Menuju konten utama

Apa itu Thudong 2025 & Kapan Sampai di Borobudur?

Thudong 2025 dimulai sejak 6 Februari. Kapan para bhikkhu tiba di Borobudur untuk perayaan Waisak? Berikut informasi lengkapnya.

Apa itu Thudong 2025 & Kapan Sampai di Borobudur?
Sejumlah Bhikkhu Thudong berjalan kaki menyusuri jalan raya di Bengkal, Kranggan, Temanggung, Jawa Tengah, Minggu (19/5/2024). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/Spt.

tirto.id - Menjelang perayaan Hari Raya Waisak 2569 BE yang jatuh pada 12 Mei 2025, perhatian umat Buddha dan masyarakat luas kembali tertuju pada prosesi kedatangan para bhikkhu (biksu) yang melakukan perjalanan spiritual lintas negara menuju Candi Borobudur, Jawa Tengah.

Tradisi perjalanan ini dikenal dengan nama Thudong, sebuah ritual suci yang sarat makna dan nilai keagamaan dalam ajaran Buddha.

Thudong bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah latihan spiritual yang menuntut ketekunan, kesederhanaan, dan pengendalian diri. Tahun ini, prosesi Thudong kembali dilaksanakan dengan semangat tinggi dan melibatkan bhikkhu dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara.

Apa Itu Thudong 2025?

Thudong adalah tradisi berjalan kaki sejauh ribuan kilometer yang dijalani para bhikkhu sebagai bentuk penghayatan terhadap ajaran Buddha. Mereka menempuh jalur panjang yang melintasi hutan, gunung, desa, hingga wilayah urban. Semakin jauh dan berat perjalanan yang ditempuh, diyakini semakin besar pula nilai spiritual yang tercapai oleh para pelakunya.

Tradisi ini berakar dari praktik keagamaan kuno di Asia Tenggara, khususnya di negara-negara dengan tradisi Buddhisme Theravāda seperti Thailand, Myanmar, Laos, dan Kamboja.

Dalam bahasa Pali, “Thudong” sendiri merujuk pada kata dhutanga, yakni serangkaian praktik asketis yang bertujuan untuk mengikis keterikatan terhadap duniawi. Sementara dalam bahasa Thailand, kata Thu Dong berarti jalan kaki.

Secara historis, jejak Thudong dapat ditelusuri sejak abad ke-6 hingga ke-4 SM, ketika Sang Buddha sendiri disebut melakukan pengembaraan spiritual serupa sebagai bagian dari pertapaan dan perjalanannya menyebarkan Dhamma. Setelah wafatnya Sang Buddha, praktik ini diteruskan oleh para murid dan berkembang menjadi bagian penting dari tradisi monastik Buddhis.

Dalam praktik modern, Thudong menjadi bentuk ziarah sekaligus meditasi berjalan. Para bhikkhu yang menjalani prosesi ini biasanya hanya membawa perlengkapan dasar seperti jubah, mangkuk alm, payung, dan tidak membawa bekal makanan. Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka mengandalkan kemurahan hati warga setempat melalui pemberian dana makanan (alm).

Selama perjalanan, para bhikkhu menyebarkan pesan damai, menginspirasi ketenangan batin, dan menunjukkan kedisiplinan hidup yang minim akan kemewahan duniawi. Setiap langkah yang mereka ambil juga menjadi bentuk penghayatan terhadap ajaran Buddha serta ajakan bagi masyarakat untuk hidup lebih sederhana dan penuh welas asih.

Kapan Thudong 2025 Tiba di Borobudur?

Sebanyak 38 bhikkhu telah memulai perjalanan Thudong 2025 dari Bangkok, Thailand, sejak 6 Februari 2025. Mereka menempuh perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur dengan melintasi empat negara, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Dikutip dari Antara (6/3/2025), menurut Ketua Panitia Thudong 2025, Welly Widadi, para bhikkhu dijadwalkan tiba di Batam pada 16 April 2025. Dari Batam, mereka akan diterbangkan ke Jakarta yang menjadi titik awal perjalanan darat mereka di Indonesia.

Perjalanan suci ini dijadwalkan akan berakhir di puncak Candi Borobudur pada 10 Mei 2025, di mana mereka akan turut serta dalam perayaan Tri Suci Waisak di kompleks candi tersebut.

Selama di Indonesia, para bhikkhu akan berjalan melintasi sejumlah kota dan kabupaten, dimulai dari Jakarta, lalu menuju Bekasi, Cikarang, Karawang, Cikampek, dan Pamanukan.

Perjalanan dilanjutkan ke Losarang, Jatibarang, Cirebon, Losari, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, dan Semarang. Setelah itu, mereka bergerak menuju Ungaran, Ambarawa, Magelang, hingga akhirnya mencapai tujuan akhir di Candi Borobudur.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama dan pemerintah daerah, turut mendukung kelancaran dan keamanan perjalanan ini.

Staf Khusus Menteri Agama, Gugun Gumilar, menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen memastikan proses perjalanan para bhikkhu di Indonesia berlangsung aman dan lancar. Ia juga menekankan melalui Antara (6/3/2025) bahwa Thudong bukan hanya program spiritual dan dakwah, tetapi juga menjadi simbol pemersatu antarbangsa.

Keberadaan Candi Borobudur sebagai salah satu pusat ibadah Buddhis dunia menjadi alasan kuat mengapa para bhikkhu dari luar negeri memilih Indonesia sebagai tujuan akhir Thudong.

Hal ini diungkapkan Welly melalui liputan Antara (6/3/2025), “Karena ada Candi Agung Borobudur, itu menjadi alasan para bhikkhu melakukan ritual agama tertinggi mereka di sini.”

Baca juga artikel terkait BANTE THUDONG atau tulisan lainnya dari Febriyani Suryaningrum

Kontributor: Febriyani Suryaningrum
Penulis: Febriyani Suryaningrum
Editor: Fitra Firdaus