Menuju konten utama

Update Kasus Campak di Indonesia, Gejala, & Cara Penularannya

Simak update mengenai kasus campak di Indonesia, ciri-ciri, dan cara penularannya. Campak adalah penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi.

Update Kasus Campak di Indonesia, Gejala, & Cara Penularannya
Ilustrasi Campak. (FOTO/iStockphoto)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ramai di media sosial seorang influencer bernama Ruce Nuenda yang bepergian ke tempat umum meski sedang sakit campak. Hal ini menjadi perhatian warganet karena kasus campak di Indonesia yang masuk dalam KLB (kasus luar biasa) dan bisa menyebabkan komplikasi serius.

“Yang pada tanya kenapa, sebenernya aku kena campak gaesss,” tulis Ruce melalui Story di Instagram, yang kini sudah dihapus.

Warganet mengunggah tangkapan layar pengakuan Ruce tersebut dan protes tentang sikapnya yang tetap berkegiatan di luar rumah padahal penyakitnya itu menular.

Ruce pun telah memberikan klarifikasi berisi permohonan maaf dan mengaku tidak tahu bahaya penyakit campak dan penularannya.

Update Kasus Campak di Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyampaikan perkembangan terbaru mengenai situasi penyakit campak di tingkat nasional maupun global melalui keterangan resminya. Kemenkes menyebut masih ditemukan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di beberapa wilayah di Indonesia.

Berdasarkan data nasional, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 63.769 kasus suspek campak, yaitu kasus yang memiliki gejala menyerupai campak tetapi belum semuanya dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 11.094 kasus telah dikonfirmasi sebagai campak melalui pemeriksaan laboratorium. Selain itu, tercatat 69 kematian yang berkaitan dengan penyakit ini, dengan tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) sekitar 0,1 persen.

Pada tahun 2026 hingga minggu ke-7, telah tercatat 8.224 kasus suspek campak. Dari jumlah tersebut, 572 kasus telah dipastikan sebagai campak melalui pemeriksaan laboratorium dan terdapat 4 kematian, dengan tingkat kematian sekitar 0,05 persen.

Pada periode tersebut juga ditemukan 21 kejadian luar biasa suspek campak dan 13 KLB campak yang telah dikonfirmasi secara laboratorium. Kasus-kasus ini tersebar di 17 kabupaten atau kota yang berada di 11 provinsi di Indonesia.

Apa Saja Gejala Campak?

Mengutip situs resmi Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP), penyakit campak memiliki empat fase mulai dari awal terpapar hingga fase penyembuhan.

1. Masa Inkubasi

  • Deskripsi: fase ini terjadi setelah seseorang terpapar virus dari orang yang terinfeksi. Virus berkembang biak dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala sama sekali.
  • Periode: 10-14 hari setelah terpapar.
  • Tanda/gejala: tidak ada.

2. Fase Prodromal (Gejala Awal)

  • Deskripsi: fase ini ditandai dengan gejala yang mirip flu berat. Ini adalah masa di mana penderita paling menular.
  • Periode: 2-4 hari
  • Tanda/gejala: demam tinggi (bisa mencapai 40 derajat Celsius), batuk kering dan pilek, mata merah, berair, dan sensitif terhadap cahaya (fotofobia), bintik koplik yakni bintik-bintik putih kecil dengan dasar merah seperti garam yang muncul di bagian dalam pipi. Ini adalah tanda patognomonik (khas) untuk campak.

3. Fase Erupsi (Ruam)

  • Deskripsi: ruam kulit yang khas mulai muncul. Demam biasanya masih sangat tinggi saat ruam muncul.
  • Periode: berlangsung 5-7 hari
  • Tanda/gejala: ruam berupa bercak-bercak merah datar (makulopapular), dimulai dari belakang telinga, menyebar ke batang tubuh (dada, punggung, perut), lalu ke lengan dan kaki. Ruam dapat terasa gatal. Saat ruam menyebar, demam biasanya masih berlanjut.

4. Fase Penyembuhan (Pemulihan)

  • Deskripsi: Ruam mulai memudar secara bertahap sesuai urutan kemunculannya, dimulai dari area yang pertama kali terkena.
  • Tanda/Gejala: demam mereda, ruam berubah warna menjadi kecoklatan dan mulai mengelupas halus (deskuamasi). Batuk dan kelemahan dapat berlangsung selama lebih dari seminggu. Sistem kekebalan tubuh tetap lemah untuk beberapa waktu, membuat penderita rentan terhadap infeksi lain.

Apakah Campak Menular dan Bagaimana Penularannya?

Campak atau dalam bahasa medis juga dikenal sebagai morbili, measles, atau rubeola merupakan salah satu penyakit yang memiliki tingkat penularan paling tinggi di dunia.

dr. Dominicus Husada, seorang dokter spesialis anak, bahkan menegaskan bahwa tingkat penularan campak bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan Covid-19.

“Campak lebih menular dari COVID, karena satu anak sakit campak ini bisa menulari rata-rata 19 anak lain. Bandingkan dengan awal-awal COVID satu orang menulari dua orang, untuk varian delta, penularan satu orang bisa menulari delapan. Campak lebih berbahaya!” tegasnya dikutip situs resmi UNAIR.

Cara penularan campak antara lain:

  • Melalui percikan air liur (droplet).
  • Menghirup udara yang telah terkontaminasi virus.
  • Melalui benda yang terkontaminasi.
  • Menyentuh wajah setelah memegang benda terkontaminasi.
  • Kontak dekat dengan penderita.

Bagaimana Mencegah Campak?

Kemenkes RI menegaskan bahwa imunisasi campak-rubella (MR) merupakan langkah paling efektif untuk mencegah penularan campak.

“Pencegahan campak sangat bergantung pada imunisasi yang lengkap dan merata. Ketika cakupan tinggi dan tidak ada wilayah yang tertinggal, rantai penularan bisa dihentikan,” tegas Plt. Dirjen P2, dr. Andi Saguni.

Berikut adalah jadwal imunisasi dasar lengkap untuk bayi menurut rekomendasi IDAI dan WHO:

  • Hepatitis B dosis 0 (HB-0): diberikan dalam 24 jam pertama setelah lahir.
  • BCG: diberikan saat bayi berusia 0–1 bulan.
  • Polio oral (OPV-0): diberikan saat lahir.
  • DTP-HB-Hib (vaksin pentavalen): diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
  • Polio oral (OPV 1–3): diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
  • Polio suntik (IPV): minimal satu dosis, biasanya diberikan pada usia 4 bulan.
  • PCV (Pneumokokus): diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan.
  • Rotavirus: diberikan pada usia 2 dan 4 bulan, tergantung jenis vaksinnya.
  • Influenza: dapat diberikan mulai usia 6 bulan.
  • Campak atau MR (Measles Rubella): diberikan pada usia 9 bulan.
  • Japanese Encephalitis (JE): diberikan pada usia 9 bulan bagi bayi yang tinggal di daerah endemis.
  • Hepatitis A dan Varicella: diberikan setelah bayi berusia 1 tahun.
  • Tifoid: diberikan mulai usia 2 tahun.

Baca juga artikel terkait CAMPAK atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra