Menuju konten utama

Zurich Rilis Asuransi Premi Murah, Tanggung 34 Penyakit Kritis

Dengan menggandeng Danamon, Zurich yakin penetrasi produk asuransi penyakit kritis ini dapat meluas bahkan hingga ke daerah-daerah pelosok.

Zurich Rilis Asuransi Premi Murah, Tanggung 34 Penyakit Kritis
PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk (Zurich) dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk meluncurkan produk asuransi baru dalam Press Conference Perlindungan Optimal Penyakit Kritis, Menara Astra, Jakarta Pusat, Kamis (18/9/2025). Tirto.id/Qonita Azzahra

tirto.id - PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk (Zurich) dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk meluncurkan produk asuransi baru yang dapat melindungi pemegang polis dari 34 penyakit kritis.

Produk anyar ini juga sejalan dengan tujuan perusahaan yang menyasar konsumen dari kalangan masyarakat menengah ke bawah, dengan premi murah mulai dari Rp250 ribu per bulan.

“Jadi, masyarakat menengah ke bawah yang dia mengalami (penyakit jantung ringan dan berat) ini adalah hampir 22,5 juta. Itu hanya satu penyakit, sementara produk OPK (Optimalisasi Penyakit Kritis) kita ini sudah mengcover lebih dari 34 penyakit kritis,” ujar Country Manager Zurich Indonesia, Edhi Tjahja Negara, dalam Press Conference Perlindungan Optimal Penyakit Kritis, Menara Astra, Jakarta Pusat, Kamis (18/9/2025).

Dengan menggandeng Danamon yang memiliki jaringan bank di seluruh wilayah Indonesia, Edhi yakin penetrasi produk asuransi penyakit kritis ini dapat meluas bahkan hingga ke daerah-daerah pelosok. Sejalan dengan ini, Zurich berharap setiap bulan akan ada penambahan 2.500-3.000 pemegang polis dari produk asuransi OPK ini.

“Tentunya, kalau target itu tidak ada batasnya, kayak nilai minimum 2.500-3.000 polis per bulan itu bisa kita dapatkan dari sini. Sehingga, bisa meningkatkan premi-premi yang ada di benchmark sekarang,” kata Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon, Ivan Jaya dalam kesempatan yang sama.

Secara lebih luas, produk asuransi Optimalisasi Penyakit Kritis ini juga diharapkan dapat meningkatkan penetrasi pemilikan asuransi di Indonesia. Sebab, kepemilikan asuransi yang saat ini hanya sebesar 1,7 persen, masih jauh tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia yang sebesar 5,3 persen atau Thailand yang sebesar 5,5 persen.

“Premi mulai dari Rp250 ribu itu berat apa nggak sih? Itu kita sendiri yang bisa menjawab. Walaupun menurut data statistic jumlah middle income Indonesia itu menurun, namun penyebab menurunnya itu adalah salah satunya adalah untuk gaya hidup. Jadi, itu sebenarnya juga bisa kita ambil kesimpulan bahwa perencanaan keuangan secara dasar itu masih diperlukan,” tambah Ivan.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, selebriti & figur publik, Shahnaz Haque, turut membagikan pandangannya terkait pentingnya proteksi bagi keluarga dari penyakit kritis. Sebagai penyintas kanker ovarium, ia memandang bahwa saat ada salah seorang dari anggota keluarga yang terkena penyakit kritis, akan sangat mungkin membuat arus keuangan keluarga terganggu.

Pasalnya, pengobatan penyakit kritis membutuhkan biaya yang sangat besar. Belum lagi, anggota keluarga lainnya yang bertugas merawat pasien juga masih harus tetap mencukupi kebutuhan hidupnya.

“Biaya pengobatan yang besar, mulai dari konsultasi dokter hingga terapi lanjutan, dapat menguras emosi dan finansial. Oleh karena itu, menurut saya, memiliki perlindungan yang tepat, seperti asuransi penyakit kritis, sudah menjadi suatu kebutuhan yang wajib disiapkan,” tutur Shahnaz.

Baca juga artikel terkait ZURICH atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana