Menuju konten utama
Gearbox

Mobil Terbang Jadi Salam Perpisahan Tesla

Tesla dianggap tak lagi mampu berkompetisi di sektor mobil listrik sehingga memilih mengalihkan fokus. Kali ini sasarannya adalah mobil terbang.

Mobil Terbang Jadi Salam Perpisahan Tesla
Tesla Roadster. Foto/Dok. Tesla
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sembilan tahun setelah pertama kali dijanjikan, Tesla Roadster 2 akhirnya muncul juga. Dan ia datang dengan cara yang benar-benar tidak terduga.

Kamis malam, 15 Oktober 2026, di fasilitas uji roket SpaceX dekat Waco, Texas, Roadster baru Tesla didemonstrasikan ke hadapan publik. Mobil tersebut melaju cepat di lintasan setengah lingkaran, menggantung terbalik di ketinggian, meluncur dari ujung lintasan, berputar 180 derajat, lalu mendarat dengan bantuan semburan gas bertekanan tinggi mirip pesawat-pesawat di semesta Star Wars.

Tidak ada pengemudi di dalam Roadster terbaru itu. Semuanya dikendalikan dari jarak jauh. Sebab, tangki nitrogen yang membuatnya bisa mendarat bak Millennium Falcon itu masih bersifat eksperimental.

"Kami tidak ingin membunuh siapa pun," seloroh bos Tesla, Elon Musk, yang juga menyatakan bahwa uji coba tersebut bisa saja berhasil, bisa juga tidak.

Dengan mendaratnya Roadster 2, bisa dipastikan bahwa demonstrasi Tesla masuk kategori berhasil. Musk pun dengan penuh kebanggaan berkata, "Mobil terbang itu nyata adanya."

Namun sebelumnya, pria kelahiran Afrika Selatan itu sempat pula mengutip kata-kata sekutunya di PayPal dulu, Peter Thiel. Pada 2011, Thiel, yang kini mengomando Palantir, sempat menulis manifesto berisi kritik pedas terhadap Silicon Valley.

"Yang kita inginkan adalah mobil terbang, tetapi yang kita dapatkan malah 140 karakter," kata Musk, mengutip manifesto Thiel. Yang dimaksud 14 karakter adalah Twitter—pada masa lalu penggunanya cuma bisa menulis unggahan maksimal 140 karakter—yang akhirnya diakuisisi oleh Musk dan mengubah namanya menjadi X.

Secara tidak langsung, lewat Roadster 2-nya, Musk menjawab kritik dari Thiel tersebut.

Tesla Roadster 2 pertama kali diumumkan pada 2017, dengan rencana produksi mulai 2020. Namun, rencana itu tak kunjung terwujud. Baru pada 2026 mereka akhirnya hadir dengan demonstrasi produk.

Namun, itu belum berarti mobil bakal segera diproduksi. Menurut Musk, target produksi paling realistis kini adalah 2028, mengingat masih ada bagian-bagian dari Roadster 2, termasuk tangki nitrogen, yang sifatnya masih eksperimental.

Seperti halnya Cybertruck, Roadster 2 didesain oleh Franz von Holzhausen. Garis-garisnya tegas lagi tajam, dengan bobot bodi sedikit di bawah 1.700 kg.

Namun, tak seperti Tesla lainnya yang berpenggerak empat roda, Roadster 2 menggunakan konfigurasi penggerak dua roda. Meski demikian, masing-masing roda digerakkan dengan motor yang mampu menghasilkan lebih dari 1.341 dk dan torsi melampaui tiga motor Tesla Model S Plaid sekaligus.

Mobil tersebut memiliki jarak tempuh lebih dari 300 mil (hampir 500 km) dalam kondisi daya penuh. Sementara itu, baterainya bisa diisi dari 15 ke 80 persen hanya dalam 10 menit.

 Tesla Roadster

Tesla Roadster. foto/Dok. Tesla

Mobil Terbang Bukan Lagi Khayal

Ada dua sistem yang mendasari kemampuan terbang Roadster 2. Pertama,sucker system atau sistem pengisap. Kedua, cold gas thrusters (pendorong gas dingin)

Sistem pengisap Roadster 2 terinspirasi dari Lotus Esprit dalam film The Spy Who Loved Me. Bedanya, dalam film James Bond keluaran 1977 itu, Lotus Esprit menjadi mobil selam dengan propeler. Sementara itu, untuk Roadster 2, para insinyur Tesla memasang empat kipas berkapasitas masing-masing 20 kilowatt di bagian bawah bodi.

Saat diaktifkan, kipas-kipas itu mengisap udara dari kolong mobil dan menarik kendaraan ke atas. Lalu, empat skirts turun dari sisi mobil untuk menyegel bagian bawah. Hasilnya adalah gaya tekan ke bawah lebih dari 2 G (gaya bebannya dua kali lipat dari gaya gravitasi bumi normal), bahkan di kecepatan di bawah 80 kilometer per jam. Itu cukup untuk membuat mobil menempel di dinding vertikal dan langit-langit.

Prinsip serupa sudah lebih dulu digunakan McMurtry Spéirling, supercar Inggris yang memakai kipas untuk menghasilkan tekanan ke bawah hingga 2.000 kg.

Sementara itu, pendorong gas dingin, yang dikembangkan oleh Tesla dan SpaceX, juga berperan krusial. Di belakang kursi pengemudi terdapat tangki karbon berlapis serat berkapasitas 200 liter yang menyimpan nitrogen bertekanan maksimal 10.000 pon gaya per inci persegi (PSI). Gas tersebut disemburkan melalui nosel sehingga menghasilkan gaya dorong lebih dari 80 kilonewton. Menurut Lars Moravy, VP Vehicle Engineering Tesla, gaya itu setara dengan mesin jet tunggal pada pesawat tempur.

