Untung-untungan Mencari Jodoh Lewat Tinder

Pernikahan Rey Utami dan Pablo [Foto/Instagram]
Oleh: Nurul Qomariyah Pramisti - 18 Oktober 2016
Dibaca Normal 2 menit
Rey Utami menemukan jodoh kayanya lewat aplikasi Tinder. Hidupnya bergelimang harta setelah itu. Namun, ada juga yang bernasib malang dan tewas setelah bertemu pacar via Tinder.
Presenter olahraga, Rey Utami sedang menjadi buah bibir. Ia menemukan jodohnya lewat aplikasi Tinder. Hanya dalam waktu 7 hari setelah berkenalan, Rey memutuskan untuk menikah dengan Pablo Putra Benua.

Rey semakin viral manakala memamerkan harta-harta pembelian sang suami. Salah satunya yang membuat heboh adalah gawai bermerek Vertu warna coklat keemasan. Telepon genggam yang katanya anti-sadap dan bisa membuat delay maskapai penerbangan itu harganya ditaksir sekitar Rp270 juta.

Seperti diberitakan Tabloid Bintang, Rey juga mendapatkan sokongan dana untuk perawatan gigi. Ia mengaku didanai suaminya hampir Rp500 juta untuk veneer gigi.

Hanya dalam hitungan hari, hidup Rey langsung bergelimang harta. Banyak yang mengatakan Rey beruntung bisa mendapatkan jodoh kaya raya nan baik hati dari aplikasi mencari jodoh. Rey tidak ambil pusing meski banyak yang menyebutkan masa lalu Pablo yang pernah gagal berumah tangga.

"Kita sama-sama dewasa. Sama-sama mau meninggalkan masa lalu di belang dan memulai hidup baru bersama," ujarnya.

Di belahan bumi lainnya, Warreina Wright mengalami nasib berkebalikan dengan Rey. Wanita berusia 26 tahun itu meninggal dunia setelah terlibat pertengkaran dengan teman kencannya, Gable Tostee yang dijumpainya via Tinder. Keduanya terlibat pertengkaran hebat setelah bertemu via Tinder. Wright yang terlihat ketakutan berjuang untuk keluar melalui balkon, tetapi akhirnya terjatuh hingga tewas. Rekaman CCTV yang dibuka di pengadilan menunjukkan pasangan itu untuk pertama kalinya bertemu di Queensland, Australia setelah chatting melalui Tinder.

Rey dan Wright bisa jadi punya nasib yang berbeda jauh. Yang menghubungkan keduanya adalah pertemuan dengan pujaan hati via Tinder, sebuah aplikasi pencari jodoh yang sedang menjadi tren.



Tinder adalah salah satu aplikasi kencan paling favorit di jagat raya. Jika dulu mencari jodoh lewat biro jodoh di koran ataupun majalah, kini seiring kemajuan teknologi, ada beragam aplikasi yang siap menjadi penghubung para pencari jodoh. Banyak aplikasi yang tersedia, salah satu yang paling terkenal adalah Tinder. Hingga sekarang, Tinder sudah diunduh lebih dari 50 juta kali.

Aplikasi ini diluncurkan pada 2012. Setahun setelahnya, Tinder mendapatkan penghargaan Best New Startup of 2013 dalam ajang TechCrunch. Hingga 2015, diperkirakan ada 50 juta orang pengguna Tinder, dengan 10 juta pengguna aktif harian.

Swipe, alias menggeser profil seseorang, adalah kunci dari Tinder. Geser ke kanan akan membuat kita menyukai profil seseorang, dan geser ke kiri untuk meneruskan pencarian. Pada 2015, Tinder mengenalkan Geser Profil Sebelumnya. Sayang, untuk memakai fitur ini, pengguna harus membayar.

Fitur ini termasuk dalam Tinder Plus. Tentu harus berbayar. Ada keanggotaan 1 bulan yang dibanderol Rp120.939. Ada juga keanggotaan 6 bulan yang harga iuran per bulannya adalah Rp77.089. Ada pula yang setahun, dengan biaya iuran Rp61.149 per bulan. Dengan berbayar ini, pengguna bisa melihat profil pengguna yang terlewat, bisa mencari jodoh hingga beda negara, dan mematikan iklan. Diperkirakan ada 500.000 pengguna yang membayar untuk Tinder Plus.

Nyaris sama seperti riset yang dilakukan PEW, pengguna Tinder kebanyakan adalah mereka yang berusia 25 hingga 34 tahun. Jumlahnya mencapai 45 persen dari total pengguna. Di bawahnya, para pengguna rentang 16 hingga 24 tahun dengan persentase mencapai 38 persen. Yang mengejutkan adalah ada sekitar 1 persen, yang berarti sekitar 500.000 orang, pengguna usia 55 hingga 64 tahun. Selain tak matematis, mencari jodoh rupanya juga tak peduli usia.

Karena kepopulerannya ini, Tinder sempat mengundang ketertarikan para investor. Pada Juli 2015, Bank of America Merrill Lynch memperkirakan valuasi Tinder sebesar 1,35 miliar dollar.

Selain Tinder, situs dan aplikasi pencarian jodoh lain yang terkenal adalah Badoo. Didirikan pada 2006 oleh wirausahawan Rusia Andrey Andreev, aplikasi ini sudah diunduh oleh 100 juta orang. Majalah TIME pernah menuliskan Badoo sebagai "...the most popular dating app in the world."

Sama dengan Tinder, ada fitur Nearby di Badoo. Dengan fitur ini, Badoo akan mencari para pengguna yang berada dalam radius dekat. Waktu saya memilih fitur ini, ada 15 perempuan yang secara jarak relatif dekat dengan lokasi saya. Selain itu ada fitur Viewed. Jadi pengguna bisa tahu siapa orang yang menengok profilnya, dan tentu menihilkan kesempatan seseorang menguntit diam-diam.

Aplikasi mencari jodoh ini ternyata tak hanya diminati oleh para bujang, tetapi juga yang sudah menikah. Pada 2015, perusahaan riset GlobalWebIndex (GWI) merilis penelitian tentang Tinder. Ternyata meski 45 persen penggunanya adalah lajang, sekitar 30 persen pengguna Tinder sudah menikah, dan 12 persen lainnya sedang dalam hubungan.

Dengan melihat statistik tersebut, tentu saja para pencari jodoh via aplikasi smartphone ini harus jeli. Para bujang tentu saja harus mencari pasangan yang “free and clear” agar tidak membuat kerumitan di masa depan. Menelusuri masa lalu pasangan adalah hal yang mutlak jika memang ingin membawa hubungan ke arah yang lebih serius. Ini penting agar jangan sampai niat mencari jodoh malah berujung maut seperti halnya Warreina Wright

Baca juga artikel terkait TINDER atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Nurul Qomariyah Pramisti & Nuran Wibisono
Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight