Serial Komikus Indonesia

Wid NS, Pakar Utama Komik Fiksi Ilmiah di Indonesia

Ilustrasi Wid NS. tirto.id/Sabit
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 2 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Jenuh pada komik silat, Wid NS banting setir menganggit genre adisatria yang masih jarang disentuh komikus. Bersama Hasmi membentuk tim superhero ala Marvel dan DC yang dijuluki Patriot.
tirto.id - Omong-omong soal jagad komik adisatria, warga dunia mengenal dua titan: Marvel dan DC. Ratusan adisatria lahir dari kedua studio besar itu. Layaknya boyband, Marvel dan DC juga punya grup adisatria sendiri-sendiri. Marvel punya Avengers dan DC bikin Justice League.

Pengaruh Marvel dan DC pun juga sampai di Indonesia. Sebutlah misalnya Sri Asih, adisatria pertama Indonesia ciptaan komikus R.A. Kosasih, yang bisa diasosiasikan dengan Wonder Woman. Atau sebutlah Gundala yang mirip dengan karakter The Flash.

Pun demikian, komikus Indonesia juga bikin semacam grup adisatria dengan kearifan lokal: Patriot. Ada nama Gundala, Maza, Aquanus, dan Godam mengisi line up-nya. Gundala dan Maza adalah adisatria rekaan komikus Hasmi. Sementara Aquanus dan Godam adalah ciptaan Widodo Noor Slamet atau biasa dikenal dengan nama pena Wid NS.

Hasmi, karena kepeloporannya, beroleh alias “Stan Lee-nya Indonesia”. Namun, Patriot—juga jagad adisatria Indonesia—tak akan pernah terbentuk tanpa karakter dari Wid NS. Karenanya, kedua komikus yang juga kanca kenthel ini adalah dwitunggal kreator dalam genre ini.

Meminjam kata peneliti komik Indonesia Marcel Bonneff dalam Komik Indonesia (1998, hlm. 205), “Kesamaan lain dengan Hasmi adalah kegemarannya akan fiksi ilmiah. Tokoh Godam yang diciptakannya membuatnya dianggap sebagai pakar utama di bidang yang jarang dikomikkan itu.”

Proses Kreatif

Sama seperti Hasmi, Wid juga kelahiran Yogyakarta, 22 November 1938. Pendidikan formalnya hanya diselesaikan hingga tingkat SMP. Sempat mengecap belajar di SMA PPK Yogya, namun tak diselesaikannya.

Meski begitu, bakat dan selera mengantarnya memasuki dunia seni rupa. Ia selajar membuat patung, melukis, dan menggambar secara otodidak. Ade Tanesia dalam “Wid NS: Comic Crusader” yang terbit di majalah Latitudes (2002) menyebut, semasa remaja pada 1950an Wid mulai menyukai komik. Ia membaca Sri Asih dan serial wayang R.A. Kosasih. Komik Kapten Koet karya Kong Ong juga masuk daftar bacanya.

Selain komik lokal, Wid juga kena pengaruh komik-komik negeri Abang Sam yang biasa tayang di majalah Star Weekly dan koran Keng Po. Kala itu kebanyakan komik AS di Indonesia berasal dari distributor King Feature Syndicate. Sebutlah Rip Kirby karya Alex Raymond, Phantom karya Wilson McCoy, dan serial Tarzan.

Tak puas hanya jadi pengagum karya orang lain, Wid akhirnya mencoba menggambar komik sendiri. Setelah meninggalkan SMA ia lalu mengambil pekerjaan di Jawatan Penerangan Bengkulu sebagai ilustrator.

Kesempatan terbuka ketika penerbit buku komik Cahaya Kumala, Jakarta, mengumumkan bahwa mereka menerima pengajuan manuskrip.

Seturut cerita Hasmi di Kompas (3/1/2004), komik pertama Wid adalah kisah pendekar bernama Mahesa Kumbara. Wid dan Hasmi sama-sama mencoba mengikuti arus yang populer. Kala itu dunia komik Indonesia sedang demam komik silat usai munculnya Si Buta dari Gua Hantu garapan Ganes TH.

"Tahun itu saya sudah akrab dengan Oom Wid dan Yan Mintaraga. [...] Yan Mintaraga usul kalau mau bikin komik silat. Oom Wid akhirnya mulai membuat komik silat dengan tokoh Mahesa Kumbara. Saya membuat komik Merayapi Telapak Hitam dengan tokoh Kebo Baning,” kenang Hasmi sebagaimana dikutip Kompas.