Nantinya, Roadster 2 akan dipasarkan dalam tiga varian. Model Performance memiliki sucker system tanpa thrusters, dengan akselerasi 0-60 mil/jam dalam 1,6 detik dan kecepatan puncak 210 mil/jam. Model Thrust dibekali empat thrusters dan tangki nitrogen 200 liter, dengan akselerasi mencapai 0-60 mil/jam dalam 0,85 detik dan kecepatan puncak 230 mil/jam. Model Rocket, yang tampil dalam demonstrasi di Waco, memiliki tangki nitrogen berkapasitas 600 liter, dilengkapi enam thrusters tambahan yang tersebar di setiap sudut kendaraan. Kursi penumpangnya dihilangkan untuk memberi ruang ekstra. Namun, varian ketiga hanya tersedia berdasarkan undangan dan ilegal digunakan di jalan umum.

Rekayasa Memukau tapi Berujung Percuma?

Demonstrasi Tesla pada 15 Oktober 2026 sanggup mencuri perhatian media sosial. Namun, setelahnya, nilai saham Tesla justru menurun. Menurut analis Wall Street, Dan Ives, Roadster 2 "tidak akan berpengaruh besar pada volume dan pendapatan," tetapi akan "mengembalikan muruah Tesla."

Sementara itu, Andrew Hawkins dari The Verge menulis, "[Mobil] ini benar-benar tidak ada gunanya sebagai sebuah produk untuk digunakan, tetapi selama 30 menit Tesla telah menunjukkan 'otot' dari kemampuan rekayasanya, dan apa yang mereka tampilkan sangat memukau."

Selain skeptisisme pasar dan analis, masalah lain yang dihadapi Tesla Roadster 2 adalah regulasi. FAA (Badan Penerbangan Sipil AS) menyatakan kendaraan tersebut tidak memenuhi definisi pesawat terbang. Namun, Scott Miller, dosen program Penerbangan dan Teknologi di San José State University, mengingatkan bahwa FAA punya yurisdiksi atas “mesin apa pun yang bisa tinggal landas."

Mantan pejabat FAA Michael McCormick memperkirakan sertifikasi bisa memakan waktu setidaknya satu tahun. Pengemudi Roadster 2 juga perlu memiliki lisensi penerbangan rekreasi nantinya.

Sebenarnya, tak cuma para analis yang skeptis. Musk pun menyatakan bahwa dia tidak yakin mobil tersebut legal di semua yurisdiksi.

 Tesla Roadster

Tesla Roadster. foto/Dok. Tesla

Masalah legalitas Roadster 2 itu tidak dimiliki oleh Alef Aeronautics. Perusahaan rintisan asal California tersebut sudah berkecimpung di bidang mobil terbang selama 11 tahun, jauh sebelum Tesla mengumumkan Roadster. Sehari setelah demonstrasi Tesla, Alef mengunggah video mobil purwarupanya terbang melewati Cybertruck dan Roadster generasi pertama, dengan waktu terbang jauh lebih lama. "Selamat datang di perlombaan mobil terbang," tertulis di takarir unggahan media sosialnya.

Tidak seperti Roadster 2 yang menggunakan pendorong gas dingin, Alef memakai delapan propeler bertenaga listrik, seperti drone berukuran besar. Mobilnya, yang akan dijual dengan nama Model A, diklaim punya jangkauan berkendara kurang lebih 350 kilometer dan jangkauan terbang sekitar 176 km.

Model A juga sudah mengantongi sertifikat layak terbang khusus. Memang, sertifikat itu hanya terbatas untuk keperluan pameran, riset, dan pengembangan. Akan tetapi, untuk keperluan-keperluan itu pun Tesla belum punya.

Apakah nantinya Tesla akan benar-benar serius menggarap mobil terbang, itu masih harus dilihat lagi. Namun, satu hal yang cukup jelas, keberadaan Roadster 2 merupakan sinyal bahwa Tesla sudah "menyerah" dalam persaingan mobil listrik massal. Setidaknya, begitulah menurut analisis Tim Higgins dari The Wall Street Journal.

Menurutnya, demonstrasi Roadster 2 merupakan pernyataan Musk bahwa dirinya bakal menyerahkan segmen mobil listrik massal kepada perusahaan-perusahaan Cina. Dalam rapat pada 2024, Musk pernah berkata, "Kalau boleh jujur, apabila tidak ada batasan tarif dagang apa pun, mereka akan menghancurkan semua pabrikan yang ada muka Bumi."

Faktanya, per 2025 lalu, tujuh dari sepuluh perusahaan mobil listrik terbesar di dunia adalah perusahaan Cina. Di situ, BYD jauh memimpin rival-rivalnya dengan market share 19 persen. Tesla memang masih ada di urutan kedua dengan market share 7,8 persen, tetapi posisinya amat rentan digoyang Geely dan Wuling yang masing-masing punya market share 5,7 persen dan 4,4 persen.

Sinyal "menyerah" Musk makin kentara dari rilisan mobil terbangnya. Tesla melabeli Roadster dengan slogan "The Last Best Driver's Car". Menurut Inside EV, itu merupakan swan song alias salam perpisahan Tesla terhadap mobil yang dikendarai oleh manusia. Mereka kini mulai mengalihkan fokus sepenuhnya pada kendaraan otonom.

Baca juga artikel terkait MOBIL TERBANG atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin