tirto.id - Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang terjadi pada Senin dan Selasa (7-8/7/2025), membuat banyak mata memusatkan perhatian pada gunung yang terletak di Nusa Tenggara Timur ini.
Banyak pertanyaan yang muncul terkait dengan Gunung Lewotobi. Salah satu yang banyak ditanyakan apakah ada Gunung Lewotobi Perempuan? Jawaban dari pertanyaan ini adalah ada.
Gunung Lewotobi merupakan dua gunung berapi kembar, yang terdiri dari Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Lewotobi Perempuan. Keduanya sama-sama pernah mengalami erupsi
Gunung Lewotobi Ada di Mana?
Gunung Lewotobi terletak di bagian tenggara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Secara administratif, Gunung Lewotobi berada di Kecamatan Wulanggitang dan sebagian kecil Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, NTT.
Kedua gunung ini hanya berjarak sekitar 2 kilometer. Ketinggian dua gunung ini hampir sama. Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki ketinggian 1.584 m atau 5.196 kaki. Sedangkan, Gunung Lewotobi Perempuan lebih tinggi, yakni 1.703 m atau 5.587 kaki.
Masing-masing gunung memiliki kawah di puncaknya. Kawah di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki berdiameter 400 meter, sedangkan kawah di puncak Gunung Lewotobi Perempuan berdiameter 700 meter.
Berdasarkan laman Kementerian ESDM, Gunung Lewotobi Perempuan pernah erupsi dua kali, yakni pada tahun 1921 dan 1935. Sedangkan catatan erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki jauh lebih banyak.
Pada tahun 2025 saja, setidaknya Lewotobi Laki-laki sudah erupsi sebanyak 3 kali, yakni pada 21 Maret, 17 Juni, dan 7 Juli. Erupsi ini menimbulkan dampak yang beragam. Mulai dari masyarakat yang terpaksa mengungsi hingga terganggunya jadwal penerbangan komersial.
Legenda Gunung Lewotobi
Gunung Lewotobi memiliki nama asli Ile Bele yang artinya gunung besar. Ile Bele terdiri atas Ile Lake yang artinya Lewotobi Laki-laki dan Ile Wae yang artinya Lewotobi Perempuan. Gunung ini sarat akan legenda dan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat setempat. Salah satu legenda yang paling populer adalah berikut.
Konon, di masa lampau, hiduplah dua keluarga yang bertetangga dekat. Keluarga pertama adalah Puka dan istrinya, sementara yang lainnya adalah Tobi beserta pasangannya.
Suatu ketika istri Puka dan Tobi mengandung bersamaan. Sembari menanti kelahiran buah hati, mereka membuat perjanjian luhur. Siapa pun yang dianugerahi anak laki-laki akan memegang gelar Opu alias tetua yang dihormati, sementara yang lain akan menjadi Mame.
Tibalah saatnya melahirkan. Tobi dan istrinya bersukacita menyambut seorang putri. Dengan demikian, sesuai perjanjian, Puka pun memandang mereka sebagai Mame.
Puka memiliki keinginan untuk membuat gunung dari pasir dan batu. Namun, usahanya selalu gagal karena hasil pekerjaannya selalu runtuh. Melihat Puka tak kunjung berhasil, suku Tobi atau Mame datang membantu. Mereka kemudian memasang tempurung tepat di puncak dua gunung yang sedang dibuat oleh Puka.
Karena suku Tobi lah yang membantu menutup puncak gunung tersebut dengan tempurung, maka kedua gunung itu dinamakan Lewotobi. Puncak yang saat ini sering mengalami erupsi dipercaya merupakan bagian lubang yang dulu ditutup oleh Suku Tobi.
Lewotobi dianggap sebagai simbol kesetiaan sepasang suami istri, sekaligus harmoni manusia dan alam semesta. Meski tidak ada catatan resmi mengenai legenda atau asal-usul nama gunung ini, hingga kini legenda ini terus dipercayai.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Elisabet Murni P
Masuk tirto.id





























