Menuju konten utama

Wamensos Sebut Sekolah Rakyat Hadir demi Putus Rantai Kemiskinan

Wamensos Agus Jabo Priyono menyebut Sekolah Rakyat menjadi harapan baru anak keluarga miskin untuk mendapat akses pendidikan dan memutus rantai kemiskinan.

Wamensos Sebut Sekolah Rakyat Hadir demi Putus Rantai Kemiskinan
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono dalam Talkshow Mahasiswa Berbicara bertajuk “Bangun Persatuan Nasional Tegakkan Pasal 33 UUD 1945” yang turut menghadirkan Fuad Bawazier, di Mattea Social Space, Jakarta Pusat. (FOTO/dok.Kemensos)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menyebut program Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih layak. Menurutnya, kehadiran program tersebut merupakan bentuk negara menjalankan amanat konstitusi dalam mewujudkan keadilan sosial.

Hal itu disampaikan Agus dalam Talkshow Mahasiswa Berbicara bertajuk “Bangun Persatuan Nasional Tegakkan Pasal 33 UUD 1945” yang menghadirkan ekonom senior Fuad Bawazier di Mattea Social Space, Jakarta Pusat pada Jumat (19/6/2026).

Agus menjelaskan, pembangunan Sekolah Rakyat berangkat dari kondisi masih banyak keluarga miskin yang menghadapi keterbatasan ekonomi untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Berdasarkan data yang disampaikan, lebih dari 76 persen orang tua menyebut faktor ekonomi menjadi hambatan utama dalam mengakses pendidikan.

“Ketika Presiden membangun Sekolah Rakyat khusus untuk masyarakat miskin, harapan itu muncul kembali. Yang sebelumnya tidak punya kesempatan, kini bisa kembali bersekolah,” ujar Agus.

Ia mengatakan, gambaran mengenai kondisi tersebut juga ia temui langsung saat melakukan kunjungan ke sejumlah daerah. Di Magelang, misalnya, Agus bertemu dengan seorang ibu yang sudah kehilangan harapan untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang SMA karena keterbatasan biaya. Kehadiran Sekolah Rakyat, kata dia, kembali membuka peluang bagi anak tersebut untuk melanjutkan pendidikan.

Di Klaten, Agus juga menemukan anak-anak yang hidup dalam kondisi sangat terbatas hingga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara di Jakarta, ia menceritakan adanya siswa Sekolah Rakyat yang memilih tidak pulang saat libur sekolah karena khawatir membebani orang tua terkait kebutuhan makan.

“Masih ada sekitar 4 juta anak yang membutuhkan akses pendidikan karena kemiskinan. Sekolah Rakyat hadir sebagai jembatan untuk masa depan mereka,” tegasnya.

Agus menambahkan, program ini bukan sekadar kebijakan pendidikan, tetapi bagian dari upaya negara dalam memutus rantai kemiskinan. Dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 ditegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan, serta bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Ia menilai pemberian akses pendidikan kepada kelompok masyarakat miskin merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam menghadirkan keadilan sosial.

“Kita negara kaya, tetapi kekayaan itu belum dinikmati secara merata. Presiden hari ini sedang menjalankan amanat penderitaan rakyat dan mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Fuad Bawazier menegaskan bahwa Pasal 33 UUD 1945 harus menjadi dasar dalam merancang berbagai kebijakan negara. Menurutnya, pembangunan dan kekayaan nasional harus dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Negara harus memastikan bahwa kekayaan dan pembangunan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat. Pendidikan menjadi kunci penting untuk menciptakan keadilan sosial,” ujarnya.

Talkshow tersebut juga mengajak mahasiswa untuk ikut mengawal berbagai kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, termasuk program Sekolah Rakyat, sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan nasional dan mewujudkan nilai-nilai konstitusi.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis