Menuju konten utama

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2026 Diperkirakan Melambat

Perlambatan itu disebabkan ketiadaan dorongan musiman substansial, seperti libur sekolah atau hari raya keagamaan. 

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2026 Diperkirakan Melambat
Pengunjung menikmati hidangan di salah satu tempat makan di Kuningan City Mall, Jakarta, Sabtu (13/6/2026). Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,8–6,5 persen dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027 melalui percepatan investasi, penguatan daya beli masyarakat, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter sebagai penggerak utama perekonomian. ANTARA FOTO/Fauzan/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan II 2026 akan melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang masih tumbuh di angka 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kelompok Kajian Makroekonomi, Keuangan, dan Ekonomi Politik Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB), misalnya, memperkirakan ekonomi Indonesia periode April-Juni 2026 hanya akan tumbuh di rentang 4,78-4,82 persen.

Perlambatan pertumbuhan tersebut, kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky disebabkan oleh sudah tidak adanya dorongan musiman substansial seperti libur sekolah serta libur Ramadan dan Idulfitri 2026.

Namun demikian, basis pertumbuhan tinggi di Triwulan I 2026 seiring dengan adanya libur sekolah dan libur hari besar keagamaan tersebut setidaknya membuat pertumbuhan ekonomi di Triwulan II tidak terlalu jeblok.

"Kami memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh di bawah 5 persen pada Triwulan II 2026. Beberapa faktor menjadi penyebabnya. Pertama, Triwulan II 2026 mengalami efek basis tinggi karena ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,12% (yoy) di Triwulan II 2025. Kedua, tidak ada dorongan musiman substansial di Triwulan II 2026 karena Ramadan dan Idulfitri jatuh di Triwulan Pertama 2026," jelas Riefky dalam lembar penelitiannya, dikutip Rabu (5/8/2026).

Selain itu, perlambatan ekonomi nasional di Triwulan II 2026 juga disebabkan oleh adanya guncangan eksternal besar berupa tingginya harga energi dan pelemahan rupiah yang kemudian menjadi penyebab terciptanya inflasi impor. Kondisi tersebut praktis meningkatkan biaya produksi dalam negeri.

Selain itu, keputusan pemerintah untuk menaikkan harga Pertamax turut mengikis daya beli masyarakat karena kenaikan biaya barang dan transportasi.

"Secara keseluruhan, kami memperkirakan PDB Indonesia di Triwulan II 2026 akan tumbuh sebesar 4,80 persen (yoy), rentang estimasi dari 4,78-4,82 persen, sementara pertumbuhan PDB secara keseluruhan tahun 2026 diperkirakan sebesar 5,00 persen (yoy), rentang estimasi dari 4,95-5,05 persen," ungkap Riefky.

Lebih optimis dari LPEM FEB UI, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David E. Sumual, memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II 2026 akan tumbuh di kisaran 5,1 persen. Menurutnya, banyaknya tantangan dari sisi eksternal yang membuat ekonomi Indonesia tumbuh lebih lambat di periode April-Juni 2026 tersebut.

"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Triwulan II ini 5,1 persen. Ya, sedikit turun, tapi masih okelah untuk kuartal dua," ujarnya saat dihubungi Tirto.

Namun demikian, tantangan selama Triwulan II 2026 masih dapat tertolong oleh belanja pemerintah yang masih lumayan baik. Kemudian, secara tahunan nilai ekspor juga masih tumbuh sebesar 8,84 persen menjadi US$25,46 miliar.

"Terus belanja juga, belanja masyarakat masih relatif stabil, tapi memang investasi sedikit ada perlambatan, ya. Investasi secara year on year melambat perkiraannya. Iya, soalnya tahun lalu kan lumayan kuat masih ya dari Special Economic Zone (KEK). Yang sekarang ya relatif masih flat ya mungkin karena tantangan global tadi," tukas David.

Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi