Tugas Berat Erick Garap Pasar Global di Tengah Pusaran Korupsi BUMN

Reporter: Selfie Miftahul Jannah - 25 Okt 2019 10:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Usai dilantik Presiden Jokowi, Menteri BUMN Erick Thohir membuka beberapa target yang ingin dicapai BUMN pada periode 2019-2024. Salah satunya adalah bermain di pentas global.
tirto.id - Usai dilantik Presiden Jokowi sebagai Menteri BUMN, Erick Thohir menetapkan beberapa target yang ingin dicapai pada periode 2019-2024. Salah satunya adalah bermain di pentas global dengan cara mengakuisisi perusahaan asing.

“Jangan kita doang yang dicaplok [perusahaan asing],” ujar Erick di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Rabu malam (23/10/2019).

Keinginan pria berusia 49 tahun ini mungkin bisa tercapai jika kita melihat latar belakangnya sebagai pengusaha yang bertangan dingin.

Beberapa tahun yang lalu, pria yang lahir di Jakarta ini sempat mengakuisisi mayoritas saham Inter Milan—klub sepakbola di Italia—dan menjadi presiden Inter Milan pada 2013. Pemilik Mahaka Grup itu juga tercatat pernah memiliki saham di klub sepak bola Amerika, DC United, dan pernah menjadi pemilik klub bola basket NBA Philadelphia 76ers.

Ini belum termasuk keberhasilan lain seperti menjadi Ketua Tim Inasgoc dalam penyelenggaraan Asean Games dan Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin.

Daya Saing BUMN Masih Lemah

Beberapa BUMN sebenarnya sudah menunjukkan eksistensi bermain di pasar internasional. PT Industri Kereta Api (INKA) misalnya, sudah berhasil mengekspor gerbong kereta ke sejumlah negara.


Ada lagi PT Wijaya Karya (Wika) yang sudah berekspansi ke Afrika Utara untuk pembangunan properti dalam beberapa tahun terakhir. Ada lagi PT Biofarma yang berhasil mengekspor vaksin ke sejumlah negara.

“BUMN perbankan juga sudah mulai menjadi Qualified ASEAN Bank, dan bisa bersaing dengan bank regional lain, terutama dari Singapura dan Malaysia,” kata Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia Toto Pranoto kepada reporter Tirto, Kamis (24/10/2019).

Namun demikian, BUMN juga memiliki sejumlah catatan yang perlu diperhatikan. Menurut Toto, BUMN seringkali tidak paham dengan kontrak perjanjian internasional, sehingga kerap mengalami dispute dan harus menanggung kerugian.

Selain itu, BUMN juga terlalu terlena dengan pasar domestik yang besar, sehingga insentif untuk memperbesar penetrasi pasar regional dan internasional juga kurang alias tidak sebesar keperluan dalam negeri.

Persoalan lainnya adalah kapasitas dan kapabilitas direksi BUMN yang ia nilai kurang memiliki jejaring di internasional. Toto menilai BUMN perlu merekrut tenaga asing berpengalaman, seperti yang kerap dilakukan Temasek, BUMN Holding asal Singapura.

“Di situ [Temasek] ada mantan CEO Royal Dutch Shell, Volvo, dan lain sebagainya, sehingga memperkuat barisan Board Temasek saat ekspansi ke global market. Ini perlu agar BUMN bisa berdaya saing,” jelas Toto.

Masih Banyak Pekerjaan Rumah

Rencana Erick memperbesar penetrasi BUMN di pasar global agaknya semakin berat manakala warisan pekerjaan rumah yang ditinggalkan Menteri BUMN sebelumnya, Rini Soemarno, juga cukup banyak.


Mulai dari program pembentukan holding sektoral dan superholding BUMN. Ada lagi, proses restrukturisasi keuangan BUMN-BUMN yang masih membukukan rugi, seperti PT Krakatau Steel Tbk. dan PT Merpati Nusantara.

Saat serah terima jabatan (sertijab) beberapa waktu lalu, Rini langsung menitipkan pekerjaan holding BUMN kepada Erick. Menurut Rini, holding BUMN ini penting agar kinerja perusahaan negara bisa lebih baik.

"BUMN ini seringkali berkompetisi dan akhirnya melemahkan kita sendiri. Tapi sekarang sudah lebih baik dan berani berkomunikasi. Yang besar mau lihat yang kecil, dan yang kecil sudah berani datang ke yang besar,” tuturnya.

Kemudian, persoalan yang sangat penting adalah masih ditemukannya pejabat-pejabat BUMN yang korupsi. Tirto mencatat sejak 2017 sampai 2019, KPK telah melakukan operasi tangkap tangan (OTT) kepada tujuh direktur BUMN.

KPK pernah meng-OTT tiga pejabat PT PAL Indonesia, dan langsung ditetapkan sebagai tersangka kasus gratifikasi Juli 2017. Salah satu yang ditangkap adalah Direktur Utama PT PAL.

Pada 2018, KPK menetapkan Dirut PT Asuransi Jasindo Budi Tjahjono sebagai tersangka. Dalam OTT KPK, Budi diduga menerima imbalan sebesar Rp15 miliar dalam pengadaan Asuransi Oil and Gas pada BP Migas pada KKKS 2010-2012 dan 2012-2014.

Pada Maret 2019, KPK juga melakukan OTT terhadap Direktur Teknologi dan Produksi PT Krakatau Steel, Wisnu Kuncoro. Dia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap pengadaan barang dan jasa di PT Krakatau Steel.


Kemudian ada pula kasus Dirut PLN Sofyan Basir yang tertangkap dalam kasus OTT KPK sebagai tersangka atas kasus dugaan suap yang terjadi di proyek PLTU Mulut Tambang Riau-1.

Kasus lain, KPK menangkap Dirut PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) Darman Mappangara dalam proyek bagasi bandara. Kasus ini turut menyeret Direktur Keuangan PT Angkasa Pura II Andra Agussalam.

Ada pula Direktur Utama Perum Perikanan Indonesia (Perindo) Risyanto Suanda yang ditangkap KPK dalam OTT pada September 2019. Risyanto menjadi tersangka atas dugaan menerima suap dalam impor ikan di Perindo.

Kepada wartawan, Erick juga sempat menyinggung soal korupsi ini. Anak Mochamad Teddy Thohir ini berjanji akan memperbaiki sistem dan mencegah segala potensi korupsi.

“Saya background-nya swasta. Alhamdulillah saya telah berikan suatu yang lebih buat saya. Ya mungkin sudah waktunya saya juga bersih-bersih [di BUMN]," kata Erick.

Baca juga artikel terkait MENTERI BUMN atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Ringkang Gumiwang

DarkLight