tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa dirinya bakal mengambil alih Kuba di tengah krisis energi yang tengah melanda negara tersebut di tengah blokade minyak yang diberlakukan Washington.
Pernyataan itu diutarakan Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin (16/3/2026). Menurutnya, persoalan antara AS dan Kuba telah berlangsung lama dan Trump ingin menyelesaikannya dengan pengambil-alihan wilayah.
"Saya yakin saya akan... mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba," tutur Trump, dikutip dari Al Jazeera.
"Apakah saya membebaskannya, mengambilnya–saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya [Kuba]," kata Trump.
Dalam keterangannya, Trump juga menyebut negara yang merdeka dari jajahan Spanyol dan AS Pada 1902 itu kini berada dalam situasi krisis yang memburuk.
"Anda ingin tahu yang sebenarnya. Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini," kata Trump.
Kuba Alami Krisis Listrik Parah
Trump mengungkapkan pernyataan pengambilalihan Kuba di saat negara merdeka itu mengalami pemadaman listrik total. Krisis listrik akibat tak adanya pasokan minyak dan komoditas energi terus meluas.
Union Nacional Electrica de Cuba (UNE), otoritas jaringan listrik di Kuba, mengumumkan bahwa "penutupan total jaringan listrik nasional" telah diterapkan, membuat negara berpenduduk 10 juta jiwa itu hidup tanpa listrik.
Kementerian Energi dan Pertambangan Kuba juga mengumumkan "pemutusan total" system kelistrikan negara melalui akun X resmi mereka.
Kantor berita pemerintah Kuba, menyebut bahwa pemerintah tengah berusaha memulihkan aliran listrik di negara tersebut dan baru berhasil memulihkan listrik ke 5 persen penduduk Havana, atau sekitar 42.000 pelanggan.
Pemadaman listrik dengan skala besar ini merupakan yang ketiga di Kuba selama empat bulan terakhir. Jaringan listrik Kuba dilaporkan memang sudah tua dan mengalami erosi yang drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Akan tetapi, blokade energi AS di bawah pemerintahan Trump telah membuat Havana dilanda krisis. Trump telah menyatakan bahwa ia akan memberikan sanksi berupa tarif importasi bagi siapa pun negara yang memasok minyak ke Kuba.
Keputusan itu diumumkan Trump pada Januari lalu, sejak itu pula tak ada impor minyak ke Kuba setelahnya.
Blokade yang dilakukan Trump itu disebutnya merupakan bagian dari upaya mempertahankan keamanan nasional karena Kuba dianggapnya sebagai ancaman bagi AS.
Akan tetapi, Trump juga berulang kali menyebut keinginannya untuk melakukan perubahan rezim di Kuba yang dipimpin Komunis.
Langkah yang dilakukan Trump itu kemudian menyebabkan krisis yang dialami Kuba meluas dengan cepat. Tanpa pasokan energi, rakyat Kuba tidak memiliki bahan bakar dan pada akhirnya makanan hingga obat-obatan.
Awal Maret, Kuba telah mengalami pemadaman di dua pertiga wilayah mereka, mayoritas di wilayah bagian tengah dan barat.
Akhir pekan lalu, unjuk rasa pecah. Para pengunjuk rasa melakukan protes di Partai Komunis Kuba dan membakarnya sebagai tanda frustrasi.
Di tengah situasi itu, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel telah mengonfirmasi bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan pemerintahan Trump.
Tak lama setelah konfirmasi itu, Diaz-Canel membuat pernyataan pada Senin untuk mengajak warga Kuba-Amerika dan para pengungsi lainnya di luar negeri untuk berinvestasi dan berbisnis di pulau tersebut.
Wakil Perdana Menteri Oscar Perez-Oliva Fraga juga memberikan keterangan bahwa Kuba akan memberikan hak guna pakai untuk pengembangan proyek bisnis untuk menarik investasi warga Kuba di luar negeri.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































