tirto.id - Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki hari ke-6 dan Presiden AS Donald Trump kini mengungkapkan keinginannya untuk mengganti rezim di Kuba. Trump menyebut dirinya akan melakukan tindakan di Kuba setelah menyelesaikan perang melawan Iran.
Menukil Al Jazeera, pernyataan itu diungkap Trump pada Kamis (5/4/2026). Di Gedung Putih, Trump memuji pekerjaan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio karena telah melakukan "pekerjaan fantastis" di Kuba, yakni memperketat sanksi yang menekan perekonomian pulau tersebut.
"Apa yang terjadi dengan Kuba sungguh luar biasa. Dan kami pikir, kami ingin menyelesaikan yang satu ini [Iran] terlebih dahulu. Tapi itu hanya hanya masalah waktu," kata Trump.
Ini merupakan ancaman terbaru Trump terhadap Havana. Sebelumnya, Trump selalu menyatakan bahwa Kuba merupakan ancaman bagi AS dan pemerintahan komunis di negara itu perlu digulingkan.
Ancaman dan intervensi AS di Kuba makin intensif setelah AS menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal Januari lalu.
Venezuela merupakan pemasok utama minyak di Kuba selain Meksiko. Penculikan Maduro membuat jalur importasi minyak di Kuba terhenti. Trump memutus jalur ekspor minyak Venezuela ke Kuba. Pemerintahannya juga mengancam sanksi kepada negara mana pun yang menjual minyak ke Havana.
Selain kembali mengancam Kuba, pernyataan Trump pada Kamis juga berisi klaim kesuksesan intervensi militer AS di seluruh dunia. Trump berujar, pasukan militer yang ia bangun selama masa kepresidenan telah berhasil memajukan prioritasnya di seluruh dunia.
"Saya telah membangun dan membangun kembali militer pada masa jabatan pertama saya, dan kami menggunakannya, lebih dari yang saya inginkan, jujur saja, tetapi ketika kami menggunakannya, kami telah menemukan bahwa itu memang berhasil,” kata Trump.
Ekonomi Kuba Menuju Kehancuran
Blokade minyak secara de facto di Kuba oleh Trump membuat perekonomian Havana kini selangkah lebih dekat dengan kehancuran. Tanpa BBM, negara itu kini dilanda krisis energi yang memprihatinkan.
Sebelum blokade berlangsung, Kuba menjadikan industri pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi mereka. Banyak penduduk membuka usaha di bidang-bidang terkait pariwisata seperti restoran dan penginapan.
Akan tetapi, blokade minyak oleh AS telah membuat perekonomian Kuba kelimpungan. Kelangkaan energi di Kuba membuat negara itu tak bisa lagi menghidupkan industri pariwisata mereka.
Kebutuhan akan listrik dan BBM merupakan hal yang esensial dalam industri pariwisata. Tanpanya, jaringan transportasi lumpuh, fasilitas dasar hotel tak berfungsi, restoran tak bisa bekerja secara optimal, dan bahkan rumah sakit tak bisa bekerja secara penuh.
Akibat blokade minyak, hostel, penginapan, dan hotel milik negara maupun penduduk secara swasta menghadapi lonjakan pembatalan.
Krisis energi di Kuba membuat bandara-bandara internasional di sana tak lagi bisa memberikan bahan bakar untuk pesawat yang hendak lepas landas. Penerbangan ke Kuba kini jadi penerbangan searah tanpa bisa kembali karena tak ada bahan bakar.
Penjualan BBM untuk kendaraan darat kini dipatok dengan kuota per kendaraan. Satu kendaraan hanya boleh membeli BBM maksimal 20 liter. Sementara itu, harga BBM di pasar tak resmi telah melonjak hingga 400 persen.
Kantor-kantor pemerintahan di Kuba juga berangsur mulai berhenti beroperasi. Banyak pegawai sektor negara telah diminta untuk bekerja secara jarak jauh. Jam operasional mingguan sejumlah kantor dipangkas hanya empat hari perminggu demi menghemat energi.
Menurut ekonom Kuba Daniel Torralbas, blokade AS telah menghantam banyak sektor yang bergantung langsung pada bahan bakar, seperti transportasi dan industri. Namun, semua bisnis pada akhirnya akan terdampak, baik swasta maupun milik negara.
"Tahun ini mungkin akan menjadi salah satu tahun terberat bagi perekonomian Kuba sejak revolusi," kata Torralbas.
Torralbas pesimis ekonomi Kuba dapat membaik. PDB Kuba telah menyusut sebesar 15 persen selama lima tahun terakhir. Indikator harapan hidup, angka kematian bayi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat terus memburuk.
“Mengingat keseriusan situasi ini, tidak ada cara untuk pulih tanpa perubahan struktural. Kita membutuhkan bahan bakar, makanan, dan mata uang asing," katanya.
"Dan tidak ada penyelamat eksternal yang akan datang untuk menyediakan semua yang dibutuhkan Kuba — bukan Cina, bukan Rusia, dan tentu saja bukan Venezuela, yang telah banyak berubah sejak 3 Januari,” tambah Torralbas.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































