Tarikh

Waraqah bin Naufal, Orang Pertama yang Mengakui Kenabian Muhammad

Oleh: Ivan Aulia Ahsan - 6 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Pembacaan Waraqah atas manuskrip kuno menuntun pada satu kesimpulan tentang kedatangan nabi baru. Ia menemukannya dalam sosok Muhammad.
tirto.id - Meski Makkah dipenuhi kaum pagan, tidak semua penduduknya percaya kepada berhala. Legenda yang dituturkan turun-temurun dari nenek moyang mereka menyebut ada satu Tuhan yang disembah Ibrahim dan keturunannya lalu diteruskan nabi-nabi setelahnya. Kisah ini kemudian agak tersingkir dari pembicaraan umum karena paganisme yang begitu dominan.

Ketika Muhammad masih muda dan belum menyandang status nabi, beberapa orang Makkah masih menyimpan kisah tersebut dalam hatinya. Mereka pun terus mencari lewat jalur spiritualisme. Sebagian orang dari luar Makkah yang tinggal di kota itu atau para pengunjung Kakbah dan kafilah niaga dari daerah lain juga memeluk monoteisme yang dipercaya berasal dari Ibrahim itu. Melalui orang-orang ini, para pencari Tuhan-yang-satu mungkin banyak mendapat keterangan dan berdiskusi tentang konsep ilahi.

Di antara penduduk Makkah zaman Muhammad muda yang gelisah terhadap pemujaan berhala, yang mereka anggap seperti dekadensi teologis, ada empat nama paling menonjol. Hagiografer Muhammad paling awal, Muhammad bin Ishaq (Ibn Ishaq), menceritakan agak panjang tentang mereka.

Dalam Sirah Rasulullah yang disusun pada abad ke-8, Ibn Ishaq menggambarkan empat orang ini sebagai para hanif (bentuk jamak: hunafa; secara harfiah berarti ‘mereka yang kembali’) atau orang-orang yang mempertahankan kemurnian tauhid Ibrahim. Keempat orang itu adalah Waraqah bin Naufal, Abdullah bin Jahsy, Zayd bin Amir, dan Utsman bin Huwayrits.

Sumber-sumber tradisional Islam tidak menyebut dengan gamblang apakah Muhammad juga berdiskusi mengenai ketuhanan atau berinteraksi secara intens dengan para monoteis Abrahamik yang ada di Makkah. Dua kisah paling terkenal dan direproduksi terus-menerus tentu saja perjumpaan Muhammad kecil dengan rahib Kristen Nestorian bernama Bukhaira yang meramal kenabiannya serta perkiraan Waraqah bin Naufal tentang status profetik Muhammad.

Waraqah Mendukung Muhammad

Muhammad mengenal dekat Waraqah bin Naufal karena hubungan pernikahan. Waraqah adalah sepupu Khadijah dan mereka berdua sangat akrab. Sejak muda, Waraqah tekun mempelajari Injil dan manuskrip-manuskrip kuno Nestorian yang di antaranya meramalkan kedatangan seorang nabi baru.

Waraqah awalnya seorang penyembah berhala, sama seperti orang Makkah pada umumnya. Ia kemudian berpindah keyakinan menjadi penganut Kristen Nestorian. Reputasi Waraqah lumayan baik di Makkah karena intelektualitasnya, meski dia sering mengkritik penyembahan berhala.

Ketika Muhammad gemetaran karena mendapat pengalaman spiritual di gua Hira pada umur 40, Khadijah bertanya kepada Waraqah tentang apa yang sedang menimpa suaminya. Waktu itu Waraqah sudah berusia agak lanjut dan matanya telah setengah buta. Menurut Ibn Ishaq, Waraqah meyakinkan Khadijah bahwa suaminya kemungkinan besar seorang nabi.

“Berbahagialah, oh anak pamanku, dan tenteramkanlah hatimu. Sesungguhnya, demi Dia yang menggenggam jiwa Khadijah, aku berharap engkau akan menjadi nabi bagi kaum ini,” tutur Waraqah seperti dikisahkan Ibn Ishaq (berdasarkan terjemahan Alfred Guillaume berjudul The Life of Muhammad: A Translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah; 1955).

Waraqah juga menyatakan dukungannya kepada Muhammad. Ia seperti menemukan apa yang selama ini ia pertanyakan dari pembacaannya terhadap manuskrip-manuskrip kuno.

“Dia (Waraqah) memberi Muhammad semangat yang penting ketika Muhammad mulai menerima wahyu yang dipercayai datang dari Tuhan,” ungkap Karen Armstrong dalam Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis (2011: 78).

Dengan dorongan dan dukungan Waraqah, Muhammad mulai menepis kegelisahannya atas apa yang terjadi di gua Hira. Khadijah juga semakin mantap mendampinginya. Keterangan dari Waraqah sekaligus bisa mengurangi kekhawatiran Muhammad bahwa orang-orang Makkah akan menganggapnya juru sihir yang kesurupan.

Waraqah kemudian memperingatkan tugas kenabian akan sangat berat. Nabi-nabi besar sebelumnya, kata Waraqah, selalu tidak mendapat tempat semestinya dalam masyarakat. Menjadi nabi adalah tersingkir dan kesepian. Tapi Waraqah tetap memberi garansi: dirinya akan senantiasa melindungi dan menolong Muhammad.

Jika kisah-kisah tentang Waraqah yang diceritakan Ibn Ishaq benar, bisa dikatakan ia adalah orang pertama yang mengakui kenabian Muhammad. Waraqah konon tidak sempat memeluk Islam dan melindungi Muhammad sebagai nabi. Ia keburu meninggal tak lama sesudah peristiwa gua Hira.

==========

Pada Ramadan tahun ini redaksi menampilkan sajian khusus bernama "Tarikh" yang ditayangkan setiap menjelang sahur. Rubrik ini mengambil tema besar tentang sosok Nabi Muhammad sebagai manusia historis dalam gejolak sejarah dunia. Selama sebulan penuh, seluruh artikel ditulis oleh Ivan Aulia Ahsan (Redaktur Utama Tirto.id dan pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta).

Baca juga artikel terkait TARIKH atau tulisan menarik lainnya Ivan Aulia Ahsan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Ivan Aulia Ahsan
Editor: Irfan Teguh
DarkLight