tirto.id - Salah satu anggota Batalyon Teritorial Pembangunan (TP) 843/WM Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Prada Lucky Cepril Saputra Namo, meninggal dunia diduga akibat dianiaya oleh seniornya di kesatuan, Rabu (6/8/2025).
Ayah almarhum Prada Lucky, Serma Christian Namo, bercerita bahwa tubuh anaknya penuh dengan luka yang diduga dilakukan senior anaknya. Ia pun meminta agar para senior anaknya diproses hukum.
"Saya sangat kecewa dan terluka. Ini bukan semestinya perilaku seorang prajurit terhadap sejawatnya. Saya harap semua yang terlibat diproses secara hukum dan diberi hukuman setimpal," ungkap Serma Christian Namo saat ditemui di RSUD Aeramo, Nagakeo, Papua, Rabu (6/8/2025).
Pantauan awak media di ruang jenazah, sekujur tubuh Prada Lucky, terutama pada punggung, luka-luka akibat hantaman benda keras.
Selain itu, lengan dan kaki korban juga terdapat luka lebam, dan luka bakar akibat sundutan rokok.
Berdasarkan informasi yang diperoleh wartawan, Prada Lucky mendapat perawatan di rumah sakit pada 2 Agustus 2025. Tiga hari berselang atau Selasa, 5 Agustus 2025, Prada Lucky mengalami kondisi setengah sadar da diberi obat penenag karena terpasang selang ventilator.
Pada Rabu (6/8/2025) pagi, Prada Lucky mengalami henti jantung dan dilakukan tindakan RJP (pijat jantung) oleh dokter beserta tim ICU. Setelah tindakan RJP, kondisi pasien sempat membaik, namun kemudian mengalami henti jantung kembali dan dilakukan tindakan RJP. Setelah 45 menit melakukan RJP, Prada Lucky dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (6/8/2025) pukul 11.23 WITA.
Menanggapi dugaan penganiayaan oleh senior anggota TNI, Komandan KODIM 1625 Ngada, Letkol Deny Wahyu Setiawan, mengatakan, proses penyelidikan tengah berlangsung.
"Semua pihak bergerak cepat sesuai perintah dari bapak Pangdam IX untuk memproses kasus ini secara hukum. Hari ini, Subdenpom sedang melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah personel yang diduga terlibat," ungkapnya, Rabu (6/2025) malam.
Namun, Deny mengaku belum bisa memastikan berapa prajurit yang diperiksa dalam kasus kematian tersebut.
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id

































