tirto.id - Masyarakat terus mengeluh soal antrean panjang dan sulitnya mendapatkan BBM di Jember. Sejak akhir pekan lalu, antrean kendaraan mengular hingga dini hari di sejumlah SPBU. Warga bahkan terpaksa menginap demi mengamankan posisi antrean, meskipun belum tentu mendapat jatah saat SPBU buka.
Di SPBU Ahmad Yani, antrean sempat memutar hingga ke Jalan Trunojoyo–RA Kartini–depan Polres–Gatot Subroto–dan kembali ke Ahmad Yani. Ribut, seorang penjual kopi keliling yang bermukim di sekitar SPBU tersebut, mengaku mulai antre sejak tengah malam.
“Jam delapan malam saya masih jualan. Setelah itu antre, tapi jam dua belas malam SPBU-nya tutup. Padahal katanya stok masih ada, cuma petugasnya sudah kelelahan,” ujar Ribut, Selasa (29/7/2025).
Ia kembali antre pukul 01.30 WIB, tapi antrean makin semrawut. “Saya enggak nyerobot, tapi belakang saya tambah panjang. Info juga simpang siur, ada yang bilang buka jam dua, jam empat, bahkan jam delapan. Enggak jelas,” keluhnya.
Karena kelelahan, ia memutuskan tidur sambil duduk di motornya. “Sampai jam delapan pagi akhirnya dapat.”

Cerita serupa datang dari warga lain. Salah satunya Ahmad Roufin, mengaku antre dari pukul delapan pagi hingga sepuluh. “Ini sudah mendingan. Semalam antrean mobil sampai ke arah Lapas,” ujarnya.
Siang harinya, antrean di SPBU Ahmad Yani mulai surut. Jalur antrean hanya tampak dari Jalan Gatot Subroto menuju pom bensin. Agustina Yoga, warga yang berhasil mengisi BBM sekitar pukul 13.40 WIB, mengaku antre kurang dari satu jam.
“Saya baru pertama isi BBM sejak kelangkaan karena masih ngirit. Tadi antre dari jam satu sampai setengah dua,” katanya.
Sementara itu, di SPBU Sabtuan, antrean masih cukup panjang hingga sore. Rohman, warga yang mengantre di sana, mengatakan pertalite masih tersedia meskipun pertamax sudah habis.
SPBU membatasi pembelian Rp40.000 untuk motor dan Rp110.000 untuk mobil. “Hari ini antreannya enggak separah kemarin, tapi mobil yang antre makin banyak,” jelasnya.
Keluhan warga makin ramai setelah pasokan tak kunjung stabil. Banyak yang merasa informasi soal waktu buka SPBU tidak konsisten. Beberapa juga menyebut sempat melihat adanya penyalahgunaan antrean oleh pihak-pihak tertentu.
Menanggapi kekacauan ini, Bupati Jember menggelar konferensi pers di Kantor DPRD pada Senin malam (28/7/2025). Ia menyampaikan kekecewaannya atas kelangkaan BBM yang terjadi dan menegaskan bahwa urusan distribusi adalah kewenangan Pertamina, bukan pemerintah daerah.
“Ini bukan kami lepas tangan, tapi distribusi BBM memang bukan ranah pemkab. Meski begitu, kami tetap ambil langkah,” ujar Bupati.
Langkah tersebut diwujudkan lewat penerbitan Surat Edaran (SE) yang mulai berlaku kemarin. Dalam SE itu, seluruh siswa di Jember diperbolehkan belajar dari rumah untuk mengurangi mobilitas pagi hari.
Selain itu, pegawai Pemkab non-pelayanan juga diberi kebijakan bekerja dari rumah (WFA). Pemerintah juga menjamin pasokan BBM untuk ambulans tetap aman dan berkoordinasi dengan polisi untuk menekan potensi tengkulak.
Pihak Pertamina menyatakan bahwa pengiriman BBM ke Jember telah ditambah besar-besaran sejak Minggu malam. Distribusi tidak hanya dari Surabaya dan Malang, tapi juga mendatangkan armada dari luar Jawa Timur, seperti Solo.
“Volume pengiriman bahkan sudah melebihi kuota. Kami sedang fokus menormalkan situasi,” ujar perwakilan Pertamina dalam pertemuan dengan Bupati.
Pelaksanaan sekolah daring pun berjalan fleksibel. Rafinza, guru di salah satu SMA Negeri di Jember, menyebut siswa tidak diwajibkan masuk, namun jika hadir tetap difasilitasi. “Untuk sekolah negeri bisa belajar dari rumah. Sekolah swasta, sebagian masih tetap masuk seperti biasa,” katanya.
Masyarakat berharap kebijakan pemerintah dan distribusi dari Pertamina segera membuahkan hasil. Sebab antrean panjang dan ketidakpastian pasokan telah mengganggu aktivitas harian warga selama berhari-hari.
=====
Jember yang Itu adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Jember Yang Itu
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































