tirto.id - Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, mengakui pemanfaatan chip pada e-KTP dalam layanan publik belum diterapkan secara masif oleh kementerian dan lembaga (K/L). Minimnya infrastruktur mesin pembaca atau card reader dan ketiadaan regulasi yang mewajibkan integrasi data menjadi hambatan utama.
Menurut Bima, e-KTP sudah dibekali dengan chip yang mengandung data-data penduduk, seperti salah satunya sidik jari.
“Chip yang ada di e-KTP mengandung data seperti yang ada di tampilan fisik e-KTP, dan ada data sidik jari penduduk yang dilindungi dengan standar keamanan yang kuat,” kata Bima kepada Tirto, Jumat (24/4/2026).
“Namun, memang belum secara luas dilakukan oleh Kementerian dan Lembaga (K/L),” sambungnya.
Menurutnya, untuk bisa mengintegrasikan data yang tercantum di dalam e-KTP, diperlukan mesin pembaca kartu (card reader) yang dilengkapi oleh teknologi Secure Access Modul (SAM) atau kode kunci untuk bisa membuka kata sandi dari chip yang ada di dalam e-KTP.
Oleh karenanya, Bima mendorong seluruh kementerian/lembaga untuk mulai melengkapi sistem tersebut, agar data yang tercantum di chip e-KTP bisa diintegrasikan ke berbagai layanan publik.
“Selain itu, perlu regulasi yang komprehensif agar semua lembaga menyiapkan sistem dan infrastruktur untuk memanfaatkan teknologi yang ada pada e-KTP dan ada sanksi bagi yang tidak mematuhinya,” tegasnya.
Sebagai informasi, masyarakat melontarkan kritik kepada pemerintah terkait dengan penggunaan e-KTP yang belum optimal. Masyarakat mengeluhkan layanan publik yang masih melakukan fotokopi e-KTP, padahal kartu kependudukan itu sudah memiliki chip yang mampu menyimpan berbagai data.
Akun media sosial @davidalfasunarna di Instagram, menjadi salah satu pihak yang menyuarakan kritik tersebut. Lewat unggahan pada Minggu (19/4/2026), disebutkan bahwa Indonesia tertinggal oleh Malaysia yang telah lebih dahulu mengintegrasikan data kependudukannya dengan berbagai layanan publik.
“Indonesia menghabiskan Rp5,9 triliun buat bikin e-KTP. Ada chipnya, ada biometriknya, tapi fungsinya apa sampai hari ini? Buat difotokopi. Sementara Malaysia pakai kartu yang sama, namanya MyKad, tapi buat ngatur subsidi BBM,” tutur David dalam video yang diunggah di akun pribadinya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id
































