tirto.id - Asian Development Bank (ADB) menyiapkan pendanaan besar untuk membantu negara-negara Asia dan Pasifik membangun industri mineral kritis. Pendanaan ini diumumkan dalam Pertemuan Tahunan ADB ke-59 di Samarkand, Uzbekistan, pada 3 Mei 2026.
Presiden ADB, Masato Kanda, menekankan posisi kawasan ini tidak boleh sekadar menjadi pemasok bahan mentah.
“Mineral kritis akan membentuk era industri berikutnya. Asia dan Pasifik seharusnya lebih dari sekadar sumber bahan baku. Kawasan ini juga harus mampu meraih lapangan kerja, teknologi, dan nilai tambah yang dihasilkan dari mineral-mineral tersebut,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026).
Wadah pendanaan yang diluncurkan bernama Fasilitas Kemitraan Pembiayaan Mineral Kritis ke Manufaktur. Tujuannya mendorong negara anggota melampaui sektor tambang dan masuk ke industri pengolahan, manufaktur, serta daur ulang.
Fasilitas ini akan membiayai persiapan proyek, reformasi kebijakan, serta menarik investasi publik dan swasta di sepanjang rantai nilai mineral kritis.
Fasilitas ini terbagi menjadi dua mekanisme. Pertama, mekanisme hibah untuk studi kelayakan, penilaian lingkungan dan sosial, bantuan teknis, serta berbagi pengetahuan. Jepang sudah menyiapkan 20 juta dolar AS, sementara Inggris mengalokasikan 1,6 juta dolar AS.
Kedua, mekanisme pembiayaan katalitik untuk menarik dana patungan dan berbagi risiko. Korea Eximbank dan K-SURE menjadi mitra pertama dengan komitmen masing-masing 500 juta dolar AS.
Kanda menyebut langkah ini mendesak dan menyangkut keadilan. “Fasilitas ini mencerminkan urgensi dan keadilan: membangun rantai pasok yang bertanggung jawab sekarang, agar negara-negara anggota berkembang kami dapat bersaing dalam manufaktur canggih dan menciptakan peluang di dalam negeri,” ucapnya.
Fasilitas ini melanjutkan strategi ADB sejak 2025. Sejumlah proyek sudah berjalan, seperti manufaktur dan daur ulang baterai di India, pemetaan geologi di Mongolia, produksi logam berbasis AI di Uzbekistan, strategi mineral kritis di Kazakhstan, serta peta jalan dan reformasi regulasi di Filipina.
ADB juga sedang membangun Basis Data Mineral Kritis bersama para mitra untuk memperkuat informasi dan koordinasi kebijakan. Seluruh proyek yang didanai wajib memenuhi standar lingkungan dan sosial yang ketat.
Fasilitas ini menargetkan pemenuhan permintaan energi bersih dan teknologi digital yang terus naik, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi inklusif di kawasan.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





