Hingga kemudian mereka bosan dan setahun kemudian ganti haluan. Sebagaimana disebut Bonneff, mereka mencoba bikin komik wirawan super. Hasmi lalu menciptakan karakter Maza dan Jin Kartubi, sementara Wid menganggit Aquanus.

Kedua sahabat ini agaknya memang ditakdirkan berbagi nasib. Bagaimana tidak, kesuksesan Wid dan Hasmi sama-sama diraih usai mereka menciptakan karakter adisatria kedua. Pada 1969, Hasmi membikin Gundala dan Wid menciptakan Godam. Adisatria yang mirip Superman dari semesta DC Comic inilah yang kemudian jadi magnum opus-nya.

“Karakter Godam diciptakan oleh Wid NS dalam kurun waktu 1969-1980 sebanyak 15 judul komik Godam. Muncul pertama kali dalam judul Memburu Doktor Setan pada tahun 1969. Genre komik adalah fiksi ilmiah dengan setting cerita digambarkan di kota Yogyakarta,” tulis Aprilia Kartini Streit dan Rudy Susanto dalam Analisa Tokoh Superhero Nusantara “Godam & Gundala Pembela Kebenaran” (PDF).

Kesempurnaan Goresan dan Eksplorasi Cerita

Karena penyakit lambung yang sudah akut, Wid NS wafat pada 26 Desember 2003. Kematiannya sangat disayangkan karena saat itu pameran karyanya hanya tinggal menunggu hitungan jam. Siapa sangka pameran karya pertama itu sekaligus jadi yang terakhir.

"Wid adalah ilustrator dan komikus yang menuntut kesempurnaan goresan," kata Hasmi memuji marhum sahabatnya sebagaimana dikutip laman Gatra.

Wid memang dikenal karena gambarnya yang detail. Ia juga sangat patuh pada kaidah perspektif untuk presisi gambar gedung dan lanskap. Garis dan bidang gelap-terang objek selalu tergambar jelas.

Juga, meski adisatria ciptaannya terinspirasi dari adisatria Amerika, Wid tak pernah lupa bahwa karakternya adalah orang Asia. Otomatis ia harus mempertahankan postur Asia itu daripada mengikut belaka pada gambaran adisatria Amerika. Ia selalu memakai perbandingan postur kepala dan tinggi badan 1:7, alih-alih perbandingan 1:8 ala Amerika.

"Itulah perbandingan khas Asia," kata Hasmi.



Selain aspek kualitas gambar Wid juga tak lupa pada segi eksplorasi cerita. Ia tak berhenti pada genre adisatria meski namanya masyhur gara-gara itu. Menurut Anton Kurnia, Wid juga dikenal piawai menganggit komik horor dengan nuansa gothic fiction yang kuat.

Dalam bukunya Buah Terlarang dan Cinta Morina: Catatan dari Dunia Komik (2017, hlm. 195-196), Anton mencatat ada tiga komik horor Wid NS yang menonjol: Anjing Setan De La Rosa (1972, 2 jilid), Pengantin Rumah Kubur (1973, 4 jilid), dan Tangan Sunthi (1976, 2 jilid).

Yang unik bagi Anton adalah Tangan Sunthi. Ia berkisah tentang gadis remaja bernama Sunthi yang dibunuh oleh komplotan kakak dan ibu tirinya. Sunthi dibunuh demi mendapatkan cincin yang tersemat di tangan kirinya. Dengan memiliki cincin itu si ibu tiri ingin menguasai harta warisan dari ayah Sunthi.

Sayangnya, cincin itu susah dilepas dari jari manis Sunthi. Tangan kiri Sunthi lantas dimutilasi. Tak dinyana sepotong tangan kiri itu jadi hantu yang lalu memburu orang-orang yang terlibat pembunuhan Sunthi.

Sekilas, bagi pembaca itu hanyalah cerita horor yang lazim. Namun, bagi Anton tangan kiri yang dimutilasi dan lalu gentayangan itu bisa jadi punya tafsir lain. Bukan sekadar kebetulan yang tak disengaja oleh Wid.

Tafsir itu dilekatkan Anton pada kaum kiri yang jadi korban pembersihan pasca G30S 1965. Kemungkinan, tangan kiri itu adalah metafora bagi kaum kiri dan keluarga mereka yang dibantai dan dikebiri haknya sebagai warga negara.

“Mereka bahkan dianggap sebagai hantu (hantu komunis) yang ditakuti karena sewaktu-waktu bisa bangkit untuk menuntut balas seperti hantu tangan Sunthi yang gentayangan membunuhi orang-orang yang pernah berkomplot mencelakai Sunthi,” tulis Anton (hlm. 199).

Baca juga artikel terkait KOMIK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight