Amerika Latin Berharap Donald Trump Hormati Kedaulatan

Oleh: Agung DH - 10 November 2016
Dibaca Normal 1 menit
Negara-negara di Amerika Latin menanggapi beragam terhadap kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS Selasa (8/11) waktu setempat. Namun pada umumnya mereka berharap pemerintahan baru AS menghormati kedaulatan negara-negara di Amerika Latin.
tirto.id - Negara-negara di Amerika Latin menanggapi beragam terhadap kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS Selasa (8/11) waktu setempat. Namun pada umumnya mereka berharap pemerintahan baru AS menghormati kedaulatan negara-negara di Amerika Latin.

Pemerintah baru yang berasal dari sayap-kanan Peru optimistis terhadap pemerintahan Trump ke depan.

Sedangkan musuh lama Amerika seperti Venezuela berharap Trump membawa masa depan baru bagi hubungan AS-Venezuela.

Pemerintah Venezuela pada Rabu (9/11) bahkan telah mengucapkan selamat atas kemenangan Trump dan dalam pernyataan mengatakan bahwa Karakas berharap ada kesetaraan kedaulatan negara dan hak rakyat untuk memutuskan nasib sendiri ... dan hubungan bilateral diplomatik dan politik secara terhormat.

Karakas menambahkan Venezuela "merindukan" babak baru" buat wilayah mereka berdasarkan pengakuan atas identitas budaya, sosial dan sejarah negara kami dan mengenai dihormatinya non-campur-tangan dalam urusan dalam negeri".

"Kami juga berharap AS mengetahui cara menghadapi tantangan besar ekonomi, sosial dan politik yang dihadapi umat manusia. Untuk itu, tindakannya penting bagi perdamaian dan kestabilan global," kata Pemerintah Venezuela, sebagaimana dikutip Antara dari Xinhua.

Sementara itu, di Bolivia, Presiden Evo Morales mengucapkan selamat kepada Trump dan menyampaikan harapan untuk bekerjasama dengan pemerintah baru melawan rasisme dan mendukung "kedaulatan rakyat".

Di akun Twitter Morales menulis "mengucapkan selamat atas kemenangan Donald Trump. Kami berharap bisa bekerja melawan rasisme, seksisme, anti-imigrasi (dan) bagi kedaulatan rakyat kami".

Hubungan Bolivia dan AS selama ini dikenal "dingin" dan belum bisa terjalin hubungan diplomatik sejak September 2008, ketika Evo Morales mendepak duta besar AS Phillpi Goldberg dan menuduhnya mencampuri urusan dalam negeri Venezuel.

Pada masa lalu, Morales juga telah menyatakan tidak masalah siapa yang menang dalam pemilihan presiden AS, sebab "pemilik usaha dan orang kaya yang memutuskan".

Lain lagi dengan Ekuador. Pemerintah Ekuador memusatkan ucapan selamatnya kepada rakyat Amerika untuk pemilihan presiden dan anggota dewan legislatif, yang diselenggarakan pada Selasa. Namun, pernyataan dari Kementerian Urusan Luar Negeri juga menyampaikan harapan untuk bisa memelihara hubungan baik dengan presiden terpilih AS.

"Pemerintah Ekuador berharap bisa memelihara hubungan dengan landasan saling menghormati dengan pemerintah presiden terpilih," katanya.

Di Peru, Presiden Pedro Pablo Kuczynski mengeluarkan "tweet" singkat untuk mengucapkan selamat kepada Trump atas terpilihnya sebagai presiden baru AS. Namun Menteri Ekonomi dan Keuangan Alfredo Thorne menggelar jumpa pers dan menyatan ekonomi negerinya tetap stabil.

"Pasar sangat khawatir ... karena hasil yang di luar dugaan. Mereka menunggu calon oposisi (Hillary Clinton) tapi Peru sangat stabil dan kami memiliki semua perangkat untuk mengukuhkan harapan kami," katanya.

Di Kolombia Presiden Juan Manuel Santos menggunakan Twitter untuk mengatakan, "Kami merayakan semangat demokratis AS. Kami akan terus meningkatkan hubungan bilateral kami dengan Donald Trump."

Tapi pada September, Santos mengatakan kepada media asing bahwa kebijakan Trump "tidak sejalan dengan apa yang diinginkan Kolombia" dan Hillary Clinton telah menjadi "dukungan sangat besar" bagi perdamaian dengan FARC.

Baca juga artikel terkait HASIL PEMILU AS atau tulisan menarik lainnya Agung DH
(tirto.id - Politik)

Reporter: Agung DH
Penulis: Agung DH
Editor: Agung DH
DarkLight