tirto.id - Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengingatkan, Barang Milik Negara (BMN) bukan sekadar aset administratif. Lebih dari itu, BMN adalah amanah rakyat yang wajib dijaga dan dikelola dengan penuh tanggung jawab. BMN sekaligus menjadi simbol kehadiran negara dan bukti negara tidak abai terhadap rakyat kecil.
Agus Jabo menyampaikan hal itu saat menutup Pelatihan Pengelolaan BMN bagi Pengelola BMN Sekolah Rakyat Tahun 2026 di Bekasi, Jumat (8/5/2026). Pelatihan Pengelolaan BMN ini berlangsung sejak 5 Mei lalu dan diikuti oleh 332 peserta. Mereka terdiri dari 166 wakil kepala sekolah bidang sarana prasarana dan 166 pengelola BMN dari Sekolah Rakyat di berbagai daerah.
Dia menjelaskan, Sekolah Rakyat adalah program Presiden Prabowo Subianto di bidang pendidikan yang dirancang untuk memutus transmisi kemiskinan. Sejalan dengan misi Kemensos mendorong warga miskin menuju kemandirian, program ini diharapkan membantu anak-anak tidak mampu untuk hidup lebih sejahtera di masa depan.
"Mari kita memahami apa yang dijalankan oleh Pak Presiden sekarang ini, supaya di dalam kerja-kerja teknis, kerja-kerja operasional nanti, dari memulai proses pengajaran sampai mengurus persoalan teknis seperti mengurusi barang milik negara, kita betul-betul punya satu semangat kebangsaan bahwa kita bagian dari perubahan besar yang sekarang sedang dilakukan oleh Bapak Presiden," ujar Agus Jabo.
Kepada para pengelola BMN Sekolah Rakyat, Agus Jabo berpesan bahwa tanggung jawab mereka lebih dari urusan inventarisasi dan menjaga barang milik negara.
"Hari ini kita tidak sedang berbicara sekadar tentang meja, tentang kursi, gedung, kendaraan, komputer atau inventaris negara. Kita sedang berbicara tentang amanah rakyat. Tentang harapan orang-orang kecil yang menitipkan masa depan anak-anaknya kepada negara," jelasnya.
Melalui Sekolah Rakyat, anak-anak yang putus sekolah atau tidak mampu bersekolah kembali mendapat harapan. Mereka dijemput, didampingi, dan diantarkan untuk meraih cita-cita.
"Setiap bangku yang ada di sekolah rakyat, setiap lembar kasur di asrama, setiap laptop yang digunakan siswa untuk belajar, setiap piring makanan yang disajikan di dapur sekolah, semuanya berasal dari uang rakyat. Ini yang harus diperhatikan," ucap Agus Jabo.
Dia menegaskan, semua fasilitas itu dibeli dengan uang rakyat yang dititipkan kepada negara.
"Dari pajak para pedagang kecil di pasar, dari keringat buruh yang bekerja di pabrik-pabrik selama 8 jam kadang lembur, dari hasil panen petani, dari kerja keras nelayan yang berangkat sebelum matahari terbit," lanjutnya.
"Barang-barang yang kita urus nanti itu berasal dari pajak-pajak yang diambil dari saudara-saudara kita."
Agus Jabo juga menyebut petugas pengelola BMN merupakan garda depan integritas negara. "Saudara adalah garda yang memastikan setiap barang negara benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat," ujarnya.
Karena itu, ia menambahkan, rakyat menjadi pihak yang dirugikan jika aset-aset negara itu rusak. Jika aset negara lenyap karena ketidakjujuran, rakyat juga kehilangan haknya.
Dan jika terjadi korupsi dalam pengelolaan BMN Sekolah Rakyat, yang dikhianati bukan hanya negara, melainkan masa depan anak-anak miskin Indonesia.
"Jangan pernah bermain-main dengan amanah ini. Hindari segala bentuk penyimpangan, hindari manipulasi, penghilangan aset, penggunaan kepentingan pribadi, atau praktik-praktik yang mencederai kepercayaan rakyat," tegasnya.
Agus Jabo meminta seluruh peserta pelatihan untuk membangun budaya malu terhadap korupsi, memperkuat integritas, dan menjadikan diri bagian dari perubahan besar untuk kebangkitan bangsa.
"Di tangan Bapak-Ibu, semua keberlangsungan Sekolah Rakyat dipertaruhkan. Di tangan saudara, uang rakyat diamanahkan agar benar-benar kembali untuk kesejahteraan rakyat," pungkasnya.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id
































