tirto.id - Perang antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel menyebabkan ketegangan terjadi di Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia. Banyak negara di Asia menganjurkan masyarakatnya untuk Work From Home (WFH) demi menghemat Bahan Bakar Minyak (BBM).
Konflik Timur Tengah memasuki hari ke-12 pada 11 Maret 2026. Namun, belum ada tanda-tanda pihak-pihak yang berseberangan akan berunding guna membicarakan gencatan senjata.
Tentu saja kondisi ini mengancam kestabilan global karena krisis pasokan minyak dunia bisa saja terjadi jika Iran terus membatasi kapal di Selat Hormuz.
Penutupan Selat Hormuz dapat meningkatkan harga energi, pupuk, dan biaya transportasi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kenaikan harga makanan dan memperburuk tekanan biaya hidup, terutama di negara-negara yang paling rentan.
Dampaknya diperkirakan akan paling terasa di Asia, yang menerima sebagian besar barang yang melewati jalur tersebut.
Daftar Negara Asia yang WFH untuk Hemat BBM di Tengah Situasi Perang
Berikut beberapa negara di kawasan Asia yang pemerintahannya telah mengeluarkan imbauan bagi masyarakat untuk menghemat BBM dengan cara bekerja dari rumah atau WFH:
1. Pakistan
Pemerintah Pakistan mengumumkan pada Selasa (10/3), bahwa pemerintah meminta 50 persen pegawai negeri sipil untuk bekerja dari rumah sebagai langkah untuk menghemat energi.Para PNS di Pakistan diminta WFH kecuali mereka yang berada di sektor penting. Selain mengeluarkan kebijakan WFH bagi PNS, kantor pemerintahan di Pakistan kini hanya akan beroperasi empat hari dalam seminggu.Operasional bank tetap buka normal.
Semua sekolah akan ditutup selama dua minggu, sedangkan perguruan tinggi tetap melakukan kegiatan belajar secara daring.
A News juga melaporkan selain kebijakan WFH, pemerintah Pakistan juga akan memotong tunjangan bahan bakar kendaraan dinas hingga setengah untuk dua bulan, 60 persen kendaraan pemerintah dikeluarkan dari jalan, dan anggota kabinet serta parlemen mengalami pemotongan gaji sementara.
Langkah-langkah tambahan lainnya juga diterapkan seperti membatasi perjalanan luar negeri yang tidak penting, melarang pembelian kendaraan baru, dan mengadakan rapat secara online.
2. Thailand Pemerintah Thailand mengambil langkah serius untuk menghemat energi akibat tekanan yang muncul dari konflik di Timur Tengah.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memerintahkan para pegawai negeri untuk mulai bekerja dari rumah, kecuali bagi mereka yang harus melayani masyarakat secara langsung.
"Perdana menteri memerintahkan bahwa mulai hari ini pegawai negeri sipil akan bekerja dari rumah," kata juru bicara Lalida Periswiwatana dikutip CNA, Selasa (10/3).
Langkah-langkah lain termasuk menangguhkan perjalanan luar negeri, menggunakan tangga daripada lift, serta mengatur suhu pendingin ruangan di kantor antara 26–27 derajat Celsius dan mengenakan pakaian santai seperti kemeja lengan pendek.
Thailand saat ini memiliki cadangan energi sekitar 95 hari, dan sedang mencari tambahan pasokan liquefied natural gas (LNG) dari AS, Australia, dan Afrika Selatan.
Sekitar 68 persen kebutuhan energi negara ini berasal dari gas alam, dengan lebih dari setengahnya diproduksi di dalam negeri dari Teluk Thailand, sedangkan 35 persen impor LNG termasuk dari Myanmar.
Pemerintah juga menghentikan ekspor energi ke negara lain, kecuali Laos dan Myanmar, serta memerintahkan pengurangan penggunaan listrik di gedung-gedung kantor dengan mematikan lampu dan peralatan yang tidak digunakan.
Selain itu, pemerintah meminta masyarakat berpartisipasi melalui penghematan energi seperti berbagi kendaraan.
"Jika situasinya memburuk, pemerintah dapat mempertimbangkan langkah-langkah wajib termasuk meredupkan papan iklan di toko, bioskop, dan bisnis serta menutup SPBU pada pukul 10 malam," tegas pemerintah Thailand.
3. Vietnam
Pemerintah Vietnam pada Selasa (10/3) juga mengeluarkan kebijakan untuk mendorong perusahaan-perusahaan di negara tersebut untuk memberlakukan kerja dari rumah guna menghemat bahan bakar.Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam juga meminta para pelaku bisnis untuk mengurangi perjalanan dan transportasi sebisa mungkin, serta menahan diri dari menimbun atau berspekulasi dengan bahan bakar.
Harga bahan bakar di Vietnam melonjak tajam sejak akhir bulan lalu. Harga bensin naik 32 persen, solar 56 persen, dan kerosin 80 persen, membuat antrean panjang kendaraan di SPBU di Hanoi.
Khawatir perang akan berlangsung lama, Pemerintah Vietnam mengambil tindakan diplomatik dan fiskal. Perdana Menteri Pham Minh Minh menghubungi negara-negara pemasok seperti Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk memastikan pasokan bahan bakar dan minyak mentah.
Vietnam juga menghapus tarif impor bahan bakar hingga akhir April untuk meringankan biaya pengadaan pasokan baru bagi negara.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





































