluruh Spanyol sedang berduka. Tidak dapat diterima bagi negara seperti Spanyol untuk mengalami dua kecelakaan kereta api berkecepatan tinggi dalam tahun yang sama," ujar Pedro Sanchez, dikutip dari Euronews, Rabu (28/10).
Mengapa Kecelakaan Kereta Cepat Bisa Sangat Fatal?
Kecelakaan kereta cepat bisa berdampak fatal. Hal ini terjadi karena kinerja kombinasi energi kinetik, perubahan kecepatan (deselerasi) dalam waktu singkat, hingga bobot dan interior kereta.
Kereta cepat berjalan beroperasi dengan kecepatan yang cukup tinggi hingga 350 km/jam. Saat kecepatan kereta meningkat, maka energi kinetik yang harus diredam saat terjadi benturan mendadak akan meningkat empat kali lipat.
Besarnya energi yang berlipat tersebut menyebabkan struktur di jalur lintasan nyaris tidak mungkin menyerap benturan. Akibatnya, akan terjadi kerusakan di berbagai sisi. Saat kereta berhenti mendadak dengan kecepatan tinggi, maka penumpang yang ada di dalam gerbong mengalami gaya grafitasi horizontal yang kuat.
Sementara, tubuh manusia memiliki batas toleransi terhadap kecepatan yang berhenti mendadak. Kondisi dapat berdampak pada cedera parah yang terjadi di organ dalam meskipun tubuh bagian luar tampah baik-baik saja.
Dengan kecepatan tinggi dan bobot kereta yang berat, maka diperlukan waktu pengereman dalam durasi tertentu untuk memastikan kereta berhenti di jarak terdekat. Namun saat terjadi kecelakaan kereta, massa yang besar menyebabkan gerbong anjlok hingga saling bertumpuk yang dapat merusak infrastruktur sekitar.
Melansir laman Rail Engineer, kereta sebenarnya telah didesain untuk menyerap energi benturan dengan cara yang meminimalkan risiko bagi penumpang di dalamnya. Selain itu, pergerakan kendaraan harus dikendalikan agar tetap tegak dan berada pada jalurnya, sehingga gaya yang timbul dapat dikelola.

Interior yang melengkapinya harus dirancang untuk melindungi penumpang seefektif mungkin. Namun, sejumlah faktor terkadang membuat upaya tersebut gagal sehinggamengakibatkan kecelakaan yang fatal.
Pada saat terjadi kecelakaan, energi setara dengan setengah massa dikalikan kuadrat kecepatan. Sebagai gambaran, berdasarkan standar keselamatan resmi di Eropa BS EN 15227, empat gerbong kereta yang melaju dengan kecepatan 36 km/jam akan melepaskan energi kinetik sebesar kurang lebih 7,5 Megajoule (MJ) secara sangat cepat saat menabrak rintangan.
Dalam kasus tabrakan dengan penyangga ujung rel pada kecepatan sekitar 15 km/jam, energi kinetiknya mencapai kurang lebih 1,4 MJ. Sementara, pada kereta modern, tabrakan semacam ini kemungkinan besar masih dapat diatasi dengan tingkat keselamatan yang lebih baik dibandingkan dengan kereta tipe Mark 1 jenis lama.
Pada kecepatan yang lebih tinggi, jumlah energi yang harus diredam meningkat secara signifikan. Kereta yang melaju dengan kecepatan 160 km/jam memiliki energi kinetik lebih dari 20 kali lipat dibandingkan saat melaju pada kecepatan 36 km/jam.
Bagi kereta yang lebih berat dan lebih cepat, nilai energi kinetiknya tentu jauh lebih besar. Misalnya, energi kinetik dari rangkaian kereta dengan 11 gerbong yang melaju pada kecepatan 200 km/jam mencapai hampir 900 MJ. Bagian depan kereta Class 390 mampu menyerap energi sebesar 3 MJ, sementara bagian ujung gerbong tengah mampu menyerap sekitar 1 MJ.
Saat beroperasi normal, energi dalam jumlah besar ini diredam secara bertahap saat kereta melakukan pengereman hingga berhenti. Dalam sebuah tabrakan, tingkat kerusakan yang terjadi bergantung pada laju disipasi energi, yang pada gilirannya ditentukan oleh tingkat perlambatan.
Pada tabrakan kereta dengan kecepatan tinggi, tingkat perlambatan bergantung pada jarak pengereman. Jika dalam operasional normal kereta membutuhkan jarak 750 meter untuk berhenti dari kecepatan 100 km/jam, dalam sebuah tabrakan, kereta mungkin berhenti hanya dalam jarak 5 meter. Hal ini menghasilkan perlambatan sekitar 8g, yang mengakibatkan kerusakan serta cedera yang parah.
Selain faktor kecepatan, kecelakaan kereta cepat juga menjadi sangat fatal lantaran adanya tantangan dalam proses evakuasi. Gerbong yang anjlok atau ringsek menjadi tantangan besar bagi petugas.
Mengutip laporan Reuters pada Kamis (29/10), pada kecelakaan kereta Renfe Ave yang menabrak kereta IRYO, menyebabkan beberapa gerbong kereta anjlok dengan puing-puing berserakan di sepanjang lereng berkerikil.
Penduduk setempat segera memberikan pertolongan pertama setelah mendengar dentuman keras. Salah satu orang pertama yang tiba di lokasi yaitu apoteker bernama Antonio Garcia, lansia berusia 78 tahun.
Ia menyaksikan satu gerbong tampak terselip di dalam gerbong lainnya, dengan banyak korban tergeletak. Ia membawa obat pereda nyeri, obat penenang dari apoteknya, serta selimut untuk membantu merawat para korban luka.
David Gomez, seorang pekerja konstruksi yang sedang berada di dekat lokasi, juga turut membantu penyelamatan dengan memotong pagar untuk memberikan pertolongan.
"Orang-orang berusaha keluar melalui jendela... Kami memotong pagar untuk menjangkau area tersebut dan memberikan pertolongan pertama dengan peralatan yang kami bawa sampai tim layanan darurat tiba," ujarnya, dikutip dari ABC News, Rabu (28/10).
Beberapa waktu kemudian, polisi, petugas pemadam kebakaran, dan tim tanggap darurat dari seluruh wilayah tiba di lokasi. Dalam menangani kecelakaan tersebut, pemerintah setempat akan menindak tegas jika terbukti terdapat kegagalan dalam sistem keselamatan.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id







































