tirto.id - Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, menegaskan Sekolah Rakyat bukan sekadar lembaga pendidikan formal. Ia menyebutnya sebagai "jembatan emas" yang jadi instrumen negara untuk memutus transmisi kemiskinan yang diwariskan antargenerasi.
Penegasan itu disampaikan Agus Jabo saat menutup Pelatihan Manajemen Pembelajaran bagi Guru dan Kepala Sekolah Rakyat Tahun 2026, di Harris Hotel Cibinong, Sabtu (25/4/2026).
"Sekolah Rakyat ini berbeda. Kita tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi menjalankan misi besar untuk memutus rantai kemiskinan. Inilah jembatan emas bagi keluarga-keluarga yang selama ini tidak memiliki harapan," ujar Agus Jabo.
Urgensi Sekolah Rakyat didukung oleh data. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 74 persen keluarga miskin hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat sekolah dasar. Di saat yang sama, sekitar 4,1 juta anak usia 7–18 tahun — atau 7,63 persen dari total kelompok usia itu — belum atau tidak lagi bersekolah. Dari angka itu, sekitar 3,79 juta di antaranya sudah putus sekolah.
Menjawab tantangan itu, pemerintah menaikkan kuota peserta didik Sekolah Rakyat tahun ini — dari semula lebih dari 15 ribu menjadi 45 ribu siswa. Namun Agus Jabo mengakui, angka itu masih jauh dari memadai.
"Kita baru bisa menyerap 45.000 anak dari sekitar 4 juta yang belum bersekolah. Ini menjadi motivasi kita bersama untuk terus memperluas jangkauan," tambah dia.
Kemensos juga mengambil langkah proaktif dengan menjemput langsung anak-anak usia sekolah yang tidak bersekolah — termasuk di Jakarta — untuk ditempatkan di 10 titik tambahan Sekolah Rakyat.
Selama ini dampak program Sekolah Rakyat tidak berhenti pada si anak. Menurut Agus Jabo, keluarga siswa pun turut merasakan dampak positif.
"Sekolah Rakyat tidak hanya mengubah satu anak, tetapi memulihkan harapan satu keluarga. Dari yang sebelumnya tidak punya harapan, kini mereka memiliki masa depan," ungkapnya.
Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk meningkatkan kolaborasi dalam menyukseskan program Sekolah Rakyat sebagai solusi pengentasan kemiskinan. “Sekolah Rakyat adalah jembatan emas. Tugas kita memastikan anak-anak dari keluarga miskin bisa menyeberang menuju masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Penghargaan untuk Peserta Pelatihan
Dalam kesempatan yang sama, Agus Jabo menyerahkan penghargaan bagi peserta terbaik selama pelatihan. Penghargaan itu merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi dan komitmen para peserta dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Sekolah Rakyat.
Penghargaan kategori guru terbaik diraih oleh Firsa Fadwatun Nafisa (SRT 19 Wajo), Vinky Audrin Sahrir (SRMP 27 Makassar), dan Melly Maulidah Fitrian (SRT 47 Malang).
Sementara itu, penghargaan kategori kepala sekolah terbaik diberikan kepada Ilza Satriadi (SRMA 1 Aceh Besar), Rifki Hakim (SRT 9 Banjarbaru), dan Muhannad Shobrin (SRMA 36 Bojonegoro).
Agus Jabo berharap penghargaan tersebut mendorong seluruh tenaga pendidik untuk terus berinovasi.
Wamensos juga menekankan peran sentral kepala sekolah dalam membangun sistem yang kuat di Sekolah Rakyat. "Kalau sistemnya baik, hasilnya juga akan baik. Kepala sekolah memegang peran penting dalam memastikan semua berjalan optimal," ujarnya.
Perwakilan kepala sekolah dari SRMA 29 Jayapura, Yanet Berotabui, mengakui pelatihan ini memberi bekal yang langsung bisa diterapkan. "Materi yang kami dapatkan akan kami bawa pulang, kami adopsi, dan kami terapkan di sekolah kami masing-masing. Ini menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak kami," katanya.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id
































