Menuju konten utama

Ahli dari ITB Klaim RDF Plant Rorotan Aman untuk Lingkungan

Pemprov DKI memastikan keterlibatan tim akademisi dari ITB memperkuat keyakinan bahwa RDF Plant dirancang dengan kajian mendalam.

Ahli dari ITB Klaim RDF Plant Rorotan Aman untuk Lingkungan
Operator eskavator memindahkan sampah ke mesin pengolahan sampah di Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta, Selasa (25/2/2025). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/Spt.

tirto.id - Ahli Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Haryo S. Tomo, memastikan fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse-Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta Utara, aman beroperasi. Menurut Haryo, RDF Rorotan telah menggunakan teknologi pengendalian emisi modern sesuai standar nasional.

“RDF Plant Rorotan telah dilengkapi Air Pollution Control Devices (APCD) dengan konfigurasi menyeluruh untuk mereduksi polutan secara optimal,” ujar Haryo dalam keterangan pers resmi pada Senin (22/9/2025).

Haryo menjelaskan setiap perangkat pengendali dipasang berdasarkan karakteristik emisi yang dihasilkan sehingga gas buang dari RDF Plant tetap berada di bawah ambang batas yang ditetapkan pemerintah.

“Alat pengendalian pencemaran udara di RDF Plant Rorotan mengombinasikan unit-unit untuk menyisihkan partikulat, sulfur dioksida (SO₂), oksida nitrogen (NOx), dan parameter lainnya. Standar baku mutu yang ditargetkan merujuk pada Permen LHK Nomor 70 Tahun 2016,” paparnya.

Proses pengolahan di fasilitas ini dilakukan melalui pembakaran sebagian produk RDF pada suhu 800–1.000 °C. Gas panas yang dihasilkan selanjutnya melewati rangkaian penyaring, mulai dari Cyclone, Baghouse Filter, Wet Scrubber tahap pertama dan kedua, Wet Electrostatic Precipitator (Wet ESP), hingga karbon aktif sebelum akhirnya dilepaskan ke udara.

“Implementasi teknologi ini telah teruji di sektor industri lain. Bahkan pada industri smelting, efisiensi Wet ESP bisa mencapai lebih dari 98 persen,” tambahnya.

Haryo menambahkan bahwa sistem penyaring berlapis ini mampu menangkap polutan padat berukuran besar hingga mikron. Scrubber ganda bekerja menetralkan gas bersifat asam dengan reaksi kimia menggunakan natrium hidroksida. Sementara itu, karbon aktif berperan penting menyerap senyawa organik dan menghilangkan bau sehingga udara sekitar tetap bersih.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyatakan keterlibatan tim akademisi dari ITB memperkuat keyakinan bahwa RDF Plant dirancang dengan kajian mendalam.

“Sejak awal, pembangunan fasilitas ini mempertimbangkan aspek lingkungan dan kesehatan masyarakat. Meski sempat ada kendala pada uji coba pertama, kami terus berbenah dan melakukan evaluasi besar-besaran,” ujarnya.

Sebagai bentuk perbaikan, DLH menambah tiga unit deodorizer agar pengendalian bau semakin efektif.

“Deodorizer ini dilengkapi blower, Advanced Oxidation Process (AOP) dengan ozonisasi dan sinar ultraviolet, reaktor scrubber, hingga filter karbon aktif untuk menyisihkan serta menetralkan gas penyebab bau,” jelasnya.

Asep menegaskan langkah tersebut menjadi bukti keseriusan Pemprov Jakarta dalam menjamin kenyamanan warga. Ia memastikan RDF Plant Rorotan beroperasi dengan memperhatikan kaidah kesehatan dan keberlanjutan.

“Kami ingin masyarakat tidak khawatir. Semua proses perbaikan dilakukan komprehensif dengan dukungan para ahli terbaik. RDF Plant Rorotan hadir untuk menjadi solusi pengelolaan sampah berkelanjutan, bukan menambah masalah baru,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait PEMPROV JAKARTA atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Flash News
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Bayu Septianto