Apa yang Dimaksud Unsur Intrinsik dalam Cerita dan Puisi?

Oleh: Yuda Prinada - 24 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Unsur intrinsik adalah pembentuk sebuah karya sastra yang termuat di dalam karya itu sendiri.
tirto.id - Dalam cerita (prosa) dan puisi, terdapat unsur intrinsik dan ekstrinsik yang didefinisikan sebagai unsur pembangunnya. Berbeda dengan ekstrinsik yang melihat latar belakang subjektif penulis (seperti pendidikan, budaya, dan sebagainya), unsur intrinsik lebih melihat isi dari karyanya.

Dalam Teori Pengkajian Sastra (2009:23), Burhan Nurgiyantoro menerangkan, unsur intrinsik adalah pembentuk sebuah karya sastra yang termuat di dalam karya itu sendiri. Jika kita ingin melihat unsur intrinsik pada sebuah prosa, maka kita harus membaca ceritanya, begitu juga pada puisi.

Berdasarkan Modul 3, Ceritamu Ceritaku (2018:2-9) yang diterbitkan Kemendikbud, cerita memiliki beberapa unsur intrinsik, yakni tema, alur/plot, latar, tokoh dan penokohan, serta sudut pandang.

Sedangkan puisi memiliki lima unsur, yaitu tema, amanat, rima, diksi, dan majas (Tim Grasindo, Bahasa dan sastra Indonesia: untuk SMA kelas 1. 1A, 2005:98).


Unsur Intrinsik Cerita/Prosa

1. Tema

Bagian ini berperan penting karena meliputi ide inti dari pokok bahasan cerita. Usur pembentuk ini bisa menambah kualitas fokus penjiwaan sebuah karya sastra, Misalnya, kita membaca cerita tentang seseorang yang menjaga kebersihan setiap hari. Maka, tema yang ingin disampaikan adalah “Pentingnya Kebersihan”.

2. Alur atau Plot

Pola cerita yang dibentuk oleh hubungan sebab dan akibat disebut alur. Biasanya, alur berawal dari pengenalan, pemicu konflik, keseriusan konflik, puncak konflik, dan penyelesaian.

Akan tetapi, alur juga bisa diubah sesuai keinginan penulis ceritanya. Terdapat tiga jenis plot, yakni maju (berurutan), mundur (flashback), dan campuran (berurutan, namun terkadang mundur).

3. Latar

Latar dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu tempat (lokasi cerita), waktu (kapan cerita berlangsung), dan suasana (kondisi suasana dalam cerita).

Misalnya kita membaca kalimat “Ketika di Jakarta, Doni mendapatkan hadiah mobil”. Latar tempat dilukiskan dengan “Jakarta”, waktu dengan “ketika”, dan suasana senang melalui “mendapatkan hadiah”.

4. Tokoh

Tokoh didefinisikan sebagai pemeran di dalam cerita. Terdapat dua jenis tokoh, yaitu tokoh utama (berperan penting dalam alur) dan tokoh tambahan yang tidak terlalu mempengaruhi jalan cerita.

Kedua jenis ini juga dipisahkan menjadi tiga sifat, tokoh protagonis (pejuang kebenaran), antagonis (wataknya jelek), dan tritagonis (penengah).

5. Penokohan

Berbeda dengan tokoh, penokohan lebih menggambarkan seluruh aspek dari seorang tokoh. Kriterianya dimulai dari watak atau sifat, ciri-ciri fisik, dan cara pengarang menggambarkannya.

6. Sudut Pandang

Diartikan sebagai cara penulis memberikan pandangan dalam sebuah cerita. Setidaknya terdapat empat jenis sudut pandang dalam prosa.

Di antaranya orang pertama pelaku utama (aku menceritakan aku), orang pertama pelaku sampingan (aku menceritakan tokoh lain yang utama), orang ketiga serba tahu (menjabarkan seseorang dengan “dia” dan tahu segalanya), dan orang ketiga pengamat (serba tahu, namun hanya terhadap satu tokoh saja).


Unsur Intrinsik Puisi

1. Tema

Sama seperti cerita atau prosa, tema dalam unsur intrinsik puisi adalah ide utama yang disampaikan penulis dalam karya sastra yang dibuatnya.

2. Amanat

Sering juga disebut sebagai tujuan dan maksud dari penulis menuliskan sesuatu. Misalnya, dalam tema yang disampaikan mengenai pentingnya kebersihan, maka amanat yang disampaikan juga harus meliputi hal itu. Contohnya seperti berikut, “Bersih sekitar, hati tak ambyar”.

3. Rima

Didefinisikan sebagai samanya bunyi nada, baik dalam sebuah susunan frasa dalam baris, atau antara baris dengan baris. Contohnya, “Monyet hinggap, saya yang ditangkap”, terdapat kesamaan akhir (-ap) di setiap kata yang mendapatkan jeda.

4. Diksi

Diksi adalah kata yang dipilih oleh penulis dalam membuat karya puisi. Dalam puisi, biasanya kata hampir tidak digunakan sesuai fungsinya, seperti “melihat suara” misalnya. Jika menggunakan laras tulisan ilmiah, frasa melihat sesuatu yang seharusnya didengar tidak sesuai, namun dalam puisi diperbolehkan.

5. Majas

Secara umum, majas diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu majas pertentangan (saling bertolak belakang), perbandingan (membandingkan dua benda untuk mencari makna), penegasan (berupaya menjabarkan pentingnya sesuatu), dan sindiran (mengandung sindiran).


Baca juga artikel terkait UNSUR INTRINSIK atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight