Menuju konten utama

Fenomena Aphelion 2025 Hoax atau Fakta? Ini Penjelasan & Dampak

Benarkah Aphelion terjadi pada Juli 2025? Simak penjelasan dan dampaknya terhadap suhu udara serta musim di bumi.

Fenomena Aphelion 2025 Hoax atau Fakta? Ini Penjelasan & Dampak
Ilustrasi Aphelion. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Salah satu fenomena astrologi yang sedang ramai menjadi perbincangan adalah Aphelion. Apakah benar fenomena Aphelion benar-benar terjadi dan apa dampak Aphelion terhadap bumi? Simak selengkapnya berikut.

Aphelion adalah kondisi bumi yang berada pada titik orbit terjauh dari matahari. Fenomena tata surya ini terjadi setiap tahunnya. Biasanya berkisar pada awal bulan Juli. Pada 2023, Aphelion terjadi pada 6 Juli, setahun kemudian, Aphelion terjadi pada 5 Juli.

Apakah Aphelion Benar Terjadi?

Dikutip dari laman The Sun Today, Aphelion telah terjadi pada 3 Juli pukul 19.54 UTC atau 4 Juli 2025 pukul 02.54 WIB. Pada saat itu, bumi berada di orbit terjauhnya dari matahari yaitu di titik 94.502.939 mil atau sekitar 152.088.848 km.

Aphelion hanya terjadi pada satu waktu. Jika sudah mencapai titik terjauh, bumi akan meneruskan perjalanannya menuju Perihelion atau titik terdekat bumi dengan matahari yang biasanya terjadi pada bulan Januari.

Dampak Aphelion terhadap Bumi

Dikutip dari laman Forbes, Aphelion yang terjadi setiap tahunnya tidak terlalu berdampak pada bumi, terkhusus pada musim, cuaca, dan lainnya. Namun bukan berarti tidak berdampak sama sekali.

Bumi bergerak lebih cepat di perihelion dan lebih lambat di aphelion. Musim panas di Belahan Bumi Utara berlangsung lebih lama daripada musim panas di Belahan Bumi Selatan. Perbedaannya hanya beberapa hari saja.

Untuk tahun ini, musim panas di Belahan Bumi Utara diperkirakan berlangsung 15 menit lebih pendek daripada tahun 2024 lalu. Ini dipengaruhi bukan karena Aphelion melainkan karena pengaruh gravitasi matahari, bulan, dan Jupiter, yang menyebabkan lintasan orbit sedikit berubah.

Belahan Bumi Utara saat ini condong ke arah matahari, sehingga mendapat lebih banyak sinar matahari lebih lama daripada Belahan Bumi Selatan, yang sekarang miring menjauhi matahari dan memiliki hari-hari yang lebih pendek dan lebih dingin.

Pada tahun 2023, terdapat pesan berantai yang beredar luas di media sosial tentang fenomena Aphelion. Disebutkan jika cuaca dingin yang terjadi di Indonesia di bulan-bulan Juni hingga Agustus adalah karena pengaruh Aphelion.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kala itu telah menjelaskan lewat siaran pers di laman resminya dan juga dikuatkan dengan pernyataan yang diunggah oleh Kementerian Komunikasi dan Digita (Komdigi) yang menyebut jika berita tersebut hoaks.

“..kondisi cuaca dingin yang terjadi di wilayah Indonesia pada periode bulan Juli tidak terkait dengan fenomena Aphelion," bunyi potongan siaran pers BMKG terkait Aphelion (6/7/2023).

Masih menurut BMKG, penyebab suhu dingin di Indonesia lebih dipengaruhi oleh perubahan suhu atau cuaca ekstrem, seperti Angin Monsun Australia. Angin ini bertiup dari Australia menuju Asia melewati wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia sambil membawa udara dingin.

Untuk menghadapi fenomena cuaca dingin, diperlukan upaya ekstra dalam menjaga daya tahan tubuh, yaitu dengan konsumsi makanan bergizi dan istirahat yang cukup. Hindari aktivitas yang berlebihan dan membuat lelah.

Baca juga artikel terkait FENOMENA APHELION atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra