Menuju konten utama

AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Kompak Naik di Awal Pekan

Kenaikan harga minyak dunia dipicu ditutupnya Selat Hormuz sebagai jalur vital pengiriman minyak dan gas di dunia.

AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Kompak Naik di Awal Pekan
Peta Selat Hormuz. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Garda Revolusi Iran (IRGC) memutuskan untuk menutup jalur vital pengiriman minyak dan gas di dunia, Selat Hormuz, menyusul serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Gangguan pada Selat Hormuz ini lantas memicu lonjakan harga minyak dan gas (migas) dunia.

Menukil Bloomberg, pada Senin (2/3/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2026 berada pada level 71,78 dolar AS per barel, naik 7,10 persen dibanding posisi akhir pekan yang masih senilai 67,02 dolar AS per barel.

Kemudian, harga minyak Brent juga mengalami lonjakan hingga 13 persen ke posisi 82 dolar AS per barel.

Sedangkan, untuk kontrak pengiriman Mei 2026, harga minyak Brent sudah melompat 12 persen ke posisi 81,37 dolar AS per barel.

Imbas perang AS-Israel dan Iran yang memicu gangguan pada Selat Hormuz, pasar minyak dumia kini bersiap menghadapi volatilitas yang berkepanjangan dan gangguan yang berkelanjutan.

Sementara itu, sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengatakan, konflik dapat berlangsung selama empat minggu lagi, dan akan berlanjut sampai tujuan AS tercapai.

Memanasnya hubungan AS-Israel dan Iran ini membuat semua mata tertuju pada Selat Hormuz, dimana sekitar seperlima dari perdagangan minyak laut dunia mengalir dan 20% dari gas alam cairnya.

Meskipun jalur air vital belum diblokir, situs pelacakan laut menunjukkan tanker yang menumpuk di kedua sisi selat waspada terhadap serangan atau mungkin tidak bisa mendapatkan asuransi untuk perjalanan tersebut.

"Perkembangan paling cepat dan nyata yang mempengaruhi pasar minyak adalah penghentian lalu lintas yang efektif melalui Selat Hormuz, mencegah 15 juta barel per hari (bpd) minyak mentah mencapai pasar," kata kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, Jorge Leon, dikutip Reuters, Senin (2/3/2026).

"Kecuali sinyal de-eskalasi muncul dengan cepat, kami mengharapkan repricing minyak yang signifikan ke atas," lanjutnya.

Lonjakan harga minyak yang berkepanjangan dikhawatirkan akan berisiko memicu kembali tekanan inflasi secara global. Pada akhirnya, kondisi ini akan memaksa para kepala negara untuk menaikkan tarif pajak baik dari sisi dunia usaha maupun masyarakat dan mendorong terjadinya pelemahan konsumsi masyarakat.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Bayu Septianto